Tampilkan postingan dengan label politics. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politics. Tampilkan semua postingan

Rancang Bangun Tucuxi Dahlan Iskan


Tucuxi Dahlan Bukan Buggati Apalagi Ferrari!

Danet Suryatama, sosok di balik perancang Tucuxi, merupakan jebolan ITS yang kemudian bersekolah lagi di Michigan, AS. Dia pernah bekerja selama 10 tahun di perusahaan mobil terkenal di Amerika yakni Chrysler.

Mobil dengan estimasi prospek penjualan seharga Rp 1, 5 miliar ini merupakan kendaraan listrik level atas. Pasalnya dilihat dari beberapa sedikit spesifikasi Tucuxi, kecepatan lajunya mencapai kurang lebih 200 km/h.

 
Tucuxi

Electric car ini memiliki desain bodi yang unik dan terlihat sporty, dengan atap mengkurva dan rumah roda gemuk. Dilengkapi pula dengan ban profil tipis dan lebar plus velg lebar khas sebuah sports car. Memiliki buritan yang sama persis dengan desain bumper depan, seakan-akan mobil simetris (depan-belakang).

Fenomena yang muncul dan terdengar ganjal adalah ketika sebelum dan sesudah mobil listrik ini jadi, banyak orang bahkan media berita menyebutnya dengan nama Ferrari dan Buggati Veyron. Jika hal tersebut merupakan salah satu strategi pengenalan mobil listrik di Indonesia, mungkin sah-sah saja. Namun ada baiknya penyebutan nama lain harus memandang sebagian besar faktor kesamaan.

Sebenarnya ada mobil Jepang yang secara fakta memiliki detail desain yang punya kesamaan lebih banyak dibanding dengan Ferrari dan Buggati. Mobil konsep ini adalah Lexus 2054 dalam film futuristik ‘Minority Report’ yang dibintangi Tom Cruise pada tahun 2002.

 
Lexus 2054 dan Tucuxi

Mungkin bisa dikatakan bahwa sang kreator Tucuxi sebelumnya sudah pernah melihat Lexus 2054 ini, sehingga menjadi referensi desainnya. Dari segi desain bodi Tucuxi dan Lexus 2054 memiliki banyak kesamaan antara lain bentuk Lexus 2054 juga elips (bulat), mengkurva, memiliki desain dan bahan atap dari kaca dengan posisi bumper depan yang ‘pesek’. Bedanya pada Lexus 2054 tidak nampak grill seperti pada Tucuxi.

 
Tucuxi dan Lexus 2054

Selain itu jika dilihat dari kaca pintu mobil juga sama-sama berdesain lebar dan mengerucut (meruncing) ke belakang, berbeda dengan mobil pada umumnya. Penempatan kaca spion juga jika diperhatikan sama persis, bentuknya pun bisa dikatakan sama persis dengan desain ramping dan runcing. Belum lagi desain pintu yang sama-sama meniru teknologi pintu ala Lamborghini (bukaan pintu ke atas).

Lantas ketika Tucuxi disebut dengan nama Buggati bahkan Ferrari, menjadikan hal yang aneh. Apalagi ketika kita membandingkan Tucuxi dengan kedua model mobil sport tersebut. Pasalnya hanya segelintir kesamaan saja yang ada pada Tucuxi. Mungkin salah satunya adalah warna merah yang identik dengan Ferrari, sedangkan Buggati mungkin dari segi grill atau sedikit aspek bodi (sedikit elips).

Faktanya selama ini Ferrari tidak pernah menciptakan mobil modern (sport car) dengan desain bodi yang gemuk (elips). Hal ini dikarenakan mobil-mobil cepat mereka sangat mempertimbangkan aspek aerodinamika guna menunjang performa dan kesan spoty. Garis-garis tajam selalu melekat pada setiap mobil ciptaan Ferrari. Lantas apa hanya karena warna merah saja yang sama?

'
Tucuxi dan Buggati Veyron

Ketika beralih ke Buggati, tepatnya Veyron, memang Buggati juga pernah memproduksi varian ini dengan warna merah, melengkapi versi warna putih. Desain grill Buggati lebih berbentuk setengah lingkaran, sedangkan Tucuxi berbentuk segitiga. Desain bumper depan dan belakang meruncing, tidak nampak sebuah kesimetrisan, lain halnya yang ada pada Tucuxi yang simetris (bulat). Lantas apa yang membuat Tucuxi mendapat sebutan Buggati?

 
Lexus 2054, Tucuxi dan Buggati Veyron

Masalah sebutan memang hal yang sepele, namun penjelasan fakta-fakta yang ada akan lebih penting daripada hanya sebuah sebutan yang asal-asalan. Alangkah lebih lagi jika kita menyebutnya dengan nama Tucuxi, mengingat sudah menjadi nama sesungguhnya.

Arti nama Tucuxi juga menjadi bahan pembicaraan banyak masyarakat Indonesia. Menurut Danet, nama Tuxuci diambil dari nama ikan lumba lumba yang langka dari Amerika. “Ya bisa juga diartikan ‘Tuku sih’, yang dalam bahasa Jawa artinya ‘beli dong’.”
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !


Perang Dunia II Dimenangkan Hitler I !



Bayangkan jika tiba-tiba anda tidak mampu lagi bernafas karena otot dada dan paru-paru menegang. Air liur, lendir terus mengalir dari mulut dan hidung anda, bahkan seluruh tubuh anda menggigil hebat disertai keringat yang mengucur deras.

Pandangan pun tiba-tiba kabur karena lubang pupil mata anda mengecil hingga seujung jarum. Pusing dan rasa mual yang hebat mengiringi penderitaan anda bahkan ketika anda sangat tersiksa ingin menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.

Saat itu anda sudah tidak bisa lagi menggerakkan seluruh tubuh anda, tangan, kaki, kepala, leher terasa sangat kaku tanpa bisa digerakkan sedikitpun. Lalu 6 menit kemudian, anda merasakan sekarat yang hebat dan.............kematian pun menjemput.



TABUN, itulah senyawa kimia berbahaya warisan Perang Dunia II yang DICIPTAKAN OLEH ILMUWAN JERMAN pada era 1930an. Seseorang yang terkena tetesan TABUN seukuran ujung jarum dapat meregang nyawa dalam waktu 3-6 menit.

Begitu dahsyatnya efek senyawa kimia ini hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa melabelkannya sebagai salah satu SENJATA PEMUSNAH MASSAL (Weapons of Mass Destruction, Chemical Weapons Convention 1993) yang haram bagi negara mana pun untuk memproduksi, menggunakan, dan menyimpannya. Hal ini menjadikan TABUN sejajar dengan senjata pemusnah massal lain seperti Bom Nuklir.

Namun, tahukah anda bahwa senjata super-mematikan ini sama sekali TIDAK PERNAH digunakan Jerman dalam Perang Dunia II (1939-1945) melawan Sekutu ??






2. Perang Dunia II dan Perkembangan Teknologinya

Perang Dunia II merupakan perhelatan akbar penghancuran umat manusia yang kedahsyatannya belum pernah disaksikan sang waktu sebelumnya. Puluhan juta manusia terbunuh dalam rentang waktu yang sangat singkat, kota-kota besar rata dengan tanah, rusaknya lingkungan hidup dan tatanan sosial, merebaknya penjarahan, pembunuhan, pemerkosaan, hancurnya negara-negara adidaya, dan menyebarnya paham ideologi menyimpang.

Sewajarnya, Perang Dunia II menjadi katalis dan kawah candradimuka perkembangan teknologi dan sains militer saat itu. Amerika, Jerman, Inggris, Jepang, dan Soviet berlomba untuk menciptakan mesin perang paling handal yang mampu melibas lawan tanpa ampun.

Mesin perang modern berkecamuk di udara dalam bentuk pesawat pengebom, pesawat pemburu, dan bom missile; di permukaan laut dalam bentuk Battleships, Destroyer, dan kapal induk pesawat; di bawah laut dalam bentuk Kapal Selam; dan di darat dalam bentuk tank, artileri, dan infantri mekanis.



Menariknya, Jerman adalah negara yang paling inovatif dalam mengembangkan teknologi militernya pada Perang Dunia II. Sejarah mencatat bahwa Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler mampu menjadi sebuah negara besar yang tidak hanya unggul di ranah politik hubungan internasional, ekonomi, sains dan teknologi, namun juga unggul dalam angkatan bersenjata dan perkembangan teknologi militer.

Berbagai penemuan revolusioner dihasilkan oleh para ilmuwan Jerman yang kemudian diaplikasikan dalam bidang militer, antara lain:

Pesawat jet pertama di dunia yang kemudian dikemas dalam pesawat pemburu Messerschmitt Me-262.



Pesawat siluman pertama di dunia yang mengaplikasikan teknologi flying wing dan carbon coating untuk menghindari deteksi radar (Horten Ho 229).



Pesawat VTOL pertama di dunia dalam bentuk helikopter (Flettner Fl 282 Kolibri).



Riset bom nuklir pertama yang menggunakan heavy water (jauh sebelum proyek Manhattan Amerika, namun akhirnya gagal karena sabotase).



Rudal roket pertama di dunia yang menginspirasi penerbangan luar angkasa Amerika Serikat (A-1 bombs, V-1, V-2).



Hingga senjata kimia pemusnah massal yang sangat efektif dan berbahaya sehingga memungkinkan Hitler untuk memenangkan Perang Dunia II jika saja dia menggunakannya: TABUN. 3. Tabun? Ya, TABUN. Sebuah senyawa kimia yang jernih tidak berwarna, mudah menguap, berbau buah, namun amat-sangat beracun ini adalah hasil penelitian "tidak sengaja" oleh seorang Ilmuwan Jermanbernama Gerhard Schrader pada bulan Januari 1936.



Pada awalnya Gerhard melakukan riset untuk mengembangkan insektisida (obat anti hama/serangga) kepada perusahaan IG Farben. Insektisida yang fungsinya melumpuhkan sistem syaraf serangga itu ternyata juga mampu menghancurkan sistem syaraf manusia dalam sekejap.

Sebagaimana peraturan di Jerman kala itu, semua hasil riset yang memiliki potensi militer agar diserahkan kepada pemerintah. Perwakilan dari IG Farben pun dipanggil menghadap ke Berlin untuk menunjukkan efektivitas Tabun dalam bidang militer. Akhirnya, riset dan produksi Tabun untuk menjadi senjata kimia pun dilakukan besar-besaran.



Sebagaimana senjata "ajaib" dalam perang, proyek Tabun ini benar-benar dirahasiakan keberadaannya sehingga negara-negara Sekutu pun tidak mengetahui secuil pun tentang Tabun apa lagi bagaimana mempersiapkan diri dan counter-attack terhadap senjata kimia ini.

Kedahsyatan TABUN sebagai senjata kimia sudah tidak diragukan lagi. Satu tetes kecilnya, jika tersentuh oleh kulit manusia, maka dapat dipastikan orang itu akan mati dalam 6 menit kedepan.



Bayangkan jika senjata ini digunakan dalam Perang global, di mana terdapat ratusan ribu tentara dalam satu front pertempuran, padahal Jerman kala itu (medio 1943) sudah mampu memproduksi 12000 ton TABUN.



Keefektifan TABUN sebagai senjata pemusnah massal pun jauh melebihi Bom Nuklir yang gemar dibahas oleh negara Sekutu kala itu. Bom nuklir memang memiliki efek destruktif yang sangat besar, namun dengan efek kehancuran yang besar itu juga terjadi collateral damage yang besar pula, antara lain efek radioaktif nuklir berpuluh-puluh tahun yang menimbulkan penyakit genetik, kehancuran lingkungan dan bangunan perkotaan.



Berbeda dengan TABUN yang hanya membunuh manusia (dan serangga), sehingga penggunaannya sangat efektif dan spesifik. Apalagi TABUN adalah senyawa yang sangat mudah menguap dan terurai di udara sehingga tidak terjadi efek buruk lingkungan setelah serangan dilakukan.



Lihat yg lebih 'menarik' di sini !


Fakta yg benar ttg "Perda Ngangkang"

Berita tentang Aceh selalu seksi. Sebab Aceh adalah serambi Mekkah yang dengan otonomi khusus dan keistimewaannya telah mendeklarasikan diri sebagai provinsi yang melaksanakan syariat Islam. Memang faktanya selalu ada upaya menyudutkan syariat Islam yang diformalisasikan menjadi hukum positif. Sedikit saja ada kebijakan baru, lantas berbondong-bondonglah wartawan dari berbagai penjuru untuk meliputnya, namun dengan angle yang diskriminatif: HAM.

Bagaimana tidak? Setiap berita tentang sesuatu yang bernuansa syariah, pastilah media-media ini dengan cepat melakukan investigasi dan menguliti peristiwanya dengan kacamata mereka. Maka ini melanggar kebebasan, ini mengekang perempuan, itu menodai HAM dan itu mencederai domokrasi. Begitulah kilahnya.

Sampai akhirnya ketika kemarin "Ngangkang Style" menjadi salah satu trending topic nasional. Pasalnya adalah apa yang disebut para wartawan sebagai "perda syariah tentang larangan duduk mengangkang di sepeda motor" yang akan diterapkan oleh Walikota Lhokseumawe kepada seluruh warganya. Sampai koran The Jakarta Post menjadikannya salah satu topik utama. Media asing semacam BBC pun tak mau ketinggalan memberitakannya. Heboh sekali, bukan?

Namun lihatlah dengan jujur. Yang ada hanyalah upaya merorong Islam. Pemberitaan yang berseliweran di media tak memenuhi asas cover both side. Narasumber berita hanya berasal dari kelompok yang kontra peraturan tersebut. Kalau tidak aktivis NGO HAM, ya aktivis Komnas Perempuan. Nanti, agar seolah-olah mengcover posisi ulama, sebagai reprentasi muslim diwawancarailah para "cendekiawan muslim" seperi Ulil Abshar Abdalla dan Siti Musdah Mulia. Ya wajar saja mereka menolak, wong mereka memang anti formalisasi syariah. Wong mereka memang dari kalangan liberal yang menolak ajaran agama sebagai sumber hukum.

Sampai tadi malam, dalam acara Debat di Kabar Petang TV One membahas kembali tema itu dengan judul provokatif, "Perda Syariah, Siapa Resah?". Dihadirkanlah Yenni Wahid dari Wahid Institute, Neng Dara Affiah dari Komnas Perempuan, Jazuli Juwaini anggota DPR RI FPKS dan Kapuspen Kemendagri. Kalau pejabat Kemendagri sudah pasti jawabannya standar. Semua ada prosedurnya. Nanti kita akan konfirmasi, klarifikasi dan seterusnya. Okelah.. Memang begitu aturannya.

Nah, yang bikin geli adalah kekoplakan dalil pengasong liberalisme seperti Yenni, Dara dan sejumlah hadirin yang sengaja dihadirkan seperti Ulil Abshar, Siti Musdah Mulia serta sejumlah aktivis HAM. Dalam debat itu, semua dalih mereka dimentahkan. Yang buat istilah "Perda Syariah" siapa? Itulah taktik liberalis mengelabui orang awam dengan permainan istilah. Padahal tak ada Perda Syariah. Hanya LSM komprador yang mendapat kucuran dollar dari Barat yang setia menggunakan terma ambigu semacam itu.

Lalu, muncul lagi pernyataan bahwa perda ini "diskriminatif terhadap perempuan". Secara telak, Mahendradata memukul statement koplak ini. Apa dulu definisi diskriminatif itu? Apa itu diskriminasi? Toh perempuan dan laki-laki secara kodrat memang berbeda. Apakah setiap perbedaan itu disebut diskriminasi? Kalau begitu kebijakan cuti hamil 3 bulan itu diskriminatif, dong? Soalnya laki-laki tidak mendapat hak yang sama. Kalau begitu diskriminatif juga dong panitia acara yang hanya memberi makan malam pada pembicara, namun tidak kepada peserta? Para hadirin hanya bisa tersenyum dan tertawa seraya bertepuk tangan atas kalahnya dalih koplak kaum liberalis.

Selain itu, muncul juga istilah "perda kontroversial". Lagi-lagi Mahendrata meluruskan kesesatan istilah tersebut. Yang dimaksud kontroversi itu apa? Apakah satu dua orang tidak setuju, sementara ribuan yang lain setuju lantas disebut kontroversial? Mati kutu. Begitulah kaum liberalis tak bisa menjawab. Lantas Siti Musdah Mulia mengalihkan pembicaraan, ia yang awalnya tak setuju syariah di awal debat berubah pikiran. Namun setelah kalah debat, ia mengubah strategi. Larikan tema pembicaraan. Dan saya sudah menduga dia dan juga Ulil akan bertanya, "Oke, syariat Islam. Tapi syariat Islam yang mana? Islam menurut siapa? Karena setiap agama memiliki interpretasi yang tidak tunggal." Duh.. Cape deh. Ini alasan yang gokil banget. Khas pemuja relativisme yang anti kebenaran. Khas orang-orang yang malas berdiskusi.

Yang lebih lucu adalah saat Yenni Wahid di pengujung acara mengatakan kalau kodrat perempuan hanya 4 yaitu menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. " Di luar itu, laki-laki dan perempuan semuanya sama," pungkasnya. Oke, tentu saja semua sepakat laki-laki dan perempuan harus adil dalam pembagian hak dan kewajibannya. Sebagai Muslim, pedoman pembagian hak dan kewajiban juga sudah tegas dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi. Jadi sah-sah saja kalau umat Islam menggunakan ajaran agamanya sebagai patokan hukum. Perempuan dan laki-laki sama-sama boleh mendapat pendidikan oke, sama-sama boleh berkerja oke, sama-sama mendapat kesempatan politik juga tidak masalah. Namun jangan sampai atas nama kesetaraan, lantas aktivis yang mengaku “membela kepentingan perempuan” menggugat ajaran agama. Jangan aturan menutup aurat dituduh mengekang kebebasan. Jangan larangan berkhalwat difitnah memasung hak asasi.

Semua pernyataan Yenni ini sebenarnya di awal sudah dimentahkan oleh Jazuli Juwaini dan Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia. Juga fitnah soal Indonesia bukan negara agama. Kata Jazuli, memang kita bukan negara agama, kita sepakat dengan itu. Namun kita juga bukan negara sekuler. Kita tidak anti agama. Tidak boleh negara memberangus ajaran agama. Apalagi konstitusi kita Pancasila, menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa. Ismail Yusanto menambahkan, dalam ajaran Islam, kewajiban syariat Islam hanya berlaku untuk umat Islam, sementara untuk yang beragama lain tetap diberikan kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Jadi, tidak ada diskriminasi dan pemaksaan seperti yang selalu digembar-gemborkan media.

Uniknya, Yenni Wahid dalam acara itu membuat perumpamaan yang sempat mendapat aplaus hadirin. Dia mengkritisi perda-perda yang mewajibkan perempuan menutup aurat. Katanya, yang kotor itu adalah otaknya laki-laki. “Masa’ melihat perempuan ngangkang di sepeda motor bisa merangsang birahi?” Dia mencontohkan negara-negara Arab yang perempuan menutup aurat namun tingkat perkosaannya nomor wahid, mengalahkan negara Eropa yang perempuannya buka-bukaan. Sedihnya, pernyataannya ini adalah kedustaan belaka. Entah dia sadar atau tidak. Ustadz Abdullah Haidir,Lc sebagaimana dikutip fimadani.com mengatakan, “Berdasarkan statistik resmi, negara papan atas kejahatan perkosaan terhadap warganya justru diduduki oleh negara-negara Eropa. Bagaimana dengan Arab Saudi? Dari 116 negara yang diteliti, Arab Saudi justru berada di peringkat terbawah di posisi 115.” Cek saja sumbernya di http://www.nationmaster.com/graph/cri_rap-crime-rapes. Kata anak Medan, “Bah, botullah koplaknya penyembah berhala liberalisme ini. Kekmananya? Ngomong di tipi pun menipu.”

Mendudukkan “Perda Ngangkang”

Benarkah ada Perda Ngangkang? Cek langsung ke lapangan dan Anda akan menemukan bahwa yang ada hanyalah Seruan Bersama yang diteken Walikota, Ketua DPR Kota Lhokseumawe, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Kota Lhokseumawe dan Ketua Majelis Adat Aceh Kota Lhokseumawe. Isinya juga tidak seheboh yang ada di pemberitaan media. Seruan tersebut juga tidak hanya melarang duduk mengangkang, tapi juga menyeru tentang berpakaian sopan. Bahkan larangan duduk mengangkang itu mendapat pengecualian dalam kondisi darurat. Bukankah ini satu hal yang wajar? Apalagi bagi Aceh, provinsi yang khusus lagi istimewa?

Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) menilai, perempuan duduk mengangkang di atas sepeda motor dengan aurat terbuka atau tidak mengenakan pakaian muslimah, bisa meruntuhkan marwah seorang perempuan. “Kebijakan ini bisa mengembalikan marwah perempuan yang ada di Aceh, kalau yang di luar Aceh tidak ada problem. Berbicara marwah sangat tergantung pada daerah," katanya, dilansir Okezone, Kamis (3/1/2013)”

Dari sisi agama, perempuan tetap diperbolehkan duduk terbuka atau ngangkang di sepeda motor asal jangan sampai terbuka auratnya dan tidak menciderai marwah seorang perempuan. “Sah-sah saja, asal aurat tetap terjaga, pakaian tetap sopan tidak menyerupai laki-laki, dan tidak menciderai marwah perempuan itu sendiri," ujar Faisal yang juga Ketua PW Nahdatul Ulama Aceh.

Dalam konteks adat istiadat, seorang perempuan yang duduk ngangkang di sepeda motor menyerupai laki-laki dinilai bisa meruntuhkan marwah perempuan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai keAcehan. Ini tidak hanya identik dengan syariat Islam, tapi kalau saya lihat lebih kepada upaya untuk mengembalikan adat istiadat dan budaya Aceh yang mulai hilang. Sekira 20 tahun lalu, lanjut Faisal, perempuan ngangkang di sepeda motor merupakan hal tabu dan langka di Aceh, karena duduk seperti itu dinilai bisa menjatuhkan harga diri perempuan itu sendiri.

Aktivis Gerakan #SyariatkanMedia, Muda Bentara melalu akun jejaring sosialnya berpendapat bahwa menerapkan aturan berbasis kearifan lokal adalah hak setiap daerah. Meskipun aneh, namun begitulah local wisdom Aceh. Duduk secara mengangkang (duek phang) memang tabu dalam tradisi Aceh. “Mungkin Pemko di sana punya pertimbangan lain. Misal seperti Singapura yang melarang memelihara kucing bagi penduduknya, melarang penjualan permen karet. Ataupun semisal Inggris yang tak boleh menampilkan dua jari (victory) yang disana dianggap menghina. Misal ketika di Amerika ada aturan yang apabila ada orang yang menyapa orang lain sambil mengupil maka hal itu bisa dipidanakan, misal juga ketika seseorang di Amerika menampilkan ekspresi jari yang dianggap melecehkan, misal juga sebuah maskapai penerbangan di New Zealand yang tak membolehkan penumpangan mengenakan celana kendor dan apabila mengenakannya akan diturunkan dari pesawat, “ urainya panjang lebar. Itu semua negara maju dan tak ada yang protes serta meributkan.

Lebih tegas, aktivis Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT), Thayeb Loh Angen dalam sebuah diskusi budaya di Banda Aceh mengatakan bahwa aturan baru Walikota Lhokseumawe adalah hak eksklusif penduduk setempat. Kritikan yang berkembang selama ini kebanyakan datang dari penduduk luar kota Lhokseumawe merupakan hal yang tidak pada tempatnya. Setuju atau tidak tentang aturan itu adalah hak mutlak penduduk Kota Lhokseumawe. “Ini bukan artinya saya mendukung kebijakan pemerintah Kota Lhokseumawe tentang larangan tersebut atau karena asal saya dari sana, tidak sama sekali. Saya katakan ini karena inilah kebenarannya. Setiap wilayah dan daerah punya hak eksklusif. Ini salah satunya,” kata Thayeb.

Rektor Institut Sastra Hamzah Fansuri ini mengingatkan supaya orang-orang mengurus daerahnya atau keluarganya masing-masing. Menurutnya, ini negara demokrasi, setiap daerah punya hak dan kebudayaannya. “Orang Aceh atau Indonesia jangan seperti istilah hadih majaAceh, ‘Keubeue grop paya guda coat iku (kerbau turun ke paya tapi malah kuda yang ketakutan sampai teak ekornya-red). Lucu jika aturan Lhokseumawe diprotes oleh orang Aceh Utara, apalagi Banda Aceh atau Jakarta. Itu tidak pada tempatnya. Sebaiknya orang mengurus daerah atau keluarganya masing-masing,” kata Thayeb.

Epilog

Intinya, semangat Walikota Lhokseumawe untuk melestarikan adatnya adalah sah dan bahkan patut didukung. Bagi orang Aceh agama ngon adat lagee dzat ngon sifeut. Agama dengan adat seperti dzat dengan sifat, tak bisa dipisahkan antara Aceh dan Islam. Seperti juga Minang yang punya asas adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Kalau kita memang pro demokrasi maka hargailah budaya lokal setempat dan hormatilah aspirasi masyarakat Lhokseumawe. Jangan karena lemahnya pemahaman atau kurangnya iman, membuat kita mati-matian menentang Islam. Kalau cuma perkara teknis yang jadi masalah tentu bisa didialogkan. Kalau isi seruan ini dianggap terlalu mengada-ada atau kurang sempurna, silakan sampaikan kritik dan masukan dengan jalurnya. Kata Mahendradata, “Kalau Anda rasa ini bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi silakan adukan ke Mahkamah Agung. Toh dulu Anda sudah kalah saat judicial review di MK.”

Yang jelas, jangan lagi pakai dalil dan fakta koplak hanya untuk menentang syariah. Tak usah provokasi masyarakat dengan berita dan informasi bohong. Nikmati saja demokrasi ini. Kita rayakan kebebasan dengan tanggungjawab sesuai hukum. Dan kita buktikan apakah Syariah atau Liberalisme yang membawa berkah? Wallahua’lam bish-shawab.

Anugrah Roby Syahputra
Penulis adalah pegiat Kelompok Studi Ulil Abshar Banda Aceh.
sumber: islamedia.web.id

si anying melanggar PERDA....


Foto Anggota DPR Shopping Barang Mewah Di Jerman

Foto Anggota DPR Belanja Barang Mewah di Jerman

[imagetag]

Anggota DPR yang melakukan kunjungan ke Berlin, tertangkap kamera sedang berbelanja di pusat perbelanjaan terkenal di ibukota Jerman itu. Mobil dinas KBRI juga digunakan untuk mengantar mereka pelesiran.

Hayono Isman nampak keluar dari mobil KBRI yang mengantar rombongan DPR pelesiran di Berlin. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman serius memantau kunjungan kerja anggota Komisi I DPR ke Berlin, Jerman. Dari sekian banyak aktivitas, ternyata mereka juga sempat mampir ke toko-toko mewah.

Anggota Fraksi Partai Demokrat, Hayono Isman, tertengkap kamera sedang melakukan transaksi di kasir KaDeWe Berlin, Barang-barang yang dijual di toko tersebut dikenal cukup berkelas dan mahal.

[imagetag]


Hayono Isman emang anying....


Perkosaan, Yenny Wahid Bohongi Publik!

 Masih Percaya Sama Yenny Wahid?
Anak perempuan dari mantan Presiden Abdurahman Wahid, Yenny Wahid kembali berbohong kepada publik. Hal ini terjadi dalam kegiatan debat disalah satu stasiun televisi swasta di Indonesia (Senin, 07/01/2013). Yenny mengatakan bahwa tingkat pemerkosaan di negara Arab lebih tinggi dari negara-negara Eropa.

“Lihat kasus pemerkosaan di negara Arab dimana wanitanya berpakaian tertutup (jilbab), ternyata lebih tinggi daripada di negara2 Eropa padahal wanitanya sangat minim dalam berpakaian, bahkan bebas berbikini di pantai…..” Jelas Yenny seperti yang dikutip oleh Halaqoh Online, Selasa (08/01/2013).

Padahal menurut data statistik tentang Angka Pemerkosaan di 116 negara, 7 dari 10 negara dengan tingkat pemerkosaan tertinggi adalah negara2 Eropa. Berikut data riset tentang tingkat pemerkosaan dinegara-negara dunia menurut

http://www.nationmaster.com/graph/cri_rap-crime-rapes

# 1 France: 10,277 2009
# 2 Germany: 7,292 2009
# 3 Russia: 6,208 2009
# 4 Sweden: 4,901 2009
# 5 Argentina: 3,276 2008
# 6 Belgium: 2,786 2009
# 7 Philippines:2,585 2009
# 8 Spain: 2,437 2009
# 9 Chile: 2,233 2009
# 10 Lesotho: 1,878 2009
# 11 Poland: 1,611 2009
# 12 Japan: 1,582 2009
# 13 New Zealand:1,308 2009
# 14 Kazakhstan:1,298 2009
# 15 Israel: 1,243 2009
# 16 Sudan: 1,189 2009
# 17 Morocco: 1,130 2009
# 18 Romania: 1,016 2009
# 19 Norway: 944 2009
# 20 Finland: 915 2009
# 21 Kenya: 735 2009
# 22 Czech Republic: 529 2009
# 23 Canada: 491 2009
# 24 Hungary: 489 2009
# 25 Cameroon:447 2008
= 26 Ireland: 396 2009
= 26 Denmark: 396 2009
# 28 Mongolia: 354 2009
# 29 Portugal: 317 2009
# 30 Kyrgyzstan:303 2009
= 31 Moldova: 262 2009
= 31 Bulgaria: 262 2009
# 33 Belarus: 240 2009
# 34 Greece: 218 2008
# 35 Croatia: 188 2009
# 36 Oman: 183 2009
# 37 Lithuania: 164 2009
# 38 Estonia: 160 2009
# 39 Slovakia: 152 2009
# 40 South Africa:113.5 2002
# 41 Latvia: 100 2009
# 42 Guinea: 92 2008
# 43 Australia: 91.6 2003
# 44 Egypt: 87 2009
# 45 Sierra Leone: 79 2009
# 46 Swaziland:76.1 2004
# 47 Mauritius: 69 2009
# 48 Iceland: 68 2009
= 49 Luxembourg: 57 2009
= 49 Slovenia: 57 2009
# 51 Solomon Islands: 56 2009
# 52 Jamaica: 50.8 2000
# 53 Suriname: 45.2 2004
# 54 Zimbabwe: 40 2006
# 55 Bahrain: 36 2009
# 56 Cyprus: 34 2009
# 57 United States: 30.2 2006
# 58 Nicaragua: 27.6 2006
# 59 Barbados: 27 2000
# 60 Azerbaijan: 25 2009
# 61 Panama: 24.1 2006
# 62 Papua New Guinea: 24 2000
# 63 Peru: 20.8 2006
= 64 Armenia: 19 2009
= 64 Malta: 19 2009
# 66 El Salvador: 18.7 2006
# 67 Belize: 15.3 2006
# 68 Namibia: 15.1 2002
# 69 Korea, South: 13.3 2006
# 70 Mexico: 12.8 2006
# 71 Ecuador: 11.2 2006
# 72 Costa Rica: 11 2006
# 73 Uruguay: 9.8 2000
# 74 Maldives: 9 2009
# 75 Netherlands: 8.7 2006
= 76 Austria: 8.5 2006
= 76 Switzerland: 8.5 2006
# 78 Thailand: 8 2006
# 79 Bolivia: 7.8 2006
# 80 Italy: 7.7 2006
# 81 Bangladesh: 7.5 2006
= 82 Brunei: 7.4 2006
= 82 Sri Lanka: 7.4 2006
# 84 Paraguay: 6 2006
# 85 Malaysia: 5.2 2000
# 86 Macedonia, Republic of: 5.1 2006
# 87 Colombia: 4.7 2000
# 88 Georgia: 3.8 2006
# 89 Guatemala: 3.3 2000
# 90 Tunisia: 3.2 2002
# 91 Liechtenstein: 3 2009
# 92 Zambia: 2.9 2000
# 93 China: 2.8 2000
# 94 Singapore: 2.7 2006
# 95 Turkey: 2.5 2006
# 96 Ukraine: 2.1 2006
# 97 Uganda: 2 2004
= 98 Jordan: 1.9 2006
= 98 Côte d’Ivoire: 1.9 2000
= 100 India: 1.7 2006
= 100 United Arab Emirates: 1.7 2006
# 102 Qatar: 1.6 2004
= 103 Albania: 1.5 2006
= 103 Algeria: 1.5 2006
= 105 Serbia and Montenegro: 1.1 2006
= 105 Tajikistan: 1.1 2006
= 105 Bosnia and Herzegovina: 1.1 2006
# 108 Nepal: 0.8 2006
# 109 Indonesia: 0.7 2000
# 110 Syria: 0.6 2006
= 111 Burma: 0.5 2002
= 111 Lebanon: 0.5 2006
= 111 Turkmenistan: 0.5 2006
# 114 Yemen: 0.4 2000

Masih Percaya sama omongan Yenny Wahid?


Perjuangan PDRI di Nagari Bidar Alam, Solok

Ibnu Abbas, saksi sejarah PDRI di Bidar Alam (Foto: Rus Akbar/Okezone) 
Ibnu Abbas, saksi sejarah PDRI di Bidar Alam 

SOLOK SELATAN - Kalau hanya karena alasan makanan, tentu Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Syafruddin Prawiranegara, tidak akan pindah dari Nagari Abai ke Bidar Alam.

Namun, berkat lobi Khatib Djamaan, yang mengajak Syafruddin pindah dengan jaminan bahwa orang Bidar Alam adalah Masyumi, akhirnya pemerintahan berpindah ke Bidar Alam.

Nagari Bidar Alam di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat, merupakan saksi sejarah Republik Indonesia saat masa darurat 1948. ketika itu Belanda menahan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Bila dibandingkan dengan lokasi lain yang disinggahi Syafruddin, Bidar Alam merupakan tempat terlama yang disinggahinya, yakni 3,5 bulan.

Di Jorong Bulian, Nagari Bidar Alam, tinggal satu-satunya tokoh sejarah saksi mata masa pemerintahan darurat Indonesia, Ibnu Abbas (84). Dia merupakan asisten dr Sambiyono. Sambiyono sendiri merupakan dokter pribadi Syafruddin.

Rambut, janggut putih, peci haji, serta batik cokelat yang disempurnakan dengan sarung motif kotak, menjadi penampilan khas Abbas. Meski usianya sudah senja, namun Abbas masih ingat betul bagaimana saat-saat Syafruddin masuk ke Sumatera Barat.

Abbas pun memulai cerita kebersamaannya dengan Syafruddin. Awalnya, dia mengaku tidak mengenal Syafruddin. Namun, melalui radio, dia mendengar bahwa Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta sudah ditangkap Belanda.

“Orang bilang Bapak Syafruddin sebagai kepala pemerintah darurat akan datang ke sini untuk mengomando perang gerilya. Itu berita sampai di sini,” tutur pria kelahiran 1928 yang masih tampak segar itu .

Dia kembali berkisah, dari keterangan yang dia dapat, sebenarnya Syafruddin hendak menuju ke Pekanbaru, Riau, namun batal. Sebab, keberangkatannya sudah diketahui Belanda.

“Saat menuju ke Pekanbaru, rombongan mobilnya ditembak oleh Belanda dengan cocor merah (pesawat capung, red). Beruntung, saat itu dia tidak kena tembak, namun mobilnya rusak dan kaca matanya pecah. Setelah itu, dia meneruskan perjalanan ke Pulau Punjung, Dharmasraya,” sambungnya.

Perjalanan diteruskan ke Pulau Punjung, namun mereka tidak bisa lama di daerah itu. Sebab, Belanda mudah menjangkau mereka. Pada 3 Januari 1949, rombongan PDRI menuju Abai lewat Sungai Dareh.
”Perjalanan mereka menempuh waktu sehari semalam. Itu pun memakai perahu menggunakan dayung dari bambu. Perjalanan lama karena melawan arus sungai,” ungkapnya.

Sementara, sebagian rombonganya ada yang lewat darat dan ada yang kembali ke Payakumbuh untuk memantau perkembangan Belanda sambil berkoordinasi dengan pejuang di daerah tersebut.

Setiba di Abai, Syafruddin dan rombongan menginap rumah Angku Palo Gaek. Melihat kondisi itu, Pemerintah Kecamatan Perang Bidar Alam, Bustam Kamil, melakukan rapat untuk menjemput Syafruddin.

”Rapat itu dihadiri Camat Perang, namanya Bustam Kamil; Wali Otonomi Ridwan Darwis Daud; Darwis K, sebagai Kepala Pemuda di sini; Marlis Bagindo, Sekretaris Otonom Daerah; dan beberapa tokoh lainnya,” bebernya.

Penjemputan ini dilakukan karena sumber makanan di Abai itu dari Bidar Alam dan diantar pakai perahu. Jadi maka diputuskan itu untuk menjemput ketua PDRI lewat Khatib Jamaan selaku Komandan Badan Pertahanan Nagari dan Kota (BPNK).

”Saat menjemput Pak Syafruddin, Khatib Jamaan membawa dendeng empat kilogram. Dia menumpang perahu pedagang menuju Abai. Ini dilakukan untuk menyamar agar tidak diketahui mata-mata Belanda. Selain itu, memang jalan darat tidak ada,” ujarnya.

Memasuki Abai, rombongan mendapat pengawalan sangat ketat dari tentara dan BPNK Sangir. Saat itu, Khatib Djamaan bersama temannya harus diperiksa dulu. Pemeriksaan juga dilakukan secara berlapis. Setelah mendapat keyakinan, maka Khatib Djamaan bertemu dengan Syafruddin.

Ketika sampai di rumah Angku Palo Gaek, Khatib Jamaan menyampaikan pesan kepada Syafruddin untuk pindah ke Bidar Alam. Namun, saat itu Syafruddin belum yakin, maka diutuslah tentara untuk melihat kondisi serta memberikan laporannya.

Setelah dipastikan aman, rombongan terdiri dari 39 orang, termasuk Syafruddin, berangkat ke Bidar Alam pada 24 Januari 1949. ”Sampai di Bidar Alam, barulah saya bertemu dengan beliau. Bapak Syafruddin dan rombongan disambut di pelabuhan dekat Surau Annur. Kemudian, keamanan diserahkan ke BPNK Bidar Alam,” ungkapnya.

Ada beberapa hal yang masih dipertanyakan soal lamanya Syafruddin di Bidar Alam serta alasan kepindahnya ke tempat itu. Dari pernyataan di atas alasan pindah ke Bidar Alam karena stok makanan yang susah. Namun, di balik itu, kata Abbas, ada unsur politik sehingga Ketua PDRI mau diajak ke lokasi baru.

”Bidar Alam orangnya Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) semuanya. Khatib Jamaan itu ketua dan saya wakilnya. Jadi Bidar Alam kami Masyumikan semuanya. Sementara Pak Syafruddin itu kan orang Masyumi. Memang ada PKI yang datang, tapi kami tidak peduli itu. Kami perlu Pak Syaf,” terangnya.

Abbas menuturkan, selama Syafruddin berada di Bidar Alam, dia menjadi pengawalnya. Syafruddin betah di Bidar Alam sebab dia merasa seperti di kampungnya sendiri.

”Bahkan saat di Bidar Alam, kalau dia pergi ke mana tidak pakai pengawal, tidak seperti wakilnya Mohammad Hasan. Dia punya pengawal dan memakai senjata lengkap, bernama Ibrahim. Buang air besar saja dikawal. Saat di Bidar Alam mereka menginap di rumah penduduk, untuk Pak Syaf tinggal di Rumah Jama,” ulas Abbas.

Abbas mengawal Syafruddin dengan jarak 10 meter. ”Saya mengawasinya dan memantau, tapi itu jaraknya 10 meter. Biasanya, beliau keluar itu pakai kain sarung. Kadang-kadang pergi sendiri saja tidak minta dikawal,” ungkapnya.

Meski secara geografis daerah Bidar Alam saat itu sangat susah dijangkau, namun komunikasi dengan jaringan pemerintah di Pulau Jawa tetap dilakukan dengan radio milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Saat itu peran AURI sangat besar dalam menyediakan peralatan komunikasi dengan pemerintah sipil dan militer.

”Di sini saat itu ada radio Markoni. Dia bicara sendiri seperti orang gila,” ungkapnya.

Dalam buku yang ditulis Guru Besar Universitas Negeri Padang, Mestika Zed, menyebut, stasiun Radio Bidar Alam dipimpin oleh Opsir Udara III Dick Tamimi beranggotakan teknisi dan telegrafis Sersan Mayor Udara Kusnadi dan Sersan Mayor Udara R Oedojo. Ketiganya berasal dari AURI Komandemen Bukittinggi.

Stasiun itu juga diperkuat seorang perwira sandi Opsir Muda Udara III Umar Said Noor dan seorang telegrafis Kopral Zainal Abidin. Keduanya berasal dari Pangkalan Udara Jambi.

Semua radio memilki sandi berganti-ganti. Biasanya, mereka bekerja pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai 04.00 dini hari. Kerjanya mengirim dan menerima berita dalam lingkungan AURI. Selain itu juga menyadap sandi musuh.

Stasiun tersebut juga menyiarkan kegiatan PDRI kepada pejuang-pejuang lainnya di Sumatera dan Jawa. Rombongan PDRI di Bidar Alam pergi pada 22 April 1949.

Alasan kepindahan, Pemerintah Belanda sudah mencium keberadaan Syafruddin di Bidar Alam.
(ton)


Kalau artikel diatas bermanfaat, lebih baik anda berlangganan di bawah ini :





Akibat Senjata Kimia AS,Bayi Cacat di Irak Naik

Sebuah laporan baru yang dipublikasikan oleh Buletin Toksikologi dan Pencemaran Lingkungan mendapati bahwa tingkat cacat lahir di Fallujah naik dari 2% tahun 2001 menjadi 50% tahun 2007 (foto: Dok).

Lujane yang berusia lima tahun adalah satu dari ratusan anak di Fallujah yang sejak tahun 2004 dilahirkan dengan cacat lahir yang parah. Ayahnya, Samir Abud Khalaf, mengatakan Lujane menderita beberapa kecacatan yang membuat para dokter Irak sulit merawatnya. “Dokter terkejut karena baru pertama kali melihat empat jenis cacat lahir pada satu anak. Lubang di punggung belakang, lubang di jantung, cacat otak, dan kelumpuhan.”

Sebuah laporan baru yang dipublikasikan oleh Buletin Toksikologi dan Pencemaran Lingkungan mendapati bahwa tingkat cacat lahir di Fallujah naik dari 2 persen tahun 2001 menjadi 50 persen tahun 2007.

Laporan itu menilai banyaknya peluru dan selongsong peluru yang digunakan oleh militer Amerika dalam pertempuran tahun 2004 di Fallujah mungkin bertanggungjawab atas peningkatan cacat yang mengkhawatirkan ini.

Dr. Ahmed Kamal Qasim, ahli genetika manusia di Baghdad, mengatakan peningkatan cacat lahir di Fallujah dan kota-kota lain di Irak berasal dari beragam faktor terkait perang, termasuk kurang gizi, dan juga polusi dari peluru dan selongsongnya. Menurut Dr. Qasim, “Cacat lahir secara genetik terbagi dalam dua jenis: tipe kromosom dan tipe genetika. Tipe kromosom meningkat drastis dibanding tipe cacat genetika karena adanya daerah-daerah yang terkena polusi, seperti yang saya tadi jelaskan. Tipe cacat genetika ini juga meningkat dalam beberapa hal seperti cacat kromosom, tetapi di beberapa daerah tertentu jumlahnya kecil. Kami curiga kecacatan ini terjadi umumnya karena jenis bahan kimia yang digunakan dalam senjata, khususnya misil.”

Laporan itu mendapati bahwa tingkat paparan timah hitam pada anak-anak yang cacat lahir, lima kali lebih tinggi dibanding anak-anak lainnya. Sementara tingkat merkuri enam kali lebih tinggi. Timah hitam dan merkuri merupakan racun syaraf yang menurut penelitian tersebut terdapat dalam amunisi yang digunakan militer Amerika.

Tetapi, para pejabat di Pentagon menyangkal bahwa amunisi militer Amerika mengandung merkuri atau air raksa. Mereka mengatakan tidak tahu tentang laporan-laporan resmi manapun yang menunjukkan peningkatan cacat lahir di Fallujah yang dinilai disebabkan oleh paparan bahan-bahan metal yang terdapat dalam amunisi militer Amerika.

Namun, Pentagon mengatakan pihaknya selalu mempertimbangkan dengan sangat serius keprihatinan atas kesehatan publik yang dikaitkan dengan aktivitas tempur Amerika.

Tetapi, dalam kasus Abdullah yang menderita cacat lahir yang serupa dengan Lujane, penyebabnya jelas, ujar Abu Abdullah, ayahnya. Ia menuturkan,“Saya tidak dapat melukiskan perasaan saya. Yang dapat saya katakan hanya saya akan menjual nyawa saya agar putra saya dapat berjalan. Pesan saya kepada tentara Amerika, ‘akankah Anda membiarkan hal ini terjadi pada anak-anak Anda?”

Laporan hasil penelitian toksikologi tersebut dengan hati-hati menyatakan bahwa lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk mengetahui dengan pasti penyebab cacat lahir ini. (Sebastian Meyer)


Cara kepemimpinan Mursi di Mesir !


‎Radhwa Shalah, seorang warga mesir bertutur:

Dalam keadaan lelah sepulang dari tempat kursus, HP saya berbunyi. Saya lihat, ada panggilan dari nomor yang terasa asing.

Saya pun menjawabnya. Kalian tahu siapa yang menelponku? Dia adalah pegawai dari Setneg Kepresidenan. Di ujung telpon, ia berbicara serius. Dia menyebutkan nama lengkap dengan namaku-ayahku-kakek-dan ayah kakekku.

"Saya Ahmad, dari bagian Pengaduan (Diwan Mazhalim) Kantor Kepresidenan. Anda yang dua bulan lalu mengadukan masalah gas elpiji melalui telpon bukan? Bagaimana, masalahnya sudah ada yang menyelesaikan belum?"

Sungguh mencengangkan, masalah gas elpiji yang hanya 50 pound Mesir (+- Rp. 75.000) saja diselesaikan.

Saya sangat bahagia dan bangga.

Sebelum menutup telponnya, staff kepresidenan tersebut mengatakan, "Jika ada masalah lagi, jangan sungkan menelpon kami ya...."

Saya sebagai warga negara biasa, sangat bahagia. Sungguh!

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !


Rencana Soekarno untuk Indonesia Sekarang..



Banyak orang yang nggak tau bahwa Bung Karno adalah salah satu Presiden yang amat mengerti tata ruang kota dan tata ruang wilayah geopolitik, dia sendiri sudah mendesain seluruh wilayah Indonesia dengan bagian-bagian pembangunannya, hal ini menjadi satu bagian dari dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960.


Kebanyakan dari orang-orang Sukarno hanyalah seorang arsitek yang gemar mendesain patung, hasil karyanya untuk rumah hanyalah beberapa rumah di Bandung yang ia gambar saat ia berkolaborasi dengan Insinyur Rooseno, atau ketika ia baru lulus kuliah THS (skg ITB) membuat jembatan-jembatan kecil. Bahkan secara sarkastis, mahasiswa-mahasiswa anti Sukarno di tahun 1965 meledek Bung Karno sebagai "Orang Tua Pikun, Patung kok dikira celana" samberan ini meledek soal pidato Sukarno, bahwa Patung  itu seperti celana, sebagai sebuah kehormatan bangsa.

Padahal Sukarno adalah pemikir besar, ia mendesain bukan saja patung-patung yang banyak meniru model Eropa Timur, ia mendesain kota-kota besar masa depan Indonesia. Di tahun 1958 setelah pengusiran warga Belanda dan pengambilalihan modal-modal Belanda sebagai bagian pernyataan siap perang Indonesia dengan merobek-robek perjanjian KMB, Sukarno sebenarnya sudah merancang Djakarta menjadi kota tempur.



Seperti kota Singapura di mana seluruh bujur jalannya lurus-lurus dan lebar sekali, sebenarnya itu disiapkan untuk menjadi markas atas penguasaan wilayah Asia Tenggara. Bagi Bung Karno stabilitas Asia Tenggara adalah segala-galanya untuk melepaskan Indonesia dari politik ketergantungan modal dan politik invasi wilayah-wilayah produk ~apa yang ditakutkan Sukarno pernah diucapkan pada Djuanda "Amerika sekarang tak lebih dengan Belanda, mereka tak berminat terhadap kesatuan wilayah, mereka hanya berminat wilayah-wilayah kaya modal, wilayah produktie, inilah yang menyamakan mereka dengan Belanda di tahun 1947 dimana agresi militer mereka dinamakan dengan sandi "Operatie Produkt"



Wilayah-wilayah yang jadi prioritas Sukarno setelah siap perang dengan Belanda adalah Irian Barat, merebut Irian Barat dan menjadi satu bagian NKRI adalah satu syarat agar bangsa ini menjadi paling kuat di Asia.

Selain Irian Barat yang menjadi perhatian penting Bung Karno adalah Kalimantan. Awalnya Semaun yang membawa saran tentang perpindahan ibukota, -Semaun adalah konseptor besar atas tatanan ruang kota-kota satelit Sovjet Uni di wilayah Asia Tengah - dan ini kemudian disambut antusias oleh Bung Karno, selama 1 tahun penuh Bung Karno mempelajari soal Kalimantan ini, ia berkesimpulan "masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air. Pertahanan militer bertumpu pada kekuatanAngkatan Udara"




Bung Karno membagi dua kekuatan itu besar pertahanan nasional dalam dua garis besar : Pertahanan Laut di Indonesia Timur dengan Biak menjadi pusat armada-nya (ini sesuai dengan garis geopolitik Douglas MacArthur) dan Pertahanan Udara di Kalimantan. Lalu Bung Karno mencari kota yang tepat untuk menjadi 'Pusat Kalimantan'

Lalu pada satu malam di hadapan beberapa orang Bung Karno dengan intuisinya mengambil mangkok putih di depan peta besar Kalimantan, ia menaruh mangkok itu ke tengah-tengah peta, kemudian Sukarno berkata dengan mata tajam ke arah yang mendengarnya "Itu Ibukota RI" Bung Karno menunjuk satu peta di tepi sungai Kahayan. Lalu Bung Karno ke tepi Sungai Kahayan dan melihat sebuah pasar yang bernama Pasar Pahandut, dari Pasar inilah Bung Karno mengatakan "Ibukota RI dimulai dari sini" ini sama persis dengan ucapan Daendels di depan Asisten Bupati Sumedang saat membangun jalan darat Pos Selatan untuk gudang arsenal Hindia-Perancis, ketika itu ia menunjuk satu tempat yang kita kenal sekarang sebagai Bandung "Bandung jadi titik nol wilayah pertahanan Jawa"



Lalu Bung Karno menyusun dasar-dasar kota administrasi provinsi dengan dibantu eks Gubernur Jawa Timur RTA Milono, pada saat penyusunan birokrasi itu Bung Karno sedang menyiapkan cetak biru besar tentang rancangan tata ruang negara dari Sabang Sampai merauke. Antara Pulau Sumatera-Jawa dan Bali akan dibangun terowongan bawah tanah, karena rawan gempa Bung Karno meningkatkan armada pelabuhan antar pulau dipesan kapalnya dari Polandia. Tapi rencana membuat channel seperti di selat Inggris tetap diprioritaskan bahkan menjelang kejatuhannya di tahun 1966 ia bercerita tentang channel bawah tanah yang menghubungkan Pulau Sumatera-Jawa dan Bali



Pusat pelabuhan dagang bukan diletakkan di Jawa, tapi disepanjang pesisir Sumatera Utara- Kalimantan-Sulawesi, Sukarno mempersiapkan rangkaian pelabuhan yang ia sebut sebagai "Zona Tapal Kuda". Wilayah Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan.

Kota-kota baru dibangun, pilot project-nya adalah Palangkaraya dan Sampit, setelah itu Djakarta juga dibangun untuk display ruang atau model kota modern, Jakarta tetap dijadikan pusat kota jasa Internasional sementara Palangkaraya menjadi pusat pemerintahan dan pertahanam militer udara, Biak di Irian Barat jadi pertahanan militer laut dan Bandung jadi Pusat Pertahanan militer darat.

 
*lihatgambardiatas Seluruh jalan Palangkaraya dibuat lurus-lurus dan menuju satu bunderan besar, bila perang dengan Inggris beneran terjadi maka jalan-jalan itu diperlebar sampai empat belas jalur untuk pendaratan pesawat Mig21 yang diborong dari Sovjet Uni. Rencana tata kota sampai dengan tahun 1975. Rafinerij atau tambang-tambang minyak milik asing akan diambil alih dan diberikan pada serikat-serikat buruh penguasaan saham diatasnamakan negara dan uangnya untuk pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umum. Pangdam Kaltim di pertengahan tahun 1960-an Brigjen Hario Ketjik adalah salah satu fanatik Sukarnois yang menerapkan rencana ini di Kalimantan Timur.


#foto bundaran besar Palangkaraya
Pembangunan tata ruang kota Palangkaraya diatur amat teliti, sampai sekarang tata ruang kota Palangkaraya paling rapi di Indonesia. Visi Sukarno, di tahun 1975 Indonesia akan jadi bangsa terkuat di Asia dan menjadi salah satu negara adikuasa dunia dalam konteks the big five : Amerika Serikat, Inggris, Sovjet Uni dan Jepang.Jepang dan Cina menurut Sukarno masih bisa dibawah Indonesia. Dan Indonesia jadi negara terkuat di Asia memimpin tiga zona wilayah. (Asia Tenggara, Asia Selatan dan Asia Timur)


Setelah Bung Karno kalah duluan sama Suharto dalam penguasaan keadaan saat Gestapu 1965, Bung Karno diinternir, Suharto amat takut dengan bentuk persebaran kekuatan wilayah, ia bertindak seperti Amangkurat I yang paranoid terhadap kekuatan pesisir, ia tarik seluruh kekuatan modal dan
manusia ke satu pusat yaitu : Jawa



Padahal Jawa disiapkan Sukarno sebagai pulau yang khusus lumbung pangan dan pariwisata, pulau peristirahatan, sekarang Jawa adalah pusat segala-galanya, menjadi pulau paling padat sedunia dan tidak memiliki kenyamanan sebagai sebuah 'surga khatulistiwa' sementara Kalimantan dibiarkan kosong melompong

Andai saja akademisi kita tidak ikut-ikutan mengotori dirinya seperti comberan mulut politikus, ada baiknya menggali "rencana-rencana Sukarno" ini ketimbang mengomentari dan mengamati 'Para Maling main politik'.



Lihat yg lebih 'menarik' di sini !


Dahlan Iskan Pamerkan Mobil Listrik Sport Tucuxi

Warga dan wartawan mengerumuni Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan bersama mobil sport elektrik merk Tucuxi miliknya di area Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Desain mobil kupe dua penumpang ini dirancang oleh Danet Suryatama, putra bangsa yang pernah bekerja di Chrysler, Amerika Serikat.






Mobil sport listrik Tucuxi melaju di area Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu 23 Desember 2012. Mobil seharga Rp1,5 miliar ini mampu menempuh jarak sejauh 321,8 kilometer dengan kecepatan maksimum hingga 200 kilometer per jam.



Interior mobil sport elektrik merk Tucuxi



Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan melambaikan tangan saat mengemudikan mobil sport elektrik merk Tucuxi di area Stadion Utama Gelora Bung Karno



Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan keluar dari mobil sport elektrik merk Tucuxi usai melakukan test drive di area Stadion Utama Gelora Bung Karno






Lihat yg lebih 'menarik' di sini !


Bagaimana kalau Presiden kita Maho ?


Penilaian rakyat Indonesia soal karakter presiden 2014, masih dipengaruhi oleh latar belakang individu pemimpin. Hal itu terbukti hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menyebut mayoritas masyarakat, enggan memilih pemimpin homoseksual, dan tidak beragama atau ateis.

"Tidak menerima pemimpin homoseksual sebesar 90,61 persen, menerima 5,83 persen. Tertinggi kedua tidak menerima ateis 88,41 persen, menerima 8,23 persen," kata peneliti senior LSI, Adjie alfaraby saat konfrensi pers 'Renungan Akhir Tahun Cari Capres 2014' di Graha LSI, Rawamangun Jakarta Timur, Minggu (23/12).

Survei dilakukan 14 sampai 17 Desember, jumlah koresponden mencapai 440 orang. Metode yang digunakan multistage random sampling, dengan margin of eror 4,8 persen.

Berkebalikan dengan dua faktor di atas, faktor gender atau jenis kelamin justru tidak terlalu dipedulikan masyarakat. Begitu juga pemimpin beda agama.

"Kabar baik untuk para aktivis perempuan, disebut faktor gender bisa diterima oleh rakyat Indonesia. Publik bisa menerima perempuan sebesar 80,37 persen, sedangkan beda agama bisa menerima sebesar 54,49 persen," katanya lagi.

Selain empat faktor di atas, faktor aliran agama seperti Syiah, Ahmadiah juga dimasukan. Namun aliran agama tersebut belum mendapatkan tempat di hati masyarakat.di sini gambar luh

udah maho jorok lagi....