Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Dead Mine Film Layar Lebar HBO Asia Pertama





Dead Mine adalah film feature produksi HBO Asia pertama yang mulai syuting tanggal 28 November – 24 Desember 2011 di Batam.

Film ini merupakan kerjasama HBO Asia dengan Infinite Studio, sebuah perusahaan film yang berbasis di Singapura dan Pulau Batam, Indonesia

Dead Mine adalah sebuah film dengan genre horor yang mengisahkan tentang 8 orang yang terjebak di sebuah bunker. Namun, di bunker tersebut ternyata tersimpan sejenis mahluk mutan yang kemudian menghabisi 8 orang tersebut satu per satu.

Dead Mine melibatkan sejumlah aktor internasional dari Inggris, Asia dan Indonesia tentu saja.

Dari Indonesia ada Ario Bayu ( Catatan Harian Si Boy), Joe Taslim ( The Raid ), Mike Lewis dan Tigor.

Sementara itu, juga terdapat nama seperti Carmen Soe ( Malaysia ), Miki Mizuno ( Jepang), Leslie Loveday dan Samuel Hazeldine ( Inggris).


Ario Bayu as Captain Tino Prawo


Joe Taslim as Liutenant Djoko Subang


Mike Lewis as Private Ario Nando


Tigor as Sergeant Papa Ular


Carmen Soo as Su Ling Li


Miki Mizuno as Rie Sato


Jimmy Taenaka


Leslie Loveday as Warren Price


Sam Hazeldine as Vic Stanley


Dead Mine disutradarai oleh Steven Sheil.


Steven Sheil lahir di Feltham, London. Dia mengambil studi bahasa Inggris dan Jerman di University of Kent di Caterbury¸ sebelum akhirnya pindah ke Nottingham, di mana kemudian dia mengembangkan ketertarikannya di bidang film dan mengambil studi di Headstart Course, program Intermedia Film And Video.

Dia lalu mengembangkan filmnya sendiri, sebuah film pendek horor berjudul Cry, yang kemudian sukses di berbagai festival film dan mencatat rekor hampir 100.00 unduhan di situs AtomFilms.

Film horor Mum & Dad, adalah film feature-nya yang pertama dan juga ber-genre horor. Film indie ini meraih banyak kritik positif dari para pecinta horor.

Dead Mine akan menjadi film feature-nya yang kedua. Namun, saat ini Steven Sheil juga sedang mengembangkan proyek film dari naskah garapannya sendiri, sebuah horor berjudul Everything Dies dan sebuah thriller fiksi ilmiah berjudul The Beneath.

Produser eksekutif Dead Mine adalah Mike Wiluan, pemilik Infinite Studio. Mike Wiluan, sebelumnya juga menjadi produser eksekutif film The Macabre atau yang dikenal di Indonesia dengan judul, Rumah Dara.

Menurut sumber yang diterima Boleh.Com, Mike Wiluan memang meminta seluruh kru untuk menjaga rapat kerahasiaan film ini. Para kru yang terlibat tidak boleh membocorkan foto, cerita ataupun hal lain yang berkaitan dengan produksi Dead Mine.

sumber

=====

jadi penasaran gw

dan itu Tigor siapa ya? bang Tigor yang di suami-suami takut istri kah?
-> confirmed by cezka, beneran bang Tigor :













sumber | iniunic.blogspot.com | www.kaskus.co.id/thread/000000000000000011922901


12 FILM INDONESIA TERBAIK 2012 VERSI CINETARIZ


Tahun 2012 telah kita tinggalkan sepekan yang lalu. Banyak kenangan manis dan pahit yang telah saya dapatkan sepanjang tahun itu. Sungguh sebuah tahun terbaik (sekaligus terburuk) bagi saya. Tidak akan pernah saya lupakan hingga nafas berhembus untuk terakhir kalinya. Dalam postingan ini, tentu saya tidak akan berceloteh mengenai kehidupan pribadi saya mengingat blog ini dikhususkan untuk membahas mengenai film - atau apapun yang berkaitan dengan film. Seperti kebiasaan saya (dan kebiasaan miliaran penggemar film di seluruh dunia) setiap menjelang akhir tahun atau jika terlambat, usai tahun baru, maka saya pun menghadirkan untuk kalian pagelaran 'Film Terbaik 2012' yang rencananya akan berlangsung sepanjang minggu ini (semoga...). Jika di tahun sebelumnya saya langsung membukanya dengan deretan 20 film terbaik secara keseluruhan, maka untuk kali ini saya akan mengawalinya terlebih dahulu dengan '12 Film Indonesia Terbaik 2012 Versi Cinetariz'. Anda pasti bertanya-tanya, ada apakah gerangan? 

Well... Diakui atau tidak, tahun 2012 adalah salah satu tahun terbaik bagi perfilman Indonesia. Salah satu film produksi anak bangsa, The Raid, mendapat puja puji dari berbagai pihak dan kritikus asing serta berkesempatan untuk menembus Amerika Serikat yang notabene dingin terhadap produk asing. Selain itu, berita menggembirakan pun datang dari sejumlah sineas yang berhasil memboyong film buatan mereka untuk bertarung di berbagai festival film bertaraf internasional serta turut membawa oleh-oleh berupa piala saat kembali ke Indonesia. Apakah masih ada lagi? Ya... di penghujung tahun 2012, kita berkesempatan untuk menyaksikan bagaimana film Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Habibie & Ainun serta 5 cm saling berkompetisi untuk meraih 2 juta penonton yang mana sudah sangat sulit diraih oleh film nasional manapun saat ini, termasuk The Raid. Dengan segala gegap gempita terhadap perfilman Indonesia sepanjang tahun 2012 lalu, masihkah ada dari Anda yang memandang rendah film Indonesia? 

Bahkan saking banyaknya film Indonesia yang bagus sepanjang 2012, saya sempat pusing tujuh keliling saat berusaha untuk menyusun daftar ini. Ada cukup banyak film yang terpaksa saya korbankan dengan menimbang satu dan lain hal. Tentunya, pemilihan 12 film yang berhasil lolos ke tahap akhir ini dipengaruhi oleh selera sehingga jika ada pro dan kontra yang menyertai, maka itu sesuatu yang teramat wajar. Sebelum saya membawa Anda ke posisi 12 teratas, izinkanlah saya untuk mengungkap 'honorable mentions' terlebih dahulu. 

* Honorable mentions: 

- Sampai Ujung Dunia 

Dan... akhirnya, inilah 12 film Indonesia terbaik 2012 versi Cinetariz: 

Memang bukan yang terbaik dari seorang Joko Anwar, akan tetapi Modus Anomali tetaplah sebuah film yang menarik untuk disimak terlebih bagi Anda yang menggemari film thriller dengan segudang teka-teki di dalamnya. Jalinan kisahnya yang penuh misteri digeber sejak menit pertama yang membuat penonton bertanya-tanya, “apa yang sesungguhnya terjadi?”, “siapa dia?”, atau “mengapa mereka?.” 

Melalui enam kisah berbeda warna yang terkadang cerah ceria, namun seringkali cenderung suram, Salman Aristo memotret kehidupan warga Jakarta dengan menjumput segelintir sampel. Meski dituturkan secara sederhana, Jakarta Hati terasa istimewa lantaran kedalaman emosi yang disuntikkan ke dalam jalinan penceritaannya serta performa memukau dari jajaran pemainnya. 

Kemenangan besarnya di FFI 2012 tempo hari memang membuat dahi ini mengernyit, akan tetapi saya tidak menampik bahwa Tanah Surga... Katanya adalah salah satu film terbaik produksi anak bangsa dari tahun lalu. Naskah bernas garapan Danial Rifki sanggup berbicara lantang kala melancarkan sindiran-sindiran serta gugatan kepada pemerintah yang seolah masa bodoh terhadap nasib wong cilik. 

Inilah film romansa dari Indonesia yang memiliki cita rasa Korea Selatan. Hello Goodbye mempunyai takaran yang pas dan tidak kelewat berlebihan tatkala mengumbar romantisme. Dialog-dialognya yang mengalir lancar, kuat, dan lucu menjadi kekuatan utama dari film perdana Titien Wattimena ini disamping chemistry luar biasa antara Atiqah Hasiholan dengan Rio Dewanto serta soundtrack dari Eru yang bikin candu. 

8. Mata Tertutup 
Saat pertama kali menyimak Mata Tertutup, saya terperangah. Tidak hanya disebabkan oleh pengisahannya yang setapak demi setapak semakin membangkitkan minat serta emosi, tetapi juga setelah saya menyadari bahwa inilah pertama kalinya saya benar-benar bisa menikmati karya Garin Nugroho. Mata Tertutup yang dibuat dengan niat untuk keperluan pendidikan sama sekali tidak terasa menggurui berkat penyampaiannya yang personal. 

Rayya Cahaya di Atas Cahaya adalah sebuah film Indonesia yang sangat indah yang mengulik perjalanan seseorang yang memertemukannya dengan jati dirinya yang sebenarnya serta menemukan makna lain dari kebahagiaan. Menjadi sebuah ‘comeback’ yang sempurna bagi Viva Westi setelah terjebak dalam film-film ala kadarnya, film ini turut ‘bercahaya’ berkat kolaborasi akting Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo yang cemerlang serta tentunya deretan gambar yang memanjakan mata. 

Sebagian orang memilih untuk mengacuhkan film ini lantaran pilihan judulnya yang seolah menyiratkan bahwa ini film ‘nggak bener’. Sungguh sayang sekali jika Anda berpikiran seperti itu karena Test Pack adalah sebuah film drama komedi terkuat tahun lalu dengan jalinan kisah yang menggelitik sekaligus menguras emosi. Reza Rahadian berduet maut dengan Acha Septriasa yang memberikan akting terbaik dalam sejarah karirnya. Sangat pantaslah dia menenteng Piala Citra dari FFI 2012. 

Terlepas dari product placement-nya yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, Habibie & Ainun adalah sebuah film yang sangat cantik. Faozan Rizal memberikan sebuah bingkisan akhir tahun yang manis, lembut, dan hangat bagi masyarakat Indonesia. Sulit untuk tidak menitikkan air mata usai menyaksikan film ini di layar lebar. Kekuatan di sektor naskah dan teknis semakin ditunjang oleh akting kelas wahid dari Reza Rahadian yang nampak melebur dengan karakter yang dibawakannya. 

4. Lovely Man 
Teddy Soeriaatmadja dengan nekat mengapungkan tema yang provokatif bagi masyarakat Indonesia untuk film panjang keenamnya. Bertutur mengenai reuni penuh kecanggungan di suatu malam antara seorang gadis pesantren berjilbab dengan sang ayah yang menjelma sebagai waria di malam hari. Lovely Man yang memiliki penceritaan sangat baik dengan serangkaian dialog yang terasa intim, emosional, sekaligus menohok serasa kian menawan berkat sejumlah shot cantik yang terkandung di dalam film serta permainan sempurna dari Donny Damara dan Raihaanun. Dua jempol ke atas. 

3. Negeri di Bawah Kabut 
Dalam khasanah perfilman Indonesia, pengertian film dokumenter tidak jauh-jauh dari reportase investigatif. Yang berani untuk bereksperimen, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Negeri di Bawah Kabut adalah salah satu dari kelompok kecil itu. Cara bertuturnya yang mempergunakan alur dan dialog alih-alih berupa wawancara panjang menjemukan membuat film enak untuk disantap. Geli menyimak tingkah polah warga desa yang polos, terharu menyaksikan perjuangan mereka dalam mengatasi serangkaian permasalahan yang tidak henti-hentinya mendera, dan terkesima melihat panorama pegunungan Merbabu yang ‘Subhanallah’ cantik sekali. 

The Raid adalah jawaban atas pertanyaan ‘kapan perfilman Indonesia bisa membuat film laga yang seru?’ yang telah dilayangkan menahun. Tanpa dibekali skrip yang memadai, Gareth Evans tetap sanggup membuat penonton duduk manis di dalam bioskop dan terpukau menyaksikan gelaran aksi yang ditebar nyaris tanpa putus yang memacu adrenalin. Desingan peluru, baku hantam, hingga muncratan darah adalah apa yang akan Anda dapatkan saat menyaksikan film ini. Penonton terlalu sibuk untuk dibuat tegang, bersorak sorai, atau malah mengumpat sehingga dapat memaafkan plot-nya yang setipis kertas. 

Inilah film Indonesia yang paling membuat saya terkesan sepanjang 2012. Tanpa perlu berbasa basi mengupas problematika kehidupan yang rumit, Cita-Citaku Setinggi Tanah telah mencuri hati saya dengan kesederhanaannya. Yang dibicarakan oleh Eugene Panji di sini adalah impian seorang bocah SD untuk makan di restoran Padang. Kejujuran, ketulusan, dan kesederhanaan yang disuntikkan ke dalam penceritaan membuat film ini terasa begitu hangat, membumi, dan mengena. Sulit untuk dipercaya bahwa film sebagus ini merupakan hasil kerja keras dari para pemain dan kru yang mayoritas adalah orang baru di perfilman.


REVIEW : DEMI UCOK


"Keberhasilan perempuan Batak itu dinilai dari anaknya. Kalau anak kau lebih hebat dari anak mami, baru kau boleh sombong." - Mak Gondut 

Salah satu lagu anak nasional mempunyai penggalan lirik seperti ini, “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali...”. Hmmmm... tunggu sebentar, hanya memberi tak harap kembali, apakah lirik lagu ini dapat dibuktikan kebenarannya? Seorang ibu tulus memberi apapun kepada anaknya tanpa mengharapkan imbalan apapun? Jika meminjam istilah anak gahoel zaman sekarang, ‘ciyus, macacih, enelan’? Tidak juga. Seorang ibu pun tetaplah manusia, harapan mendapat balasan dari sang anak tentu bersemayam dalam hati. Beberapa mengungkapkan secara langsung, beberapa lainnya dipendam untuk mengetes kepekaan si buah hati. Mak Gondut (Lina Marpaung) terpaksa menyampaikannya secara terang-terangan lantaran gemas melihat putri semata wayangnya, Gloria (Geraldine Sianturi), masih betah untuk melajang meski usianya hendak melangkah ke kepala tiga. Glo, begitu sapaan akrab Gloria selain Gorilla, emoh untuk menikah dengan berdalih, “Glo tak mau seperti Emak. Kawin, lupa mimpi, and live boringly ever after.” Demi membujuk Glo untuk menikah, Mak Gondut mengiming-imingi suntikan dana sebesar Rp. 1 Milyar untuk proyek film kedua Glo yang jalan di tempat. 

Dalam kamus kehidupan Mak Gondut, ada tiga tujuan hidup perempuan Batak; menikah dengan pria Batak, mempunyai anak Batak, dan mencari menantu Batak. Mak Gondut kian cerewet dan pantang menyerah untuk menjodohkan Glo dengan pria Batak usai dirinya divonis oleh dokter bahwa usianya hanya tersisa satu tahun. Maka, dalam sisa film yang hanya memakan durasi sekitar 79 menit ini, penonton akan menyaksikan perang idealisme antara seorang anak perempuan yang memerjuangkan mimpinya dengan sang ibu yang sesungguhnya hanya ingin melihat putrinya hidup bahagia. Sammaria Simanjuntak yang mengawali karir film panjangnya melalui Cin(t)a yang indah dan terbilang berani mengapungkan permasalahan yang sensitif untuk sebagian kalangan, membawakan Demi Ucok secara ringan dan santai namun dihiasi dengan dialog-dialog cerdas, segar, jenaka, dan menohok. Sebagai pekerja film, maka sentilan tentang kondisi perfilman Indonesia saat ini yang kacau pun kudu dimasukkan. Salah satu conton, simak saja percakapan yang terjadi antara Glo dengan produser film horror Indonesia yang diperankan oleh Joko Anwar saat Glo mencoba untuk menawarkan naskah buatannya: 

“Ini sudah halaman 14, hantunya mana ini?” 
“Kalau terlalu sering muncul, nanti suspense-nya hilang.” 
“Itu kalau kau bikin film di barat. Film orang Indonesia itu tak ada yang mau mikir. Hantu itu muncul harus setiap dua menit sekali.” 

Atau salah satu dialog Gloria, “film Indonesia itu cuma butuh tiga hal; banci, hantu, dan susu.” Sammaria pun menghadirkan tokoh bernama Nikki (Saira Jihan) sebagai sahabat Glo yang menopang kebutuhan hidup dengan menjual dvd bajakan. Pada titik ini kita melihat posisi dilematis dvd bajakan; di satu sisi merugikan para pembuat film, namun di sisi lain menguntungkan sebagai lahan untuk memperoleh banyak referensi film dengan harga murah khususnya bagi sineas berkantong cekak. Tak hanya menyenggol kelamnya dunia perfilman, Sammaria pun asyik ‘curcol’ mengenai adat dan budayanya sendiri, Batak. Malahan, inilah yang menjadi kupasan utama dalam Demi Ucok. Pun begitu, Anda tak perlu khawatir tidak bisa menikmati joke-joke yang dilontarkan karena bagaimanapun, it’s everybody story. Tapi tentunya kelucuannya akan berlipat ganda apabila Anda memahami betul adat dan budaya Batak. 

Mengingat ini adalah film yang (katanya sih...) personal bagi Sammaria, maka dia tidak terlalu kesulitan dalam menuturkan kisah dan sanggup berbicara jujur apa adanya. Penonton pun digiring untuk memasuki ‘dunia Sammaria’ dengan bantuan tokoh bernama Gloria. Beruntung apa yang dialami dan dirasakan oleh sang sutradara yang juga merangkap sebagai produser dan penulis skrip ini tidak berbeda jauh dengan pengalaman saya dan Anda. Seperti yang telah saya sebutkan di paragraf sebelumnya, ini adalah kisah semua orang. Persoalan kita bersama. Diakui atau tidak, mirip sekali atau hanya sekadar nyerempet, rasa-rasanya kita pun pernah berada dalam posisi Glo, terutama bagi yang telah merasakan usia 20-an, rampung kuliah atau memasuki dunia kerja. Pertanyaan akan diawali dengan, “sudah punya pacar belum?”. Semakin lama, akan semakin merembet kemana-mana. Ketika di usia mapan tak juga menggandeng calon pendamping hidup, orang tua akan gusar dan mulai mencari info mengenai pria/wanita yang masih menjomblo di arisan RT, PKK, pengajian, gereja, atau komunitas untuk dijodohkan dengan putra/putri mereka. Ini tak hanya dilakukan oleh emak-emak Batak, tetapi juga emak-emak dari suku lain, karena ini masalah nasional. 

Sungguh membahagiakan di awal tahun 2013 kita sudah disambut oleh sebuah film Indonesia yang sangat layak untuk ditonton, Demi Ucok. Sammaria Simanjuntak mengapungkan sentilan untuk adat dan budaya Batak yang tergolong sensitif untuk dijamah serta kekacauan industri perfilman nasional dengan cara yang segar dan menyenangkan. Tidak ada kesempatan bagi Anda untuk mengerutkan dahi, hanya ada ledakan tawa tiada henti. Setidaknya, itulah yang saya alami. Sejak menit pertama hingga credit title mulai merayap, Sammaria membuat perut dan pipi saya terasa kencang menyaksikan tingkah polah Mak Gondut dan Gloria yang dimainkan secara natural nan apik oleh pendatang baru, Lina Marpaung dan Geraldine Sianturi. Chemistry yang terjalin diantara keduanya berpadu dengan manis, seolah-olah keduanya memang ibu dan anak betulan di luar layar. Kehadiran Saira Jihan, Sunny Soon (sebagai Acun, sahabat Glo yang bermimpi menjadi penyanyi), serta Nora Samosir semakin memarakkan suasana. Bagusnya lagi, Demi Ucok pun tak pernah jatuh ke dalam lubang kekonyolan dan slapstick yang berlebihan. Bahkan momen ber-drama ria yang seharusnya penuh dengan deraian air mata ditampilkan secukupnya saja tanpa didramatisasi berlebihan seperti kebanyakan film Indonesia. 

Apakah Anda adalah seorang Batak atau bukan, tidak menjadi soal. Demi Ucok sekalipun kerap bermain-main dalam humor yang cakupannya terbilang ‘segmented’, tetap bisa dinikmati oleh kalangan luas. Naskah bernas buatan Sammaria Simanjuntak tersampaikan dengan apik berkat pengarahannya yang lincah, akting serta chemistry manis dari para pemain, serta departemen teknis (mulai dari tata artistik, musik, hingga sinematografi) dimanfaatkan secara tepat guna. Jarang sekali saya bisa tertawa puas menyaksikan sebuah film Indonesia di layar lebar. Saya bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali mengalaminya. Ini benar-benar sebuah pengalaman yang menggembirakan. Bahkan, tidak cukup hanya sampai di sana, Demi Ucok pun membuat saya merindukan ibu yang telah berpulang setahun lalu. Apabila Anda memiliki rencana untuk menyimak Demi Ucok di bioskop tapi tak ada teman, jangan ragu-ragu untuk mengajak ibunda. Pengalaman yang dihasilkan tentunya akan jauh berbeda. Siapa tahu seusai menonton akan saling berpelukan atau berupaya untuk memahami dunia masing-masing.

Outstanding




10 Film Indonesia yang Pernah Masuk Seleksi Ajang Oscar



Setiap tahunnya, Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) memilih satu film produksi sineas Indonesia untuk menjadi wakil negara dalam ajang prestisius, Academy Awards.

Sejak tahun 1984, setiap tahunnya PPFI mengirimkan sebuah film untuk berkompetisi dengan puluhan film dari negara-negara lain dalam kategori Best Foreign Languange Film. Memang hanya 5 yang nantinya diumumkan di pesta puncak ajang Oscar dan sayangnya wakil Indonesia belum pernah masuk ke 5 besar setiap tahunnya.

Tahun ini, Indonesia mengirimkan SANG PENARI untuk ikut dalam seleksi. Film, garapan Ifa Isfansyah ini sebelumnya menang sebagai Film Terbaik FFI 2011. Adaptasi novel RONGGENG DUKUH PARUK karya Ahmad Tohari ini kini menjadi harapan perfilman Indonesia untuk lebih dikenal dunia lewat ajang sebesar Oscar.

Menang atau tidak itu persoalan nanti, yang pasti Indonesia patut bangga karena film-filmnya diakui juri Oscar sebagai kontestan yang patut diperhitungkan.

Yuk intip film apa saja yang pernah menjadi wakil Indonesia!

1. Sang Penari (Tiny Dancer)

Novel RONGGENG DUKUH PARUK karya Ahmad Tohari diadaptasi dengan baik oleh Ifa Isfansyah. Garapannya ini menghasilkan Piala Citra FFI 2011 sebagai Film Terbaik.

SANG PENARI bercerita tentang cerita cinta antara Rasus (Oka Antara) dan Srintil (Prisia Nasution) dengan setting desa miskin di era 1960-an. Keduanya saling mencinta.

Akan tetapi, Srintil yang dipercaya sebagai titisan ronggeng harus mengabdikan diri kepada seluruh warga desa. Rasus merasa cintanya dirampas, ia pun memutuskan pergi dari desa untuk menjadi tentara.

Rasus yang terus memendam cintanya memutuskan untuk kembali ke desa demi menemui Srintil. Keputusannya ini menuntunnya ke sebuah persimpangan, antara membela negara dan merebut cintanya kembali.

2. Dibawah Lindungan Kabah (Under The Protection Of Kabah)

Hanny R Saputra mengangkat kisah novel karya Buya Hamka menjadi drama cinta yang megah dan mendayu. DI BAWAH LINDUNGAN KABAH dipilih mewakili Indonesia pada ajang Oscar 2012.

Film yang dibintangi oleh Herjunot Ali dan Laudya Chintya Bella ini mengambil setting daerah Minangkabau, Sumatera Barat, di era 1920an. Hamid (Junot) dan Zainab (Bella) tak bisa mempersatukan cinta mereka karena perbedaan kelas sosial (ekonomi) mereka. Hal tersebut tak membuat keduanya patah semangat untuk merajut cinta dan berbagi impian.

Keduanya harus berjuang terus membuktikan bahwa setiap orang berhak mencintai dan dicintai. Cinta keduanya pun diuji dengan berat saat Hamid diusir dari kampung atas tuduhan melanggar norma susila, sedang Zainab akan dijodohkan oleh orang tuanya.

3. Alangkah Lucunya Negeri Ini (How Funny This Country Is)



Muluk (Reza Rahadian) adalah sarjana lulusan S1 yang kesulitan mendapat pekerjaan meski sudah melamar ke sana ke mari. Pencariannya yang panjang akhirnya berakhir pada sebuah kelompok pencuri yang sebagian besar terdiri dari anak-anak. Demi memperoleh status "pekerja", Muluk menawarkan diri menjadi manajer hasil curian di kelompok tersebut.

Film garapan Deddy Mizwar ini menawarkan banyak sekali kritik sosial kepada masyarakat tenang persoalan sosial, agama, norma, sampai budi pekerti. Tokoh Muluk dalam cerita ini dibenturkan pada dilema antara mengentaskan pencuri-pencuri kecil tersebut atau tidak melakukan apa-apa karena ia tahu hal tersebut pasti ditentang oleh lingkungan sosial.

Alangkah Lucunya Negeri Ini menjadi wakil Indonesia untuk Oscar tahun 2011, namun tidak berhasil sampai 5 besar.

4. Jamila dan Sang Presiden (Jamila And The President)


Duet Atiqah Hasiholan dan Christine Hakim diarahkan oleh Ratna Sarumpaet untuk bermain apik dalam film drama politik berat berbalut kisah pembunuhan.

Jamila (Atiqah Hasiholan) adalah seorang pekerja seks komersial yang dipenjara karena telah membunuh seorang menteri. Selama di penjara, sipir Ria (Christine Hakim) mencari tahu tentang latar belakang Jamila dan apa yang menjadi sebab ia menjadi pembunuh.

Film ini dengan gayanya yang kelam memaparkan tentang perdagangan manusia yang marak terjadi di negara berkembang, khususnya Indonesia.

Jamila dan Sang Presiden diikutkan seleksi pada Oscar 2010 dan tak berhasil lolos ke peringkat 5 besar.

5. Denias Senandung Diatas Awan (Denias Singing In The Cloud)

Sutradara John de Rantau mengajak kita ke tanah Papua dan mengenalkan pemandangannya yang indah lewat Denias. Seluruh lanskap indah tanah Papua direkam dan dimasukkan ke dalam film.

Akan tetapi bukan itu yang membuat film ini kuat. Kisah Denias (Albert Fakdawer), seorang anak yang hidup di desa terpencil Papua, dalam memperjuangkan hak pendidikan lah yang patut diacungi jempol.

Denias bersaing dengan THE PHOTOGRAPH dan juga OPERA JAWA untuk ajang seleksi tahun 2008. Film ini akhirnya terpilih meski pada akhirnya tak bisa masuk 5 besar.

6. Berbagi Suami (Love For Shared)

Berbagi Suami menceritakan 3 kisah para wanita dari berbagai kelas sosial, agama, dan etnis. Meski berbeda latar belakang, ketiganya sama-sama menyoal tentang isu poligami.

Ketiga kisah di dalam film antara lain:

Kisah Salma (Kalangan atas, etnis Betawi)
Kisah Siti (Kalangan bawah, etnis Jawa )
Kisang Ming (Etnis Cina)
Didukung oleh ensemble cast yang mumpuni, ketiga kisah yang ternyata berkaitan satu sama lain ini menjadi sebuah suguhan drama bermutu yang berisi kritik sosial.

Berbagi Suami diikutsertakan dalam ajang Oscar 2007 namun tak berhasil mencapai 5 besar.

7. GIE

Dari CATATAN SEORANG DEMONSTRAN, Riri Riza menghasilkan karya yang megah serta kolosal. Dalam penggarapannya, Riri melibatkan banyak orang baik sebagai pemeran utama dan pendukung, mau pun para figuran.

GIE bercerita tentang sosok Soe Hoe Gie (Nicholas Saputra), mahasiswa Universitas Indonesia yang kritis sebagai aktivis dan juga seorang pecinta lingkungan. Film ini merupakan biopik kehidupan sang aktivis dengan sedikit dramatisasi.

Soe Hoe Gie semasa hidupnya terus memperjuangkan keadilan di Indonesia. Salah satu tujuannya menggerakan mahasiswa untuk menggulingkan rezim Soekarno meski sejatinya ia menghormati Soekarno sebagai founding father Indonesia. GIE menyorot tentang usahanya tersebut serta kehidupannya selepas rezim Soekarno runtuh.

GIE berhasil menjadi Film Terbaik FFI 2005. Keikutsertaannya dalam ajang Oscar 2005 tak sampai 5 besar kandidat Best Foreign Language Film.

8. Biola Tak Berdawai (Stringless Volin)

Biola Tak Berdawai bercerita tentang kehidupan Renjani (Ria Irawan), seorang balerina yang sedang memulihkan diri akibat pernah diperkosa. Dalam pemulihan dirinya tersebut, Renjani memutuskan untuk membangun sebuah panti asuhan.

Niat mulianya tersebut mempertemukannya dengan orang-orang baru dalam kehidupannya, seperti Dr. Wid (Jajang C Noer), seorang dokter yang adalah anak dari seorang pelacur dan juga Dewa (Dicky Lebrianto) seorang anak cacat yang mengalami distorsi fungsi otak.

Rasa sayang Renjani kepada Dewa membuatnya bertekad untuk terus merawat "anaknya" tersebut. Sampai suatu saat ia tahu bahwa Dewa bisa sembuh dengan terapi musik. Ia pun bertemu dengan Bhisma (Nicholas Saputra) seorang pemain biola yang membantunya untuk menyembuhkan Dewa.

Film drama yang punya ending mengejutkan ini disutradarai oleh Sekar Ayu Asmara.

9. Ca Bau Kan (The Courtesan)



Ca Bau Kan adalah film drama yang diangkat dari novel karya Remy Sylado. Setting ceritanya mencakup zaman kolonial Belanda di era 1930-an, pendudukan Jepang pada 1940-an, sampai pasca-kemerdekaan tahun 1960.

Ca Bau Kan dalam bahasa Hokkian punya arti "perempuan". Pada saat zaman kolonial istilah ini diasosiasikan dengan pelacur, gundik, atau perempuan simpanan orang Tionghoa.

Film ini mengangkat kisah kehidupan seorang wanita pribumi bernama Tinung (Lola Amaria), seorang ca-bau-kan yang hidup di daerah Kaljodo, Batavia. Kehidupan Tinung berat dan berliku, namun sejak pertemuannya dengan Tan Pen Liang (Ferry Salim), ia bisa menata hidupnya kembali meski melalui perjuangan panjang.

Film ini disutradarai oleh Nia di Nata, dan dimainkan antara lain oleh Niniek L. Karim, Ferry Salim dan Lola Amaria.

10. Daun Diatas Bantal (Leaf On A Pillow)

Daun Diatas Bantal adalah film garapan salah satu maestro perfilman tanah air, Garin Nugroho. Film yang berkisah tentang kehidupan anak jalanan di kota Yogyakarta ini makin kuat dari segi keaktingan dengan hadirnya Christine Hakim sebagai ibu Asih.

Yang membuat film ini unik selain ceritanya yang solid adalah para pemerannya yang terdiri dari anak-anak jalanan sungguhan. Dengan cerdik Garin mengarahkan mereka memerankan kisah mereka sendiri.

Meski tak lolos nominasi Oscar, Daun Diatas Bantal masuk Un Certain Regard section pada Cannes Film Festival 1998.




sumber | iniunic.blogspot.com | http://www.kaskus.co.id/thread/50e19601e974b4680100002e/10-film-indonesia-yang-pernah-masuk-seleksi-ajang-oscar/