Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

REVIEW : HABIBIE & AINUN


"Setiap terowongan pasti memiliki ujungnya. Setiap ujungnya pasti ada cahaya. Saya janji akan membawamu ke cahaya itu." - Rudy Habibie

Begini, anggap saja saya sedang tidak ingin bertele-tele dalam menyampaikan maksud tulisan atau Anda sedang tidak rela membuang waktu untuk membaca tulisan saya ini yang mungkin akan melebar kemana-mana di paragraf-paragraf selanjutnya. Maka, dengan menimbang dua alasan tersebut, saya akan memulai ulasan teranyar buatan saya ini dengan sebuah kesimpulan dari hasil menyantap Habibie & Ainun selama kurang lebih dua jam di layar lebar tempo hari. Dengan senyum manis terurai dari bibir saya yang indah, saya akan berkata kepada Anda, Habibie & Ainun adalah sebuah film yang cantik. Salah satu dari sejumlah film Indonesia yang berhasil tampil mengagumkan di tahun 2012. Bersanding dengan 5 cm, yang sejatinya agak mengecewakan saya, Habibie & Ainun menggoreskan catatan manis bagi perfilman nasional di penghujung tahun. Saya cukup yakin, Bapak B.J. Habibie menyunggingkan senyum penuh kelegaan di kursi bioskop yang empuk kala mengetahui bahwa buku memoir yang digarapnya dituangkan ke dalam bahasa gambar oleh Faozan Rizal secara bersahaja. 

Habibie & Ainun sedikit banyak mengingatkan saya kepada The Lady besutan Luc Besson dari sisi penceritaan. Kedua film ini adalah sebuah biopik dari seorang tokoh di suatu negara, akan tetapi baik Habibie & Ainun maupun The Lady lebih menekankan kepada kisah cinta dari sosok penting tersebut dengan turut menyoroti orang paling berjasa dan paling dicintai bagi B.J. Habibie dan Aung San Suu Kyi. Apabila Suu Kyi mempunyai Michael Aris, maka B.J. Habibie didampingi oleh Hasri Ainun Besari yang senantiasa memberi dukungan penuh kepada suaminya sejak pertama kali merintis karir di negeri orang hingga menjalani ‘kehidupan normal’ usai dilengser dari kursi kepresidenan. Pertemuan dari dua sejoli ini bermula ketika keduanya masih duduk di bangku SMP. Belum ada percikan asmara diantara mereka saat itu, malah Habibie secara terang-terangan menyebut Ainun seperti gula jawa lantaran penampilan fisiknya yang kurang cihuy. Tapi yang namanya jodoh ya, tidak akan lari kemana meski Habibie (Reza Rahadian) telah ‘terlempar’ ke Jerman sementara Ainun (Bunga Citra Lestari) masih berdiri tegak di atas bumi pertiwi. Nyaris satu dekade mereka berpisah, keduanya kembali bertemu di rumah Ainun dimana benih-benih cinta diantara mereka mulai menampakkan diri. Si gula jawa rupanya telah bermetamorfosis menjadi gula pasir. 

Tahap penjajakan tidak berlangsung lama, keduanya mantap membawa hubungan percintaan ini ke tingkatan yang lebih serius dengan mengikat janji suci melalui jalinan pernikahan. Apa yang akan saksikan dalam menit-menit berikutnya adalah perjuangan dari mantan Presiden Republik Indonesia yang ketiga ini dari bukan siapa-siapa, menjadi seorang insinyur, diangkat menjadi menteri, merangkak ke posisi wakil presiden, hingga akhirnya ditahbiskan sebagai presiden Republik Indonesia. Nah, jika ini pada akhirnya ini adalah sebuah film biopik dari Pak Habibie, lantas mengapa nama Ibu Ainun turut dicatut sebagai judul? Well... seperti yang telah saya jelaskan sedikit di paragraf sebelumnya, meski Habibie & Ainun adalah film biopik seorang tokoh, namun fokus utama justru kepada kisah cinta yang terjalin antara Pak Habibie dengan Bu Ainun. ‘Behind every great man, stands a great woman.’ Kehadiran Ainun menguatkan Habibie, begitu pula sebaliknya. Saling memberikan dukungan, dan saling mengingatkan ketika salah satu berbuat kesalahan. Setiap momen istimewa dan ikonik dari kehidupan Pak Habibie dan istri ini berhasil dirangkum dalam skrip luar biasa dan bernyawa hasil racikan Ginatri S Noer dan Ifan Ismail. Beruntung, sutradara debutan, Faozan Rizal, pun sama sekali tidak terlihat gugup menuangkan kisah hidup salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa ini ke dalam bahasa gambar sehingga hasil akhir yang terpampang di layar lebar adalah berupa film yang cantik. 

Apalah artinya Habibie & Ainun apabila tidak mendapat sokongan yang memadai dari departemen akting. Anda boleh saja mengeluh bahwa Reza Rahadian terlalu tampan, terlalu tinggi, terlalu tegap, dan terlalu terlalu lainnya untuk menggambarkan sosok B.J. Habibie, akan tetapi saya pribadi sangat puas melihat aktingnya. Setelah beberapa peran yang menjemukan, Reza Rahadian kembali membuat saya terpukau melalui Test Pack: You’re My Baby dan akhirnya... dia memberikan kemampuan akting terbaiknya dalam film ini! Gestur tubuh dan gaya bicara Pak Habibie yang sangat khas berhasil diadopsinya dengan tepat tanpa terkesan dibuat-dibuat. Coba pejamkan saja mata Anda, bergantunglah kepada indera pendengaran, dan Anda akan seolah-olah mendengar Pak Habibie bukan Reza Rahadian sedang berbicara. Sangat mirip. Rekan main Bang Reza di sini, Bunga Citra Lestari, pun menyuguhkan sebuah performa yang memikat. Saya sempat meragukan Neng BCL ketika mengetahui dia terpilih untuk memerankan Bu Ainun, bahkan dalam trailer pun tak meyakinkan. Namun saya harus menjilat ludah saya sendiri tatkala menyimak film ini secara utuh. Kasih sayang, kegelisahan, rasa khawatir, hingga batin yang bergejolak ditampilkan dalam emosi yang tepat. Chemistry yang terjalin dengan Reza Rahadian pun terasa padu, hangat, dan menawan. 

Jika saya meneruskan celotehan ini demi memenuhi kuota review seribu kata, maka saya akan mengatakan bahwa jika Anda melongok ke sisi teknis, Habibie & Ainun pun memperoleh dukungan yang kuat. Ipung Rachmat Syaiful selaku penata gambar menyajikan gambar-gambar indah yang mampu mendukung film secara keseluruhan. Belum ditambah di departemen musik dimana Tya Subiakto sanggup memunculkan ilustrasi musik yang cukup megah dan lagu ‘Cinta Sejati’ yang dibawakan oleh Bunga Citra Lestari turut menyuntikkan emosi. Habibie & Ainun pun siap untuk melenggang mendapat skor sempurna sebelum akhirnya saya menyadari... ini adalah produksi dari MD Pictures! Whoaaa... apakah ini sentimen pribadi? Bukan, sama sekali bukan. Apakah Anda masih ingat apa yang telah diperbuat oleh PH yang satu ini kepada Di Bawah Lindungan Ka’bah? Jika masih, ya, Anda tidak salah, hal itu kembali terulang di sini, product placement yang seenak jidat. Gerry Chocolatos yang fenomenal kembali mengulang perannya yang untuk sekali ini (untungnya!) tak dipaksa untuk ‘memakai’ kemasan vintage. Si Gerry pun tak sendirian. Dia turut mengajak rekan-rekannya dari masa depan untuk meramaikan suasana seperti Wardah, Sirup Markisa Pohon Pinang, Freshcare, hingga e-Toll. Sungguh sangat meriah, bukan? Berhubung saya sedang berbaik hati, maka saya tidak akan terlalu memusingkan tindakan penyusupan tersebut. Anggap saja, itu adalah salah satu cara untuk menciptakan gelak tawa penonton di tengah-tengah suasana serba serius dan suram. Sedikit ber-positive thinking ria bolehlah. 

Saya telah selesai menunaikan tugas saya untuk menyampaikan unek-unek yang terpendam di kepala selama dua hari kepada Anda. Persoalan apakah setelah membaca ulasan yang panjang dan memusingkan ini Anda akan tergerak untuk menyaksikan Habibie & Ainun atau tidak di layar bioskop, berpulang kepada Anda. Tidak ada paksaan. Saya hanya akan mengatakan kepada Anda – untuk terakhir kalinya sebelum ulasan ini benar-benar diakhiri – bahwa ini adalah sebuah sajian yang manis, lembut dan hangat di penghujung tahun 2012. Tidak pernah terbayangkan saya akan mencintai film ini. Faozan Rizal telah menjalankan tugas perdananya sebagai ‘pemimpin orkestra’ dengan sangat baik. Pandangan saya terhadap Pak Habibie dan (almarhumah) Bu Ainun seusai menyimak film ini berubah seketika. Rasa kagum dan simpati yang mendalam saya haturkan untuk mereka berdua. Bahkan, saya tidak malu-malu untuk mengakui bahwa saya tidak kuasa untuk membendung air mata kala film mencapai klimaksnya. Ketika sebuah film sukses membuat mata saya sembab, maka saya akan berkata bahwa film tersebut adalah film yang bagus. Emosi berhasil dilibatkan, dibangkitkan dan diaduk-aduk sedemikian rupa.

Exceeds Expectations




REVIEW : JAKARTA HATI


"Oh, ternyata pacar kamu yang bikin istri saya mabuk laut?"

‘Ini jantung ibukota, dimana hatinya?’. Begitulah tagline dari film panjang kedua karya Salman Aristo, Jakarta Hati. Setelah menelurkan sebuah karya yang apik melalui Jakarta Maghrib, Salman Aristo nampaknya ketagihan untuk mengulik serba-serbi kehidupan Jakarta yang sebelumnya telah dia paparkan secara garis besar melalui film perdananya. Ya, Jakarta dalam Jakarta Maghrib tak ubahnya kota-kota besar lain di Indonesia. Apa yang terjadi di sana dapat pula terjadi di kota lain terlebih permasalahan yang diangkat umum terjadi di kota besar. Penggambarannya pun hanya sebatas pada gang-gang sempit dan perumahan. Nah, melalui Jakarta Hati, kesalahan-kesalahan dari film sebelumnya mencoba untuk ditebus. Nyaman dengan apa yang telah diperbuatnya, di sini pun pak sutradara yang juga merangkap sebagai penulis naskah, lagi-lagi menerjemahkan ide-idenya dalam bentuk film omnibus. Tak lagi terbagi ke dalam lima kisah pendek, akan tetapi meningkat menjadi enam kisah pendek. Isu yang diapungkan pun lebih serius. Meski belum mencapai sebuah kesempurnaan, namun Salman Aristo sedikit banyak telah berhasil menggambarkan kerasnya kehidupan di Jakarta melalui enam kisah berbeda warna. 

Jakarta Hati dibuka dengan segmen ‘Orang Lain’ yang menampilkan Surya dan Saputra dan Asmirandah. Tidak ada tokoh lain dalam segmen ini, hanya mereka berdua. Yang menjadi pondasi cerita untuk membangun konflik di sini adalah perselingkuhan. Dua orang asing yang tidak saling mengenal bertemu di kafe pada suatu malam untuk akhirnya saling menyadari bahwa mereka dikhianati pasangan masing-masing. Tapi, benarkah mereka dikhianati... atau justru sebaliknya? Kurang tepat menempatkan segmen ini sebagai sebuah penghantar untuk menjelajahi hati ibukota. Jalinan penceritaannya dituturkan terlalu puitis yang mau tidak mau memaksa penonton untuk memutar otak. Mungkin hasilnya akan lebih baik jika segmen ini digeser ke posisi kedua atau ketiga. Dengan hidangan pembuka yang sedemikian berat, belum juga menikmati hidangan utama, penonton sudah kekenyangan. Atau dalam hal ini, otak sudah keburu keriting. Sungguh sangat disayangkan, bukan? 

Segmen kedua ‘Masih Ada’ yang menghadirkan Slamet Rahardjo menjadi favorit dari kebanyakan teman-teman saya. Di sini, Salman Aristo mencoba untuk mengapungkan kritik sosial kepada anggota DPR RI yang seolah (atau memang benar adanya) masa bodoh dengan nasib ‘wong cilik’ yang seharusnya menjadi perhatian utama mereka. Seorang anggota DPR mengalami kesialan di suatu pagi yang membuatnya terpaksa merasakan kehidupan ‘wong cilik’ meski hanya beberapa menit. Disampaikan dengan dialog yang jenaka dan menyentil serta didukung permainan apik dari Slamet Rahardjo, secara mudah segmen ini menjadi salah satu yang terkuat walaupun durasi yang terbatas membuat konflik kurang tergali lebih mendalam dan menggampangkan persoalan. Saya pribadi lebih menyukai segmen ‘Kabar Baik’ yang tanpa diduga sanggup membuat Andhika Pratama mengeluarkan kemampuan aktingnya secara maksimal dan mengimbangi akting dari Roy Marten yang cemerlang. Kisah ‘reuni’ ayah dan anak setelah bertahun-tahun tidak berjumpa di sebuah kantor polisi ini mengalir dengan lancar melalui dialog yang renyah dan bikin gregetan. Hati ini tersentuh saat sebuah rahasia besar terungkap. Saya benar-benar ingin memeluk ayah saya kala itu. 

Masih ada tiga segmen yang tersisa dimana ketiganya mampu membawa Jakarta Hati ke tingkatan yang lebih tinggi dan melampaui pencapaian film sebelumnya. Segmen ‘Hadiah’ yang dibintangi oleh Dwi Sasono sedikit banyak mengingatkan pada ‘Jalan Pintas’ dari Jakarta Maghrib. Bukan, ini bukan mengenai hubungan percintaan, melainkan mengangkat fenomena dari dunia yang membesarkan nama Salman Aristo, dunia film. Seorang penulis skenario terserang dilema tatkala dia mendapat tawaran untuk menulis skenario sebuah film komedi seks berjudul Pocong Impoten di kala kondisi finansial keluarganya tengah sekarat. Pilihan yang bisa dipilih hanya ada dua, memerjuangkan atau mengorbankan idealisme demi segepok uang. Kekuatan dari segmen ini terletak pada performa dari Dwi Sasono yang apik sebagai penulis skenario yang belum siap untuk merelakan integritas dirinya. Rasa cemas, bimbang, marah, sedih, dan kecewa disalurkan melalui ekspresi wajah dan gerak tubuh yang meyakinkan sehingga membuat penonton turut merasakan kegundahan hatinya. Sisi emosional di segmen ini tergali dengan apik selayaknya segmen ‘Kabar Baik’. 

Berlanjut ke segmen kelima, ‘Dalam Gelap’, dimana kamera statis dimanfaatkan, tak ada penerangan, dan ruang gerak terbatas maka secara otomatis dialog dan akting dari Agni Pratistha serta Dion Wiyoko – dalam hal ini, bahasa tubuh – menjadi motor penggerak. Segmen ini seolah ingin menyinggung masyarakat di kota besar dewasa ini yang individualis, egois, dan menyepelekan pentingnya komunikasi. Lingkupnya tak seluas ‘Menunggu Aki’ dari Jakarta Maghrib, malah hanya sebatas pada pasangan suami istri. Pemadaman listrik bergilir yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Jakarta memaksa pasangan ini untuk berbicara satu sama lain. Meski memiliki kemasan paling sederhana di antara kelima segmen lainnya, ‘Dalam Gelap’ justru berteriak paling lantang terlebih permasalahan yang diangkat bisa menimpa siapa saja. Di era jejaring sosial, banyak orang lebih memilih untuk berceloteh di dunia maya ketimbang melakukan komunikasi langsung yang seringkali dianggap sebagai momok. Masing-masing tenggelam di dalam dunianya sendiri, ‘kepo’ dengan urusan orang lain, dan mengabaikan persoalan pribadi yang justru lebih penting. 

Sebagai sebuah penutup, ‘Darling Fatimah’ dituturkan dengan penuh keceriaan setelah kelima segmen sebelumnya penuh dengan perenungan. Berkisah mengenai Fatimah (Shahnaz Haque), pedagang kue keturunan Pakistan di Pasar Senen dengan mulut yang susah untuk dikontrol, kala melayani para pelanggannya dan seorang broker pemesanan kue yang mengajaknya berbicara soal cinta. Mengambil latar Pasar Senen di suatu pagi, Salman Aristo mencoba untuk memotret sebuah tempat yang memertemukan berbagai macam etnis. Keberagaman suku bangsa dan budaya menjadi salah satu bagian dari ibukota. Ini cukup tergambarkan melalui perbincangan antara Fatimah dan Ayun (Framly Nainggolan) yang sempat nyerempet ke dalam kehidupan pribadi Fatimah yang seorang janda. Kegetiran hidup tetap menjadi pokok permasalahan disini, namun Salman Aristo menghindari air mata dan lebih memilih jalan komedi untuk menghantarkan kisah. Sebuah keputusan yang tepat. Akting dari Shahnaz Haque yang sangat menghibur membuat segmen ini terasa hidup dan menyegarkan. 

Pada akhirnya, Salman Aristo pun mampu menuntaskan misinya dengan nyaris sempurna. Jakarta Hati tampil lebih baik ketimbang Jakarta Maghrib yang terkadang terlalu puitis dalam bertutur dan kurang menggambarkan sosok Jakarta. Melalui Jakarta Hati, penonton mendapat gambaran bagaimana kehidupan di ibukota yang keras dan seringkali tidak memiliki hati. Salman Aristo berhasil memotret ibukota – meski terkadang saya merasa beliau terlalu baik hati dalam memerlihatkan wajah Jakarta, dengan sudut pandang yang lebih luas dan bervariatif melalui enam kisah yang dikemas secara sederhana, namun memiliki kedalaman emosi dan sangat hangat, khususnya segmen ‘Kabar Baik’ dan ‘Hadiah’. Kecermatan Salman Aristo dalam mengolah naskah sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah jalinan penceritaan yang renyah turut terbantu berkat permainan akting yang cemerlang dari para pemain film ini. Sebut saja Slamet Rahardjo, Dwi Sasono, Roy Marten, Andhika Pratama, Agni Pratistha, Dion Wiyoko, hingga Shahnaz Haque. Mereka dengan senang hati menyumbangkan kemampuan akting terbaik mereka demi film ini. Memang, masih ada satu dua segmen yang dirasa masih terkesan menggampangkan persoalan atau terlalu puitis dalam berkisah, akan tetapi ini sesuatu yang wajar dalam sebuah film omnibus. Pasti ada satu dua yang ‘kurang sedap’. Pun demikian, Jakarta Hati masih tetap mampu tampil gemilang berkat kelihaian bercerita Salman Aristo yang makin mengagumkan serta tentunya dukungan penuh dari para pemain. Tidak berlebihan rasanya jika saya menyebut Jakarta Hati sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.

Exceeds Expectations




REVIEW : HELLO GOODBYE


"Kamu jangan marah sama perpisahan. Memaki perpisahan sama aja kamu mengutuk pertemuan." - Indah

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Korea Selatan melesak ke posisi atas sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler, setidaknya bagi warga Asia. Popularitas negara ini terbantu oleh produk dari industri hiburan mereka yang tergabung dalam ‘Korean Wave’ yang telah hampir satu dekade menjadi virus yang menginfeksi generasi muda. Tidak hanya Indonesia yang mengakui pesona Negeri Gingseng ini. Sebelumnya, Thailand melalui film bertajuk Hello Stranger telah menyoroti bagaimana fenomena demam Korea merebak di kalangan muda-mudi negara yang dipimpin oleh Raja Rama IX tersebut. Alurnya klasik, dua orang asing yang berasal dari negara yang sama tidak sengaja berjumpa dengan rasa benci atas satu sama lain sebelum akhirnya benih-benih cinta tumbuh. Akan tetapi cara kemasnya yang menarik membuat film menjadi enak untuk disimak. Beberapa tahun berselang setelah Hello Stranger dilempar ke pasaran, Indonesia mengikuti langkah dari negara tetangga. Film perdana Titien Wattimena sebagai sutradara, Hello Goodbye, memboyong setting ke Korea Selatan – atau dalam film ini bertempat di Busan. Konflik yang diangkat pun tak berbeda jauh dengan Hello Stranger hanya saja dituturkan lebih kalem, lebih dewasa, dan lebih manis di sini. 

Hello Goodbye memperkenalkan kita kepada Indah (Atiqah Hasiholan) yang bekerja sebagai staf Konsulat Jenderal RI di Busan. Layaknya para pegawai anyar yang pertama kali ditempatkan jauh dari kampung halaman, Indah pun seringkali dihantui oleh ‘homesick’. Menetap di negeri orang dengan kultur dan bahasa yang sama sekali berbeda, maka bukan sesuatu yang mengherankan jika Indah kerap merasa kesepian sekalipun memiliki teman satu rumah (Kenes Andari) yang senantiasa menebar keceriaan. Rasa jenuhnya sedikit terobati setelah sang atasan mengutus Indah untuk menangani Abi (Rio Dewanto), seorang ABK asal Indonesia yang terkena serangan jantung. Bukanlah persoalan yang mudah berhadapan dengan Abi yang tak bisa mengontrol temperamennya. Pertengkaran menjadi santapan Indah sehari-hari setiap kali menemani Abi di rumah sakit. Apa yang menjadi harapan Indah kala itu adalah menuntaskan pekerjaannya dan kembali kepada kehidupan normalnya (atau kehidupan yang monoton?). Akan tetapi, Anda tentu sudah menduga harapan itu tidak akan terwujud karena saat ini Anda tengah menyaksikan film drama romantis. Wajib hukumnya timbul percikan asmara diantara dua insan yang saling membenci satu sama lain ini. Apakah itu akan terjadi dalam film ini? Oh tentu saja! Tunggu saja setelah Abi dan Indah mulai menyadari tindakan bodoh nan kekanak-kanakan masing-masing. 

Untuk urusan menggoreskan tinta di atas kertas, Titien Wattimena tak perlu diragukan lagi. Dia adalah salah satu yang terbaik. Sangat jarang saya dikecewakan oleh film yang berdasar pada naskah garapan beliau. Sebuah ide cerita yang sederhana mampu disulap oleh Mbak Titien menjadi jalinan cerita yang renyah, cerdas, dan berisi. Dalam Hello Goodbye, bebannya bertambah karena untuk sekali ini dia tidak hanya berceloteh dalam bentuk tulisan semata, namun turut bertanggung jawab mengejewantahkan imajinasinya ke bahasa gambar. Dan usahanya sebagai sutradara – setelah sebelumnya telah berlatih sebagai astradara dalam sejumlah film, patut mendapat acungan dua jempol. Dia mampu mewujudkan ide-idenya dalam bentuk audio visual dengan sangat cantik. Sebagai sebuah drama romantis, Hello Goodbye mempunyai takaran yang pas dan tidak kelewat lebay untuk urusan mengumbar romantisme. Dialog-dialognya yang mengalir lancar, kuat, dan lucu menjadi kekuatan utama film yang gaya tuturnya seperti perpaduan antara serial dan film Korea dengan Hello Stranger serta Before Sunrise ini. Untuk sesaat Anda akan lupa bahwa apa yang tersaji di layar adalah buatan anak bangsa, dalam artian positif tentunya. Tidak ada upaya untuk ‘sok Korea’ atau menjiplak, ‘hiasan’ di sini tak lebih dari sekadar terinspirasi untuk kemudian dihidangkan dengan cara yang berbeda. 

Skrip buatan Mbak Titien yang manis, menyenangkan, dan membuat gregetan akan terasa hambar apabila tidak mendapat dukungan dari departemen lain. Beruntunglah Hello Goodbye memiliki Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto yang mempertontonkan chemistry mereka yang sungguh luar biasa! They are such a loveable couple. Penampilan kuat mereka memberikan energi serta semangat kepada skrip yang memiliki potensi berjalan datar apabila tidak mendapat penangan serta sokongan yang tepat. Berkat dua bintang inilah dialog terasa hidup. Dialog yang berisi percakapan yang terkadang ketus, penuh makna, lucu, dan sedih. Saya pun dibuat betah duduk di dalam bioskop tanpa sekalipun ingin muntah atau menengok jam di ponsel. Apa yang akan terjadi dalam hubungan Abi dan Indah selanjutnya sedap untuk disimak. Berulang kali saya mendengar penonton lain berteriak ‘Awww...’, ‘So sweet...’ dan bentuk ekspresi-ekspresi lainnya. Puncaknya tentu saja pada adegan akhir yang membuat gemas maksimal hingga membuat saya ingin menelan keranjang popcorn bulat-bulat. Segalanya semakin manis dan indah berkat Yunus Pasolang yang pandai dalam mengabadikan pemandangan Busan yang memesona serta menghadirkan sebuah ‘shot’ di penghujung film yang alamak, elok sangat! Jangan lupakan pula duet maut Eru dan Atiqah Hasiholan dalam ‘Black Glasses’ yang pemakaiannya tepat guna dan sungguh meracuni. Hingga keesokan harinya seusai menyaksikan Hello Goodbye di bioskop, tembang ini masih saja berputar-putar di kepala. Saranghaeyo nado eulgoissohyo, oh nan...

Note : Pssstttt... Jangan terburu-buru meninggalkan gedung bioskop saat credit title mulai bergulir. Ada sebuah 'bonus adegan' yang sayang sekali untuk dilewatkan. Bersabarlah. 

Exceeds Expectations




REVIEW : LANGIT KE-7



"Gua tuh mau punya pacar sekali tapi yang berkualitas. Ngapain punya banyak pacar tapi kacangan semua gitu." - Dania 

Jika pada akhirnya Langit Ke-7 tidak memenuhi harapan sejumlah pihak, setidaknya film ini masih bisa berbangga karena memiliki trailer yang menarik, sinopsis resmi yang bebas spoiler, serta desain poster yang rupawan. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh film Indonesia kebanyakan. Ditunjuk untuk mengomandoi Langit Ke-7 adalah Rudi Soedjarwo yang akhir-akhir tengah menikmati menjadi sutradara film untuk konsumsi keluarga terutama setelah memperoleh respon positif dari berbagai kalangan. Dalam film panjangnya yang ke-22 ini, Rudi Soedjarwo kembali ke genre yang melambungkan namanya dalam percaturan perfilman Indonesia. Di sini, sekali lagi, beliau menjadikan lima gadis yang tergabung dalam suatu ‘geng’ sebagai sorotan utama layaknya Ada Apa Dengan Cinta?. Hanya saja, kelima gadis ini telah duduk di bangku kuliah dan persoalan yang mereka hadapi... jauh lebih pelik. Para gadis yang beruntung ketiban peran utama ini pun merupakan wajah-wajah segar yang belum pernah seliweran di layar lebar. Mereka adalah hasil dari penjaringan ‘Clear Hair Model’ yang di perhelatan sebelumnya telah bekerja sama dengan Rudi Soedjarwo dan membuahkan sebuah film televisi. Dan kali ini, memanfaatkan bakat-bakat baru – termasuk penulis naskah debutan, Virra Dewi – hadirlah sebuah film drama romantis dengan balutan fantasi berjudul Langit Ke-7 yang dilempar ke bioskop-bioskop nasional sejak 22 November 2012 silam. 

“Kamu percaya takdir?,” pertanyaan yang diajukan oleh Angel (Maureen Irwinsyah) ini membuat sahabatnya, Dania (Taskya Namya), yang tengah mengalami kebimbangan hati terlonjak untuk kemudian merenunginya. Dia tidak memiliki kuasa untuk mengubah takdir. Satu-satunya jalan adalah berusaha seraya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Kebimbangan yang melanda Dania disebabkan oleh permasalahan klise khas film bergenre drama romantis, cowok. Sang ayah, Sutoro (Pong Hardjatmo), mengidap penyakit yang cukup parah dan khawatir tidak bisa melihat putri semata wayangnya itu melangkahkan kaki di altar sebelum ajal menjemput. Mengingat Dania tidak pernah menggandeng seorang kekasih ke rumahnya, Sutoro pun menjodohkannya dengan putra dari seorang kerabat. Inilah yang menjadi salah satu pemicu ‘kaburnya’ Dania dan keempat sahabatnya ke Pulau Dewata, selain kandasnya hubungan percintaan Visi (Rechelle Lumawas) setelah sang kekasih, Pio (Nikki Frazetta), kepergok tengah bermesraan dengan perempuan lain. Berniat untuk ‘have fun’ dan melepas semua kepenatan dalam hidup, sebuah musibah malah justru menghampiri lima sekawan ini. Dania mengalami koma setelah terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil yang serius. Dan film tentu saja tidak berakhir begitu saja, malahan baru saja dimulai. 

Raga Dania boleh saja terbaring tak berdaya, akan tetapi rohnya berkeliaran kesana kemari. Satu-satunya orang yang beruntung (atau malah justru sial?) bisa melihat roh Dania adalah Denan (Aryadila Yarosairy) yang ternyata oh ternyata adalah pria yang hendak dijodohkan dengan Dania. Nah lho! Sebentar sebentar, apakah Anda merasa familiar dengan plot ini, seorang pria didatangi oleh roh dari seorang wanita yang tengah terbaring koma? Bukankah ini terdengar sangat Just Like Heaven? Tuduhan akan penjiplakan atau kurangnya kreatifitas akan meluncur apabila Anda belum menyaksikan Langit Ke-7 secara utuh. Akan tetapi, dalam kenyataannya, hanya sama dalam ‘template’ semata. Virra Dewi membawanya ke jalan yang sama sekali berbeda. Kesamaan seperti ini bukan lagi sesuatu yang baru dalam dunia sinema. Masih ingatkah Anda dengan film animasi dari Disney yang berjudul The Wild? Bukankah itu memiliki premis yang serupa dengan Madagascar? Dan ini sangat wajar. Film telah berusia lebih dari 100 tahun, maka jika ada kesamaan diantara satu film dengan film lainnya bisa dipahami. Tentu saja selama tidak sama persis atau setidaknya tak mencapai lebih dari 80 %. 

Secara mengejutkan, saya sangat menikmati sajian Rudi Soedjarwo yang terbaru ini. Dengan ekspektasi yang ditekan serendah mungkin, kepuasan berhasil saya dapatkan kala menyaksikan Langit Ke-7. Jangan terlalu menganggap serius apa yang ada di sini. Nikmati saja apa yang tersaji di layar seraya mengunyah berondong jagung dan menyeruput minuman bersoda. Jalinan penceritaan yang digulirkan oleh Virra Dewi mungkin saja terkesan klise dan mudah ditebak, namun masih ada rasa manis di dalamnya. Intensitas emosional cerita pun turut dihadirkan disamping ‘sweetness’ yang menjadi bahan baku utama dari genre ini. Tokoh-tokoh yang dimunculkan pun ‘believable’ dan mengasyikkan, walau tentu saja belum bisa menandingi Cinta dkk. Berkat dukungan iringan musik yang megah dari Andi Rianto beserta lagu ‘Layu Sebelum Berkembang’ yang diaransemen ulang, Rudi Soedjarwo berhasil memunculkan beberapa momen yang menyentuh hati dan membuat mata berkaca-kaca. Perpaduannya dengan ‘sweetness’ dan humor pun melebur sempurna sekalipun terkadang humor dimunculkan terlalu cepat yang membuat ‘touching moment’ sedikit terganggu. 

Selain musik Andi Rianto yang menghanyutkan, bidikan Arief R Pribadi yang memunculkan gambar-gambar indah memanjakan mata turut menjadi salah satu poin yang memperkuat film ini. Para pemain pendatang baru pun sama sekali tak mengecewakan. Saya kagum dengan betapa natural-nya mereka berakting, khususnya Taskya Namya, Maureen Irwinsyah, dan Nikki Frazetta yang menjadi ‘scene stealer’ dari film ini. Dan... Rudi Soedjarwo membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu sutradara terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dia mampu menggubah skrip sederhana buatan Virra Dewi menjadi bahasa gambar yang menarik untuk disimak dan memaksimalkan akting dari para pemain anyar yang terkadang masih sering kagok. Selain itu, product placement – dalam hal ini, Clear – pun patuh kepada jalan cerita dan tidak ditaruh secara serampangan. Di bawah arahan sutradara sekelas Rudi Soedjarwo, Langit Ke-7 pun hadir sebagai film yang manis, ringan, menyenangkan, dan menyentuh dengan tampilan gambar yang menyejukkan mata. Setelah bertahun-tahun tak berurusan dengan kisah romansa, Rudi Soedjarwo masih belum kehilangan sentuhannya. Dia tahu benar bagaimana memerlakukan sebuah film bergenre drama romantis dengan balutan fantasi.

Acceptable 




REVIEW : THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN - PART 2


"I thought we would be safe forever. But "forever" isn't as long as I'd hoped." - Bella

Tidak ada franchise yang beranjak dari novel berseri yang lebih fenomenal ketimbang The Twilight Saga. Bagaimana tidak, dari sejumlah franchise yang mengambil sumber dari karya sastra, hanya kisah percintaan terlarang antara manusia dan vampir ini yang mampu mengumpulkan basis massa dan pembenci dalam jumlah yang sama besarnya. Ketika salah satu seri dilempar ke bioskop, para penggemar dengan segera berbondong-bondong menyesaki bioskop seolah itu adalah satu-satunya hari dimana film tersebut diputar sementara ‘haters’ memenuhi linimasa dengan segala nyinyiran dan cibiran terbaik mereka untuk seri ini. Anda tidak akan menemukan segala kehebohan ini dalam Harry Potter, The Hunger Games, apalagi The Lord of the Rings. Dan, franchise yang fenomenal ini pun telah memasuki edisi terakhirnya dalam The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II. Layaknya seri penutup dari penyihir remaja asal Inggris, seri penutup dari ‘sparkling vampire’ ini pun sejatinya dibuat untuk satu film yang kemudian diputuskan untuk dipecah menjadi dua demi memuaskan hasrat ‘fans’ yang tentunya mengharapkan perlakuan istimewa sebelum berpisah dengan sang idola. Saya sesungguhnya cukup penasaran dengan cara Bill Condon menutup franchise yang jilid terakhirnya ini mengusung tagline yang terbilang berani, ‘the epic finale that will live forever’. Akankah The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II menjadi sebuah penutup yang epik atau malah justru anti-klimaks? 

Melanjutkan dari apa yang berakhir di jilid pertama, Bella Swan (Kristen Stewart) telah bertransformasi menjadi vampir yang memungkinkan dia untuk menjalani kehidupan pernikahan yang ‘happily ever after’ bersama Edward Cullen (Robert Pattinson). Setelah ‘the never ending intercourse’ di film sebelumnya yang sungguh melelahkan, akhirnya penonton mendapatkan sajian konflik yang sesungguhnya di seri pamungkas ini. Putri Bella dan Edward, Renesmee (Mackenzie Foy) mengalami pertumbuhan fisik secara cepat dan tidak wajar. Irina (Maggie Grace), salah satu anggota dari keluarga Denali yang melihat Renesmee kala tengah menikmati udara segar bersama Bella dan Jacob Black (Taylor Lautner), mengira Renesmee adalah ‘anak abadi’. Mengingat ini melanggar hukum vampir yang diciptakan oleh Volturi, maka Irina pun menghadap ke Aro (Michael Sheen) dan melaporkan perbuatan keluarga Cullen. Mengetahui bahwa Volturi segera menyerang Cullen berdasarkan penglihatan dari Alice (Ashley Greene), maka Carlisle (Peter Facinelli) pun mengutus keluarganya mengumpulkan kerabat-kerabat mereka dari seluruh dunia untuk bersaksi di depan Volturi bahwa Renesmee bukanlah ‘anak abadi’. 

Dengan mudah saya bisa mengatakan kepada Anda bahwa Breaking Dawn Part II adalah seri terbaik dari The Twilight Saga. Memang tidak sampai dalam tahapan mengagumkan atau epik seperti yang saya harapkan, akan tetapi Bill Condon mampu menghantarkan franchise ini ke sebuah penutup yang layak. Dengan garis konflik yang tidak lagi bercabang dan cenderung fokus kepada nasib Renesmee, Melissa Rosenberg mampu menata jalinan kisah dengan lebih rapi. Bahkan, untuk sekali ini, berani membelokkan cerita dengan suntikan ‘twist’ pada klimaks yang terbilang cukup mencengangkan. Penonton bersorak sorai antara terkejut, senang, atau bahkan kecewa setelah apa yang sesungguhnya terjadi terungkap. Keberanian dalam menyuguhkan ‘twist’ dan sedikit melenceng dari sumber asli ini menjadi kekuatan utama dari film ini. Baik Condon maupun Rosenberg menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menyuguhkan penutup yang sempurna apabila tetap berpegang teguh kepada tulisan Stephenie Meyer dan mempertontonkan kemesraan yang tiada berkesudahan. 

Meski demikian, Breaking Dawn Part II tidak lantas berakhir tanpa meninggalkan kekurangan. Produk ini masih tetap jauh dari kata sempurna. Untuk mencapai sebuah klimaks yang menggetarkan, penonton kudu melalui paruh awal yang... ya, Anda tahu sendiri, sangat The Twilight Saga. Romantisme berlebihan digeber sedemikian rupa di menit-menit awal. Beruntung dosisnya tidak setinggi empat film pertama. Alur pun melaju dengan sangat perlahan, demi memastikan tidak ada bagian penting yang terlewatkan untuk fans. Di paruh ini Anda akan menyaksikan bagaimana Bella berusaha untuk menyesuaikan diri dengan wujud barunya, Charlie Swan (Billy Burke) yang kebingungan melihat Bella, serta sedikit letupan konflik seusai Bella mengetahui bahwa Jacob meng-‘imprint’ Renesmee. Untuk mengurangi rasa bosan, maka humor dan sinematografi indah – walau tak sekuat bagian pertama, dijadikan sebagai penawar. Sayangnya, hal itu tidak membantu banyak. Kesalahan bisa dialamatkan kepada trio Kristen Stewart, Robert Pattinson, dan Taylor Lautner yang hingga film kelima ini masih saja tidak berkembang. Tanpa ekspresi dan tanpa chemistry. Hambar. Untungnya dukungan dari supporting cast – khususnya Michael Sheen yang tampil brilian sebagai Aro – sedikit banyak membantu film dari keterpurukan. 

Setelah awal yang melelahkan dan berpanjang-panjang, secara perlahan eskalasi tensi yang diharapkan oleh penonton sejak menit pertama pun dimunculkan. Bill Condon turut mendengarkan permintaan dari ‘non-fans’. Volturi yang belum sempat unjuk gigi akhirnya memeroleh kesempatan untuk ‘show off’. Breaking Dawn Part II hadir lebih gelap dari jilid sebelumnya dengan adanya kematian, mayat-mayat bergelimpangan, kepala yang terlepas dari tubuh, dan tentunya darah. Sebagian besar adalah hasil ‘kerja keras’ dari Volturi. Ketegangan mencapai puncaknya setelah pertempuran akbar antara pasukan Volturi dan pasukan Cullen dimulai. Seperti yang telah saya sebutkan di dua paragraf sebelum ini, kehadiran ‘twist’ turut menyelamatkan film secara keseluruhan walau efek khusus yang memprihatinkan – terutama penggambaran ‘werewolf’ yang masih saja tidak meyakinkan walau telah diberi suntikan dana berlimpah – cukup mengganggu kenikmatan menonton selain chemistry hambar antara tiga pemain utama dan romantisme yang menggelikan. 

Well, pada akhirnya, apakah saya akan mengatakan bahwa The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II adalah sebuah penutup yang epik? Hmmm... Terlalu berlebihan jika saya menyebutnya epik, saya cukup mengatakan bahwa ini adalah seri terbaik dari franchise ini. Tentu saja tidak sempurna, namun yang jelas, dapat dinikmati dan tidak membuat saya ingin menggantung diri di dalam gedung bioskop atau mencakar muka Bella yang biasanya saya alami kala menyaksikan The Twilight Saga. Bill Condon memang belum mampu memerbaiki kesalahan utama franchise ini yang berkisar pada efek khusus maupun chemistry antar pemain, akan tetapi dia telah berhasil menyuguhkan sebuah perpisahan yang tidak memalukan dengan jalinan penceritaan yang lebih baik, sinematografi yang cantik, dan adegan pertarungan berbalut twist yang cukup mencengangkan. Dan jika Anda bertanya bagaimana dengan deretan lagu yang mengisi album soundtrack-nya? Seperti biasa, jauh mengungguli filmnya. Fans akan keluar dari gedung bioskop dengan senyum terlebar yang pernah mereka tunjukkan kepada dunia, pecinta film akan berdiskusi soal film ini dengan teman atau meng-update status ‘not bad lah’, sementara haters... will always hate.

Note : Kala credit title mulai bergulir, semua tokoh dari Twilight hingga Breaking Dawn Part II dimunculkan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah bersedia menjadi bagian dari keluarga franchise ini. 

Acceptable 




REVIEW : PERAHU KERTAS 2


"Hati itu dipilih, bukan memilih. Bertahan atau melepaskan itu tergantung hatimu. Hatimu yang tahu"

Perahu Kertas... Hah... Sesungguhnya, setelah jilid pertama yang membuat saya menguap beberapa kali meski harus diakui cukup manis, hasrat untuk menyaksikan paruh kedua tidak terlalu menggelora sekalipun Chand Parwez Servia, produser Starvision Plus, menjanjikan bahwa cerita Perahu Kertas akan menggemuk di belakang. Itu berarti, seiring dengan bergulirnya cerita, maka konflik yang diapungkan pun kian padat dan mengikat. Telinga saya agaknya sudah kebal mendengar obralan janji-janji manis dari para penggiat sinema yang seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Ramai di dunia maya, melancarkan puja puji setinggi langit, setelah disimak ternyata ya hanya begitu-begitu saja. Apakah pujian yang dilayangkan ini tulus dari lubuk hati yang paling dalam atau karena... faktor pertemanan? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Perahu Kertas 2 ini pun senada. Seusai premiere digelar dengan sukses, nyaris tidak ada yang memberikan kritik. Film menuai pujian dari berbagai pihak. Komentar negatif bukanlah pilihan yang populer malam itu. Saya pribadi skeptis sampai-sampai muncul pertanyaan di pikiran saya ‘benarkah?’. Beberapa teman yang beruntung menyaksikannya lebih awal, memberi penilaian buruk untuk film ini. Dan, saya lebih percaya kepada mereka. Tiga hari berselang, saya pun mempunyai kesempatan yang sama dengan Anda untuk menyaksikannya di layar lebar. Tidak ada ekspektasi sedikit pun. Ditemani dengan segelas minuman bersoda serta berondong jagung yang nikmat namun harganya tidak lagi bersahabat, saya siap untuk diajak mengarungi film sepanjang 100 menit yang ternyata sesuai dengan dugaan saya... kering, tidak bertenaga, dan nyaris tidak mengandung kesenangan di dalamnya. Membosankan. 

Dengan penuh percaya diri, Perahu Kertas 2 berlayar tanpa diawali dengan ringkasan singkat jilid sebelumnya sebagai penyegar ingatan atau mungkin sebagai perkenalan kepada penonton yang belum sempat menyaksikan film pertama. Sebuah pembuka yang cukup menjanjikan sebenarnya. Hanung Bramantyo melanjutkan konflik yang sempat terpotong satu setengah bulan yang lalu. Kugy (Maudy Ayunda) berjumpa kembali dengan Keenan (Adipati Dolken) berkat pernikahan sahabat mereka, Noni (Sylvia Fully R) dan Eko (Fauzan Smith). Sebuah ‘road trip’ untuk mengenang masa lalu pun dihadiahkan oleh Keenan kepada Kugy. Perjalanan yang seharusnya manis ini terpaksa berakhir tragis setelah Kugy menyaksikan dengan mata kepala sendiri Sekolah Alit, tempat pelarian Kugy dulu, dirobohkan dan Pilik yang menjadi sumber inspirasinya dalam menulis dongeng telah berpulang. Menghadapi realitas kehidupan semacam ini membuat semangat Kugy terpecut untuk melanjutkan impiannya sebagai pendongeng. Keenan pun dengan sukarela mengajukan diri sebagai ilustrator. Pertemuan kembali dua sejoli ini turut berimbas kepada kehidupan pribadi Kugy. Prestasi kerjanya menurun drastis. Siska (Sharena), rekan kerjanya yang diam-diam menaruh hati pada Remi (Reza Rahadian), melihat ini sebagai peluang untuk menyingkirkan ‘rivalnya’ tersebut. Sementara itu, hubungan Keenan dan Luhde (Elyzia Mulachela) terombang-ambing dalam ketidakpastian setelah sebuah pertemuan tak terduga Kugy dengan Luhde. 

Apabila pendahulunya gagal membawa Anda ke dalam nuansa yang dramatis dan sentimentil, maka apa yang Anda harapkan dari Perahu Kertas 2? Ini adalah sebuah proyek ambisius yang hanya bisa membahagiakan para penikmat novelnya dan para gadis yang menggilai film drama romantis yang mendayu-dayu, nyaris tidak ada kesempatan untuk penonton awam yang tidak mengenal sumber adaptasinya untuk jatuh cinta kepada Perahu Kertas 2. Saya kurang percaya dengan siapapun yang sesumbar bahwa alasan pemecahan film adalah demi memertahankan bagian-bagian penting dalam novel sehingga esensi cerita tidak luntur. Kenapa tidak mengatakan saja, uang telah berbicara? Jelas sekali ada setumpuk adegan yang jika dihilangkan pun tidak akan memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan cerita. Akibatnya, Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari yang turun tangan sendiri untuk menangani penulisan naskah mau tak mau kudu memelarkan beberapa titik guna menggenapi kuota durasi yang diminta oleh para produser. 

Letupan konflik dan ledakan air mata yang dijanjikan semasa promosi pun tidak lebih dari sekadar isapan jempol. Perahu Kertas 2 bak dilepas ke perairan yang tenang dengan gelombang yang muncul sesekali dan alpa bebatuan yang seharusnya merintangi laju. Dramatika cerita dan emosi para tokoh gagal terbangun dengan baik serta tidak mampu mengikat penonton untuk duduk tenang menikmati para tokoh bermain rasa selama kurang lebih 100 menit. Dari sekian banyak problematika yang menyembul, hanya kisah Luhde yang cukup mampu saya nikmati. Sisanya, saya tidak terlalu ambil pusing. Fase deg-degan yang diharapkan hadir saat hubungan segi rumit antara Kugy, Keenan, Remi, dan Luhde terbongkar, lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan sama sekali. Dewi Lestari memang penulis novel yang jempolan, siapapun mengakuinya. Akan tetapi, untuk urusan mengolah naskah, dia masih perlu belajar banyak. Seandainya penulisan naskah diserahkan kepada penulis naskah kelas wahid, bisa jadi Perahu Kertas 2 akan berkali-kali lipat lebih menggigit dan tidak sedatar ini. Atau... seandainya Perahu Kertas dibiarkan berdiri dalam satu kesatuan tanpa dipaksa untuk dipecah, hasil akhirnya mungkin lebih menarik. Sungguh sangat disayangkan. Pada akhirnya, Perahu Kertas 2 tidak ubahnya sebuah dongeng pengantar tidur. Saya benar-benar membutuhkan bantal dan selimut kala menontonnya.

Poor




REVIEW : ARCHITECTURE 101


"We were all someone's first love at one time."

Seung-Min (Uhm Tae-Woong), seorang arsitek berusia 35 tahun, terbangun di kantornya dalam keadaan kacau balau setelah lembur selama dua hari berturut-turut. Sang atasan memergokinya tengah tertidur pulas di atas meja. Untuk mengembalikan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, Seung-Min menghisap rokok seraya bertengkar kecil-kecilan dengan Koo (Park Soo-Young), atasannya. Saat hendak membasuh diri untuk menghilangkan bau tidak sedap yang menempel di tubuhnya, dia kedatangan tamu seorang wanita cantik. Sementara Seung-Min sama sekali lupa dengan sosok cantik di depan matanya, si tamu yang memerkenalkan dirinya sebagai Seo-Yeon (Han Ga-In) malah langsung menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang umum dilayangkan ketika dua orang yang menahun tidak berjumpa bereuni. Butuh beberapa menit serta sedikit penjelasan bagi Seung-Min untuk menyadari siapa Seo-Yeon sebenarnya. Penonton dibiarkan untuk menerka-nerka identitas diri Seo-Yeon sekaligus menemukan mata rantai yang menjadi penghubung antara si arsitek dengan si wanita misterius. Apabila Anda sudah akrab dengan film melodrama, maka tidak susah untuk menjawab pertanyaan yang mengemuka di pembuka film. 

Setelah sesi obrolan singkat bersama kedua tokoh utama Architecture 101 plus tunangan Seung-Min, Eun-chae (Go Joon-hee), kita akhirnya mengetahui maksud kedatangan Seo-Yeon. Dia ingin Seung-Min mendesain ulang rumah keluarga Seo-Yeon yang telah berusia 30 tahun sesuai dengan keinginannya. Demi memeroleh wujud yang menggambarkan impian sang klien, Seung-Min menghabiskan waktu bersama Seo-Yeon. Lee Yong-Ju pun lantas melempar Anda ke 15 tahun lalu guna menelusuri masa lalu untuk menyaksikan awal mula perjumpaan mereka berdua di bangku kuliah. Seung-Min remaja (Lee Je-Hoon) digambarkan sebagai pemuda yang lugu dan pemalu, sangat bertolak belakang dengan penampilannya sekarang. Titik balik dari kehidupannya dimulai saat dia diam-diam menaruh hati kepada Seo-Yeon (Bae Suzy), mahasiswi Musik yang mengikuti mata kuliah ‘Introduction to Architecture’ hanya untuk mendekati Jae-Wook (Yoo Yeon-Seok). Seung-Min dan Seo-Yeon menjadi dekat setelah mereka mengerjakan sebuah tugas bersama. Jika di setting masa kini Lee Yong-Ju fokus kepada kehidupan pribadi Seo-Yeon, maka untuk setting masa lalu ini kita diajak untuk menyelami kisah melalui sudut pandang Seung-Min. 

Architecture 101 terasa istimewa lantaran sang sutradara yang juga merangkap sebagai penulis naskah, Lee Yong-Ju, mengajak kita untuk memasuki dunianya, arsitektur. Sesuatu yang terbilang segar mengingat selama ini film percintaan tak jauh-jauh dari musik, tari, dan makanan. Lee Yong-Ju pun menempatkannya dalam batasan wajar, tak menyesaki film dengan istilah-istilah rumit dari bidang yang dikuasainya itu, dan mampu menopang plot utama film dengan baik. Uniknya lagi, kendati mengusung genre ‘melodrama’, Architecture 101 tidak cengeng. Sesekali melihat para tokoh menangis atau marah, itu hal yang lumrah. Tidak ada deraian air mata dan ratapan tak berkesudahan yang umumnya kita jumpai dalam film sejenis. Konflik percintaan antara Seung-Min dan Seo-Yeon mengalir wajar dan realistis, namun tetap terasa romantis. Bisa jadi, Anda pun pernah mengalami hal yang serupa. Lee Je-Hoon mampu mengekspresikan rasa kecewa, amarah, dan cemburu yang bercampur menjadi satu dalam salah satu adegan secara natural. Tidak perlu ditampilkan dengan tangisan meraung-raung agar penonton dapat merasakan sakitnya perasaan Seung-Min kala itu. Kecakapan Lee Yong-Ju dalam membangun konflik lah yang membuat penonton peduli dengan apa yang dihadapi oleh setiap tokoh dalam film ini. Architecture 101 pun memiliki elemen pendukung yang sama kuatnya dengan sinematografi serta tata artistik yang cantik, lagu pengiring yang indah, serta sisipan referensi-referensi budaya populer di Korea Selatan pada tahun 1990’an. Maka bukan sesuatu yang mengherankan jika film ini mampu meraih 4,1 juta penonton selama peredarannya di Korea Selatan.

Exceeds Expectations




REVIEW : RADIO GALAU FM


"Kenapa ya cewek itu terlihat lebih cantik ketika dia udah bukan milik kita lagi ?" - Bara 

Ada apa dengan galau? Mengapa kata yang satu ini bisa sedemikian populernya di kalangan generasi nunduk? Apa yang membuatnya spesial hingga nyaris di setiap ucapan, terselip kata yang satu ini? dan yang lebih penting, apa sebenarnya definisi yang tepat dari galau? Baiklah, saya akan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan mengubek-ubek berbagai laman di dunia maya untuk mencari tahu definisi dari galau, kata terpopuler di tahun 2010’an. Tik tok, tik tok *satu jam kemudian...* Baiklah, setelah saya membaca kamus secara intensif dan berselancar di dunia maya selama kurang lebih satu jam, akhirnya saya menemukan pengertian galau. Galau mempunyai arti sibuk beramai-ramai, sangat ramai, dan berkacau tidak karuan. Jadi, dapat disimpulkan berdasarkan kamus, seseorang yang sedang galau adalah seseorang yang dalam keadaan atau pikiran yang tidak karuan. Kacau. Sumpek. Dilema. Jika dikaitkan dengan film Radio Galau FM, maka galau yang dimaksud berkaitan erat dengan problematika asmara. 

G-word ini sejatinya bukanlah sesuatu yang baru di industri hiburan. Sejumlah lagu telah mempergunakannya. Namun galau baru menemukan ketenarannya ketika laman jejaring sosial yang memungkinkan penggunanya untuk terus berkicau digemari oleh masyarakat. Selebritis dunia maya mengapungkannya kembali. Segera saja, publik mengikuti. Memanfaatkan momentum, lahirlah sebuah akun bernama Radio Galau FM yang mengkhususkan untuk berkicau perihal kegalauan dalam hal asmara, sebuah topik yang mudah menggaet perhatian remaja. Setelah berhasil mengumpulkan pengikut hingga mencapai ratusan ribu, versi buku pun segera diluncurkan, dan tidak perlu menunggu lama untuk melihatnya diterjemahkan ke dalam bentuk visual. Yang beruntung mendapat kesempatan untuk mengolah naskah versi film dari radio yang senantiasa galau ini adalah Haqi Ahmad, penulis skenario muda berbakat yang juga menggarap naskah versi film dari fenomena Twitter lainnya, Poconggg Juga Pocong. Kali ini dia bekerja sama dengan Iqbal Rais. Mengumpulkan barisan pemain berwajah segar, Radio Galau FM, secara mengejutkan, lebih sedap untuk disantap ketimbang si Poconggg. 

Jalan ceritanya klise. Anda bisa menemukannya dengan mudah di FTV yang tayang saban hari, seputar kisah cinta segibanyak di kalangan pelajar yang mengenakan seragam putih abu-abu. Bara Mahesa (Dimas Anggara) yang bermimpi menjadi penulis, tengah galau. Hingga tahun keduanya di SMA, belum ada gadis yang nemplok padanya (Kayak nyamuk aja, nemplok...). Sang kakak dengan tingkah lakunya yang luar biasa ajaib, kerap meledeknya. Meski diberkahi wajah yang rupawan, Bara tetap menghabiskan malam Minggunya di dalam kamar, duduk menghadap layar laptop, dan mengejar mimpinya menjadi penulis. Tak sekalipun berkencan. Segalanya berubah saat seorang adik kelas bernama Velin (Natasha Rizki) mengajaknya berkenalan. Dari yang awalnya malu-malu meong, secara perlahan Bara dan Velin menjadi semakin lengket. Muncullah percikan asmara. Bara memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Velin setelah beberapa hari hubungan mereka tiada kejelasan. Velin menerima. Bersama Velin, Bara memasuki hidup baru yang penuh warna, indah dan menyenangkan. Kegalauan Bara berakhir... hanya untuk sementara. Setelah memasuki bulan kedua, mulai terlihat peringai asli masing-masing. Velin tidak lagi gadis manis yang polos dan ceria. Bara gerah. Di saat hubungan mereka memburuk, hadir Diandra (Alisia Rininta). Bara menjadikan Diandra sebagai pelarian, padahal dia dan Velin masih belum putus. Nah lho! 

Di bawah penanganan Iqbal Rais, kisah klise tentang sejumlah ABG yang galau karena cinta tidak terkesan murahan. Sekalipun jalan cerita semacam ini sudah berulang kali ditampilkan, namun dia sanggup mengemasnya dengan menggoda sehingga penonton betah untuk duduk di kursi bioskop hingga film berakhir. Konfliknya mengalir wajar tidak berlebihan, dan humor serta situasi kocak yang disajikan pun mampu mengundang tawa renyah tanpa perlu mengambil jalur slapstick. Yang menjadikan Radio Galau FM lebih bersinar ketimbang kisah Poconggg yang absurd adalah para pemainnya yang mampu bermain apik, tak hanya menjual tampang belaka. Dimas Anggara, Alisia Rininta, dan Indri Giana boleh saja berusaha keras untuk menarik perhatian penonton, akan tetapi Natasha Rizki yang ekspresif, senantiasa mencuri perhatian setiap kali dia tampil. Jengkel melihat kelakuannya yang manja dan penuntut, namun iba ketika Bara meminta putus kepada Velin. Sulit untuk menyangkal bahwa gadis ini memiliki bakat. Saya pun penasaran dengan kiprah Natasha Rizki berikutnya di dunia akting. Yang cukup saya sayangkan, sepanjang film, penonton tidak diberi tahu latar belakang Velin dan Diandra, semuanya tentang Bara. Andaikan para karakter pendukung ini diberi porsi lebih, film akan menjadi lebih menarik. Radio Galau FM memang bukanlah film romansa dari Indonesia yang termanis tahun ini, namun yang jelas, merupakan salah satu yang menghibur. Setidaknya isi filmnya tidak seburuk desain posternya.

Acceptable