Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

REVIEW : DEMI UCOK


"Keberhasilan perempuan Batak itu dinilai dari anaknya. Kalau anak kau lebih hebat dari anak mami, baru kau boleh sombong." - Mak Gondut 

Salah satu lagu anak nasional mempunyai penggalan lirik seperti ini, “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali...”. Hmmmm... tunggu sebentar, hanya memberi tak harap kembali, apakah lirik lagu ini dapat dibuktikan kebenarannya? Seorang ibu tulus memberi apapun kepada anaknya tanpa mengharapkan imbalan apapun? Jika meminjam istilah anak gahoel zaman sekarang, ‘ciyus, macacih, enelan’? Tidak juga. Seorang ibu pun tetaplah manusia, harapan mendapat balasan dari sang anak tentu bersemayam dalam hati. Beberapa mengungkapkan secara langsung, beberapa lainnya dipendam untuk mengetes kepekaan si buah hati. Mak Gondut (Lina Marpaung) terpaksa menyampaikannya secara terang-terangan lantaran gemas melihat putri semata wayangnya, Gloria (Geraldine Sianturi), masih betah untuk melajang meski usianya hendak melangkah ke kepala tiga. Glo, begitu sapaan akrab Gloria selain Gorilla, emoh untuk menikah dengan berdalih, “Glo tak mau seperti Emak. Kawin, lupa mimpi, and live boringly ever after.” Demi membujuk Glo untuk menikah, Mak Gondut mengiming-imingi suntikan dana sebesar Rp. 1 Milyar untuk proyek film kedua Glo yang jalan di tempat. 

Dalam kamus kehidupan Mak Gondut, ada tiga tujuan hidup perempuan Batak; menikah dengan pria Batak, mempunyai anak Batak, dan mencari menantu Batak. Mak Gondut kian cerewet dan pantang menyerah untuk menjodohkan Glo dengan pria Batak usai dirinya divonis oleh dokter bahwa usianya hanya tersisa satu tahun. Maka, dalam sisa film yang hanya memakan durasi sekitar 79 menit ini, penonton akan menyaksikan perang idealisme antara seorang anak perempuan yang memerjuangkan mimpinya dengan sang ibu yang sesungguhnya hanya ingin melihat putrinya hidup bahagia. Sammaria Simanjuntak yang mengawali karir film panjangnya melalui Cin(t)a yang indah dan terbilang berani mengapungkan permasalahan yang sensitif untuk sebagian kalangan, membawakan Demi Ucok secara ringan dan santai namun dihiasi dengan dialog-dialog cerdas, segar, jenaka, dan menohok. Sebagai pekerja film, maka sentilan tentang kondisi perfilman Indonesia saat ini yang kacau pun kudu dimasukkan. Salah satu conton, simak saja percakapan yang terjadi antara Glo dengan produser film horror Indonesia yang diperankan oleh Joko Anwar saat Glo mencoba untuk menawarkan naskah buatannya: 

“Ini sudah halaman 14, hantunya mana ini?” 
“Kalau terlalu sering muncul, nanti suspense-nya hilang.” 
“Itu kalau kau bikin film di barat. Film orang Indonesia itu tak ada yang mau mikir. Hantu itu muncul harus setiap dua menit sekali.” 

Atau salah satu dialog Gloria, “film Indonesia itu cuma butuh tiga hal; banci, hantu, dan susu.” Sammaria pun menghadirkan tokoh bernama Nikki (Saira Jihan) sebagai sahabat Glo yang menopang kebutuhan hidup dengan menjual dvd bajakan. Pada titik ini kita melihat posisi dilematis dvd bajakan; di satu sisi merugikan para pembuat film, namun di sisi lain menguntungkan sebagai lahan untuk memperoleh banyak referensi film dengan harga murah khususnya bagi sineas berkantong cekak. Tak hanya menyenggol kelamnya dunia perfilman, Sammaria pun asyik ‘curcol’ mengenai adat dan budayanya sendiri, Batak. Malahan, inilah yang menjadi kupasan utama dalam Demi Ucok. Pun begitu, Anda tak perlu khawatir tidak bisa menikmati joke-joke yang dilontarkan karena bagaimanapun, it’s everybody story. Tapi tentunya kelucuannya akan berlipat ganda apabila Anda memahami betul adat dan budaya Batak. 

Mengingat ini adalah film yang (katanya sih...) personal bagi Sammaria, maka dia tidak terlalu kesulitan dalam menuturkan kisah dan sanggup berbicara jujur apa adanya. Penonton pun digiring untuk memasuki ‘dunia Sammaria’ dengan bantuan tokoh bernama Gloria. Beruntung apa yang dialami dan dirasakan oleh sang sutradara yang juga merangkap sebagai produser dan penulis skrip ini tidak berbeda jauh dengan pengalaman saya dan Anda. Seperti yang telah saya sebutkan di paragraf sebelumnya, ini adalah kisah semua orang. Persoalan kita bersama. Diakui atau tidak, mirip sekali atau hanya sekadar nyerempet, rasa-rasanya kita pun pernah berada dalam posisi Glo, terutama bagi yang telah merasakan usia 20-an, rampung kuliah atau memasuki dunia kerja. Pertanyaan akan diawali dengan, “sudah punya pacar belum?”. Semakin lama, akan semakin merembet kemana-mana. Ketika di usia mapan tak juga menggandeng calon pendamping hidup, orang tua akan gusar dan mulai mencari info mengenai pria/wanita yang masih menjomblo di arisan RT, PKK, pengajian, gereja, atau komunitas untuk dijodohkan dengan putra/putri mereka. Ini tak hanya dilakukan oleh emak-emak Batak, tetapi juga emak-emak dari suku lain, karena ini masalah nasional. 

Sungguh membahagiakan di awal tahun 2013 kita sudah disambut oleh sebuah film Indonesia yang sangat layak untuk ditonton, Demi Ucok. Sammaria Simanjuntak mengapungkan sentilan untuk adat dan budaya Batak yang tergolong sensitif untuk dijamah serta kekacauan industri perfilman nasional dengan cara yang segar dan menyenangkan. Tidak ada kesempatan bagi Anda untuk mengerutkan dahi, hanya ada ledakan tawa tiada henti. Setidaknya, itulah yang saya alami. Sejak menit pertama hingga credit title mulai merayap, Sammaria membuat perut dan pipi saya terasa kencang menyaksikan tingkah polah Mak Gondut dan Gloria yang dimainkan secara natural nan apik oleh pendatang baru, Lina Marpaung dan Geraldine Sianturi. Chemistry yang terjalin diantara keduanya berpadu dengan manis, seolah-olah keduanya memang ibu dan anak betulan di luar layar. Kehadiran Saira Jihan, Sunny Soon (sebagai Acun, sahabat Glo yang bermimpi menjadi penyanyi), serta Nora Samosir semakin memarakkan suasana. Bagusnya lagi, Demi Ucok pun tak pernah jatuh ke dalam lubang kekonyolan dan slapstick yang berlebihan. Bahkan momen ber-drama ria yang seharusnya penuh dengan deraian air mata ditampilkan secukupnya saja tanpa didramatisasi berlebihan seperti kebanyakan film Indonesia. 

Apakah Anda adalah seorang Batak atau bukan, tidak menjadi soal. Demi Ucok sekalipun kerap bermain-main dalam humor yang cakupannya terbilang ‘segmented’, tetap bisa dinikmati oleh kalangan luas. Naskah bernas buatan Sammaria Simanjuntak tersampaikan dengan apik berkat pengarahannya yang lincah, akting serta chemistry manis dari para pemain, serta departemen teknis (mulai dari tata artistik, musik, hingga sinematografi) dimanfaatkan secara tepat guna. Jarang sekali saya bisa tertawa puas menyaksikan sebuah film Indonesia di layar lebar. Saya bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali mengalaminya. Ini benar-benar sebuah pengalaman yang menggembirakan. Bahkan, tidak cukup hanya sampai di sana, Demi Ucok pun membuat saya merindukan ibu yang telah berpulang setahun lalu. Apabila Anda memiliki rencana untuk menyimak Demi Ucok di bioskop tapi tak ada teman, jangan ragu-ragu untuk mengajak ibunda. Pengalaman yang dihasilkan tentunya akan jauh berbeda. Siapa tahu seusai menonton akan saling berpelukan atau berupaya untuk memahami dunia masing-masing.

Outstanding




REVIEW : HABIBIE & AINUN


"Setiap terowongan pasti memiliki ujungnya. Setiap ujungnya pasti ada cahaya. Saya janji akan membawamu ke cahaya itu." - Rudy Habibie

Begini, anggap saja saya sedang tidak ingin bertele-tele dalam menyampaikan maksud tulisan atau Anda sedang tidak rela membuang waktu untuk membaca tulisan saya ini yang mungkin akan melebar kemana-mana di paragraf-paragraf selanjutnya. Maka, dengan menimbang dua alasan tersebut, saya akan memulai ulasan teranyar buatan saya ini dengan sebuah kesimpulan dari hasil menyantap Habibie & Ainun selama kurang lebih dua jam di layar lebar tempo hari. Dengan senyum manis terurai dari bibir saya yang indah, saya akan berkata kepada Anda, Habibie & Ainun adalah sebuah film yang cantik. Salah satu dari sejumlah film Indonesia yang berhasil tampil mengagumkan di tahun 2012. Bersanding dengan 5 cm, yang sejatinya agak mengecewakan saya, Habibie & Ainun menggoreskan catatan manis bagi perfilman nasional di penghujung tahun. Saya cukup yakin, Bapak B.J. Habibie menyunggingkan senyum penuh kelegaan di kursi bioskop yang empuk kala mengetahui bahwa buku memoir yang digarapnya dituangkan ke dalam bahasa gambar oleh Faozan Rizal secara bersahaja. 

Habibie & Ainun sedikit banyak mengingatkan saya kepada The Lady besutan Luc Besson dari sisi penceritaan. Kedua film ini adalah sebuah biopik dari seorang tokoh di suatu negara, akan tetapi baik Habibie & Ainun maupun The Lady lebih menekankan kepada kisah cinta dari sosok penting tersebut dengan turut menyoroti orang paling berjasa dan paling dicintai bagi B.J. Habibie dan Aung San Suu Kyi. Apabila Suu Kyi mempunyai Michael Aris, maka B.J. Habibie didampingi oleh Hasri Ainun Besari yang senantiasa memberi dukungan penuh kepada suaminya sejak pertama kali merintis karir di negeri orang hingga menjalani ‘kehidupan normal’ usai dilengser dari kursi kepresidenan. Pertemuan dari dua sejoli ini bermula ketika keduanya masih duduk di bangku SMP. Belum ada percikan asmara diantara mereka saat itu, malah Habibie secara terang-terangan menyebut Ainun seperti gula jawa lantaran penampilan fisiknya yang kurang cihuy. Tapi yang namanya jodoh ya, tidak akan lari kemana meski Habibie (Reza Rahadian) telah ‘terlempar’ ke Jerman sementara Ainun (Bunga Citra Lestari) masih berdiri tegak di atas bumi pertiwi. Nyaris satu dekade mereka berpisah, keduanya kembali bertemu di rumah Ainun dimana benih-benih cinta diantara mereka mulai menampakkan diri. Si gula jawa rupanya telah bermetamorfosis menjadi gula pasir. 

Tahap penjajakan tidak berlangsung lama, keduanya mantap membawa hubungan percintaan ini ke tingkatan yang lebih serius dengan mengikat janji suci melalui jalinan pernikahan. Apa yang akan saksikan dalam menit-menit berikutnya adalah perjuangan dari mantan Presiden Republik Indonesia yang ketiga ini dari bukan siapa-siapa, menjadi seorang insinyur, diangkat menjadi menteri, merangkak ke posisi wakil presiden, hingga akhirnya ditahbiskan sebagai presiden Republik Indonesia. Nah, jika ini pada akhirnya ini adalah sebuah film biopik dari Pak Habibie, lantas mengapa nama Ibu Ainun turut dicatut sebagai judul? Well... seperti yang telah saya jelaskan sedikit di paragraf sebelumnya, meski Habibie & Ainun adalah film biopik seorang tokoh, namun fokus utama justru kepada kisah cinta yang terjalin antara Pak Habibie dengan Bu Ainun. ‘Behind every great man, stands a great woman.’ Kehadiran Ainun menguatkan Habibie, begitu pula sebaliknya. Saling memberikan dukungan, dan saling mengingatkan ketika salah satu berbuat kesalahan. Setiap momen istimewa dan ikonik dari kehidupan Pak Habibie dan istri ini berhasil dirangkum dalam skrip luar biasa dan bernyawa hasil racikan Ginatri S Noer dan Ifan Ismail. Beruntung, sutradara debutan, Faozan Rizal, pun sama sekali tidak terlihat gugup menuangkan kisah hidup salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa ini ke dalam bahasa gambar sehingga hasil akhir yang terpampang di layar lebar adalah berupa film yang cantik. 

Apalah artinya Habibie & Ainun apabila tidak mendapat sokongan yang memadai dari departemen akting. Anda boleh saja mengeluh bahwa Reza Rahadian terlalu tampan, terlalu tinggi, terlalu tegap, dan terlalu terlalu lainnya untuk menggambarkan sosok B.J. Habibie, akan tetapi saya pribadi sangat puas melihat aktingnya. Setelah beberapa peran yang menjemukan, Reza Rahadian kembali membuat saya terpukau melalui Test Pack: You’re My Baby dan akhirnya... dia memberikan kemampuan akting terbaiknya dalam film ini! Gestur tubuh dan gaya bicara Pak Habibie yang sangat khas berhasil diadopsinya dengan tepat tanpa terkesan dibuat-dibuat. Coba pejamkan saja mata Anda, bergantunglah kepada indera pendengaran, dan Anda akan seolah-olah mendengar Pak Habibie bukan Reza Rahadian sedang berbicara. Sangat mirip. Rekan main Bang Reza di sini, Bunga Citra Lestari, pun menyuguhkan sebuah performa yang memikat. Saya sempat meragukan Neng BCL ketika mengetahui dia terpilih untuk memerankan Bu Ainun, bahkan dalam trailer pun tak meyakinkan. Namun saya harus menjilat ludah saya sendiri tatkala menyimak film ini secara utuh. Kasih sayang, kegelisahan, rasa khawatir, hingga batin yang bergejolak ditampilkan dalam emosi yang tepat. Chemistry yang terjalin dengan Reza Rahadian pun terasa padu, hangat, dan menawan. 

Jika saya meneruskan celotehan ini demi memenuhi kuota review seribu kata, maka saya akan mengatakan bahwa jika Anda melongok ke sisi teknis, Habibie & Ainun pun memperoleh dukungan yang kuat. Ipung Rachmat Syaiful selaku penata gambar menyajikan gambar-gambar indah yang mampu mendukung film secara keseluruhan. Belum ditambah di departemen musik dimana Tya Subiakto sanggup memunculkan ilustrasi musik yang cukup megah dan lagu ‘Cinta Sejati’ yang dibawakan oleh Bunga Citra Lestari turut menyuntikkan emosi. Habibie & Ainun pun siap untuk melenggang mendapat skor sempurna sebelum akhirnya saya menyadari... ini adalah produksi dari MD Pictures! Whoaaa... apakah ini sentimen pribadi? Bukan, sama sekali bukan. Apakah Anda masih ingat apa yang telah diperbuat oleh PH yang satu ini kepada Di Bawah Lindungan Ka’bah? Jika masih, ya, Anda tidak salah, hal itu kembali terulang di sini, product placement yang seenak jidat. Gerry Chocolatos yang fenomenal kembali mengulang perannya yang untuk sekali ini (untungnya!) tak dipaksa untuk ‘memakai’ kemasan vintage. Si Gerry pun tak sendirian. Dia turut mengajak rekan-rekannya dari masa depan untuk meramaikan suasana seperti Wardah, Sirup Markisa Pohon Pinang, Freshcare, hingga e-Toll. Sungguh sangat meriah, bukan? Berhubung saya sedang berbaik hati, maka saya tidak akan terlalu memusingkan tindakan penyusupan tersebut. Anggap saja, itu adalah salah satu cara untuk menciptakan gelak tawa penonton di tengah-tengah suasana serba serius dan suram. Sedikit ber-positive thinking ria bolehlah. 

Saya telah selesai menunaikan tugas saya untuk menyampaikan unek-unek yang terpendam di kepala selama dua hari kepada Anda. Persoalan apakah setelah membaca ulasan yang panjang dan memusingkan ini Anda akan tergerak untuk menyaksikan Habibie & Ainun atau tidak di layar bioskop, berpulang kepada Anda. Tidak ada paksaan. Saya hanya akan mengatakan kepada Anda – untuk terakhir kalinya sebelum ulasan ini benar-benar diakhiri – bahwa ini adalah sebuah sajian yang manis, lembut dan hangat di penghujung tahun 2012. Tidak pernah terbayangkan saya akan mencintai film ini. Faozan Rizal telah menjalankan tugas perdananya sebagai ‘pemimpin orkestra’ dengan sangat baik. Pandangan saya terhadap Pak Habibie dan (almarhumah) Bu Ainun seusai menyimak film ini berubah seketika. Rasa kagum dan simpati yang mendalam saya haturkan untuk mereka berdua. Bahkan, saya tidak malu-malu untuk mengakui bahwa saya tidak kuasa untuk membendung air mata kala film mencapai klimaksnya. Ketika sebuah film sukses membuat mata saya sembab, maka saya akan berkata bahwa film tersebut adalah film yang bagus. Emosi berhasil dilibatkan, dibangkitkan dan diaduk-aduk sedemikian rupa.

Exceeds Expectations




REVIEW : 5 CM


"Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang mau kamu kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu."

Seusai Air Terjun Pengantin yang mencetak kesuksesan luar biasa di tangga box office meski kudu menerima cercaan dari sejumlah penikmat film, Rizal Mantovani ‘anteng-anteng saja’ dan malah membesut beberapa film yang nyaris tak tercium keberadaannya. Diprediksi karirnya akan kian memburam, tak dinyana-nyana di penghujung tahun 2012 Rizal Mantovani mencetak sebuah rekor raihan penonton melalui garapan teranyarnya, 5 cm, yang diangkat dari novel laris hasil buah karya Donny Dhirgantoro. Di tengah musim paceklik penonton yang melanda perfilman nasional, 5 cm berhasil menggiring 500 ribu penonton ke bioskop hanya dalam tempo 5 hari pertama penayangan! Sungguh sebuah prestasi yang menakjubkan. Jika ditelusuri lebih lanjut, hal ini bukan sesuatu yang mengherankan. 5 cm adalah sebuah ‘popcorn movie’ dimana para penonton dimanjakan dengan sinematografi yang cantik, asupan komedi yang tinggi, serta mengusung jalinan kisah yang dekat dengan kehidupan anak muda zaman sekarang. Bisa jadi, saat ini Rizal Mantovani sedang tersenyum seraya berkata, “saya tahu apa yang kalian semua inginkan!.” 

Apabila yang diulik dari film ini tak lebih dari sekadar persahabatan antara lima orang komplit dengan bumbu-bumbu konflik yang menyertainya, maka mungkin hanya segelintir penonton yang meliriknya. “Apa yang baru dari ini? Kita sudah menyaksikannya berulang kali.” Mungkin seperti itulah teriakan dari penonton. Maka, Donny Dhirgantoro yang harus diakui cermat melihat pangsa pasar pun memboyong kisah persahabatan yang maha klise ini ke Puncak Mahameru. Mengingat masyarakat dewasa ini, khususnya remaja, banyak yang menggilai pendakian gunung serta ‘travelling’, keputusan untuk memasukkan kisah melangkahkan kaki melalui jalan setapak menuju puncak tertinggi di Jawa yang berpasir, penuh batu, dan ilalang dengan jurang menganga menjadi pemandangan di sekeliling tak bisa lebih tepat lagi. Ini menjadi semacam penyegaran setelah pantai dan objek wisata di negeri orang telah berulang kali dibidik oleh sineas nasional. Pemandangan Mahameru yang ‘Subhanallah indah sekali’ tentu menjadi daya tarik utama dari 5 cm. Saya berani menjamin, siapapun yang gemar berwisata akan segera merencakan jadwal perjalanan ke gunung berapi aktif ini seusai menyimak 5 cm di layar lebar. 

Perjalanan mendaki Puncak Mahameru dimulai setelah lima sahabat; Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah), dan Ian (Igor Saykoji), bereuni seusai tiga bulan lamanya saling menjauh dan tak bertegur sapa. Keputusan untuk berpisah sejenak dibuat demi menghilangkan rasa jenuh dalam hubungan persahabatan mereka yang tengah hinggap setelah sepuluh tahun lamanya senantiasa bersama tak pernah terpisahkan. Mereka berkumpul di Stasiun Senen pada tanggal dan jam sesuai dengan kesepakatan. Bergabung bersama kelompok adalah adik Arial, Dinda (Pevita Pearce), yang sudah lama menjadi incaran Zafran. Kecuali Genta, tak satupun dari para petualang ini yang mengetahui ke arah mana kereta ekonomi yang mereka tumpangi akan berhenti. Genta tidak sedikit pun membeberkan petunjuk mengenai liburan ini kepada sahabat-sahabatnya dan hanya berkata, “yang jelas perjalanan ini nggak akan kalian lupakan!”. Meski tidak dibekali petunjuk apapun dalam film, penonton tahu bahwa keenam sahabat ini hendak menuju Puncak Mahameru. Yah, trailer, poster, dan sinopsis telah berbicara banyak. 

Saya tidak bisa memungkiri bahwa 5 cm adalah sebuah sajian hiburan yang menghibur. Ini adalah jenis film yang cocok ditonton untuk melepas penat. Seperti yang telah saya utarakan di paragraf pembuka dan kedua, kekuatan utama dari film ini bertumpu pada sinematografinya yang memanjakan mata. Kecantikan Mahameru benar-benar terpancarkan di sini berkat kelihaian Yudi Datau dalam mengabadikan gambar. Mereka yang telah menjejakkan kaki di sana akan membusungkan dada dan memamerkannya kepada teman yang duduk di sebelahnya, sementara mereka yang belum berkesempatan untuk menghirup segarnya udara pegunungan di Mahameru hanya bisa menatap ke layar dengan air liur yang menetes-netes sembari mendengar ocehan penonton sebelah yang tiada berkesudahan. Pendakian yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini pun menjadi semakin terasa menyenangkan dan tidak sekalipun terasa berat berkat ocehan-ocehan dan tingkah laku Ian, Zafran, dan Arial yang senantiasa mengundang tawa. Jangan lupakan pula sumbangsih dari Nidji beserta The Future Conspiracy untuk film yang mana musik gubahan mereka sedikit banyak membuat sejumlah adegan menjadi terasa lebih greget. Berkat visual yang maha cantik, suntikan humor segar, serta musik yang menghanyutkan inilah, 5 cm terselamatkan. 

Terselamatkan? Ya, Anda tidak salah baca. Penyelamat dari film ini adalah keagungan Tuhan yang diperlihatkan dalam pesona alam Mahameru yang sulit untuk dilupakan, segala canda tawa yang dituturkan dan dilakonkan oleh trio lawak tersebut serta musik skor hasil kreasi Nidji dan The Future Conspiracy karena sejatinya dari segi penceritaan, 5 cm seolah kehilangan arah. Paruh pertama yang terbangun dengan apik mendadak menukik turun secara drastis tatkala mencapai bagian dimana mereka tiba di lokasi yang dirahasiakan oleh Genta. Dengan secepat kilat, Rizal Mantovani membanting setir dari sebuah film persahabatan menjadi sebuah film nasionalisme dengan dialog yang sepertinya dicomot dari buku ajar PPKN. Seolah belum cukup, dihadirkan twist yang mengungkap jalinan asmara segi rumit diantara para tokoh. Kebahagiaan saya pun roboh seketika dan rasanya ingin mencari pohon pisang terdekat untuk kemudian terjun. Tidak ada yang salah dengan segala tetek bengek yang disebut nasionalisme atau romansa yang memelintir ini apabila Donny Dhirgantoro dan Rizal Mantovani meluangkan waktu sejenak untuk membangun pondasi atau latar belakang selama kisah berjalan. Masalahnya... ini semua dimunculkan secara tiba-tiba tanpa terlebih dahulu diberi aba-aba. Jika apa-yang-kita-sebut nasionalisme ini hadir dengan sebegitu mudahnya hanya dengan mendaki gunung, mengapa kita tidak bawa saja para koruptor ke Mahameru? Dan apa maksud dari taburan kisah romansa di penghujung film? Sangat tidak perlu, mubazir, dan tentunya mencederai filmnya itu sendiri. 

Sungguh disayangkan sekali trio Donny Dhirgantoro, Sunil Soraya, dan Hilman Mutasi tidak memilih untuk menggali lebih dalam kisah persahabatan diantara enam orang ini di kala mendaki. Benih-benih asmara yang timbul pun akan menjadi lebih menggigit apabila diberi porsi secukupnya saja, dan bukannya malah justru mengambil alih kemudi cerita di paruh akhir. Keputusan untuk mengubah salah satu tokoh menjadi pribadi yang nasionalis hingga mengorbankan mimpi besarnya terlalu dipaksakan dan rasa-rasanya tidak akan Anda jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Like, seriously? Dan ini masih diperparah dengan detil-detil tak tepat macam pakaian yang dikenakan untuk mendaki, kecelakaan dalam perjalanan menuju puncak, atau rambut yang senantiasa tergerai indah. Sesaat setelah membaca tulisan ini mungkin Anda gatal untuk berkomentar, “nyudutin 5 cm mulu, emangnya kamu bisa bikin film?”. Tidak ada maksud untuk menyudutkan film ini, sama sekali tidak ada. Justru sebaliknya, saya sangat peduli dengan 5 cm. Sungguh sangat disayangkan film yang memiliki potensi untuk menjadi sebuah film yang sangat baik ditilik dari segi kualitas harus berakhir mengecewakan hanya karena tim penulis dan Rizal Mantovani yang terlalu ambisius untuk menjadikan 5 cm sebagai sebuah paket yang komplit. Akibatnya, 5 cm tidak lebih dari sekadar sebuah produk untuk ‘senang-senang belaka.’ Sebagai sebuah hiburan, film ini memang nyaris memenuhi segalanya, tapi tidak sebagai film yang baik. Beruntung masih ada kecantikan Mahameru, guyonan-guyonan segar, serta iringan musik dari Nidji dan The Future Conspiracy yang berjasa menyelamatkan 5 cm dari keterpurukan. Dan pada akhirnya saya pun membatin, "kau belum sepenuhnya tahu apa yang kita inginkan, Rizal."

Acceptable



REVIEW : JAKARTA HATI


"Oh, ternyata pacar kamu yang bikin istri saya mabuk laut?"

‘Ini jantung ibukota, dimana hatinya?’. Begitulah tagline dari film panjang kedua karya Salman Aristo, Jakarta Hati. Setelah menelurkan sebuah karya yang apik melalui Jakarta Maghrib, Salman Aristo nampaknya ketagihan untuk mengulik serba-serbi kehidupan Jakarta yang sebelumnya telah dia paparkan secara garis besar melalui film perdananya. Ya, Jakarta dalam Jakarta Maghrib tak ubahnya kota-kota besar lain di Indonesia. Apa yang terjadi di sana dapat pula terjadi di kota lain terlebih permasalahan yang diangkat umum terjadi di kota besar. Penggambarannya pun hanya sebatas pada gang-gang sempit dan perumahan. Nah, melalui Jakarta Hati, kesalahan-kesalahan dari film sebelumnya mencoba untuk ditebus. Nyaman dengan apa yang telah diperbuatnya, di sini pun pak sutradara yang juga merangkap sebagai penulis naskah, lagi-lagi menerjemahkan ide-idenya dalam bentuk film omnibus. Tak lagi terbagi ke dalam lima kisah pendek, akan tetapi meningkat menjadi enam kisah pendek. Isu yang diapungkan pun lebih serius. Meski belum mencapai sebuah kesempurnaan, namun Salman Aristo sedikit banyak telah berhasil menggambarkan kerasnya kehidupan di Jakarta melalui enam kisah berbeda warna. 

Jakarta Hati dibuka dengan segmen ‘Orang Lain’ yang menampilkan Surya dan Saputra dan Asmirandah. Tidak ada tokoh lain dalam segmen ini, hanya mereka berdua. Yang menjadi pondasi cerita untuk membangun konflik di sini adalah perselingkuhan. Dua orang asing yang tidak saling mengenal bertemu di kafe pada suatu malam untuk akhirnya saling menyadari bahwa mereka dikhianati pasangan masing-masing. Tapi, benarkah mereka dikhianati... atau justru sebaliknya? Kurang tepat menempatkan segmen ini sebagai sebuah penghantar untuk menjelajahi hati ibukota. Jalinan penceritaannya dituturkan terlalu puitis yang mau tidak mau memaksa penonton untuk memutar otak. Mungkin hasilnya akan lebih baik jika segmen ini digeser ke posisi kedua atau ketiga. Dengan hidangan pembuka yang sedemikian berat, belum juga menikmati hidangan utama, penonton sudah kekenyangan. Atau dalam hal ini, otak sudah keburu keriting. Sungguh sangat disayangkan, bukan? 

Segmen kedua ‘Masih Ada’ yang menghadirkan Slamet Rahardjo menjadi favorit dari kebanyakan teman-teman saya. Di sini, Salman Aristo mencoba untuk mengapungkan kritik sosial kepada anggota DPR RI yang seolah (atau memang benar adanya) masa bodoh dengan nasib ‘wong cilik’ yang seharusnya menjadi perhatian utama mereka. Seorang anggota DPR mengalami kesialan di suatu pagi yang membuatnya terpaksa merasakan kehidupan ‘wong cilik’ meski hanya beberapa menit. Disampaikan dengan dialog yang jenaka dan menyentil serta didukung permainan apik dari Slamet Rahardjo, secara mudah segmen ini menjadi salah satu yang terkuat walaupun durasi yang terbatas membuat konflik kurang tergali lebih mendalam dan menggampangkan persoalan. Saya pribadi lebih menyukai segmen ‘Kabar Baik’ yang tanpa diduga sanggup membuat Andhika Pratama mengeluarkan kemampuan aktingnya secara maksimal dan mengimbangi akting dari Roy Marten yang cemerlang. Kisah ‘reuni’ ayah dan anak setelah bertahun-tahun tidak berjumpa di sebuah kantor polisi ini mengalir dengan lancar melalui dialog yang renyah dan bikin gregetan. Hati ini tersentuh saat sebuah rahasia besar terungkap. Saya benar-benar ingin memeluk ayah saya kala itu. 

Masih ada tiga segmen yang tersisa dimana ketiganya mampu membawa Jakarta Hati ke tingkatan yang lebih tinggi dan melampaui pencapaian film sebelumnya. Segmen ‘Hadiah’ yang dibintangi oleh Dwi Sasono sedikit banyak mengingatkan pada ‘Jalan Pintas’ dari Jakarta Maghrib. Bukan, ini bukan mengenai hubungan percintaan, melainkan mengangkat fenomena dari dunia yang membesarkan nama Salman Aristo, dunia film. Seorang penulis skenario terserang dilema tatkala dia mendapat tawaran untuk menulis skenario sebuah film komedi seks berjudul Pocong Impoten di kala kondisi finansial keluarganya tengah sekarat. Pilihan yang bisa dipilih hanya ada dua, memerjuangkan atau mengorbankan idealisme demi segepok uang. Kekuatan dari segmen ini terletak pada performa dari Dwi Sasono yang apik sebagai penulis skenario yang belum siap untuk merelakan integritas dirinya. Rasa cemas, bimbang, marah, sedih, dan kecewa disalurkan melalui ekspresi wajah dan gerak tubuh yang meyakinkan sehingga membuat penonton turut merasakan kegundahan hatinya. Sisi emosional di segmen ini tergali dengan apik selayaknya segmen ‘Kabar Baik’. 

Berlanjut ke segmen kelima, ‘Dalam Gelap’, dimana kamera statis dimanfaatkan, tak ada penerangan, dan ruang gerak terbatas maka secara otomatis dialog dan akting dari Agni Pratistha serta Dion Wiyoko – dalam hal ini, bahasa tubuh – menjadi motor penggerak. Segmen ini seolah ingin menyinggung masyarakat di kota besar dewasa ini yang individualis, egois, dan menyepelekan pentingnya komunikasi. Lingkupnya tak seluas ‘Menunggu Aki’ dari Jakarta Maghrib, malah hanya sebatas pada pasangan suami istri. Pemadaman listrik bergilir yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Jakarta memaksa pasangan ini untuk berbicara satu sama lain. Meski memiliki kemasan paling sederhana di antara kelima segmen lainnya, ‘Dalam Gelap’ justru berteriak paling lantang terlebih permasalahan yang diangkat bisa menimpa siapa saja. Di era jejaring sosial, banyak orang lebih memilih untuk berceloteh di dunia maya ketimbang melakukan komunikasi langsung yang seringkali dianggap sebagai momok. Masing-masing tenggelam di dalam dunianya sendiri, ‘kepo’ dengan urusan orang lain, dan mengabaikan persoalan pribadi yang justru lebih penting. 

Sebagai sebuah penutup, ‘Darling Fatimah’ dituturkan dengan penuh keceriaan setelah kelima segmen sebelumnya penuh dengan perenungan. Berkisah mengenai Fatimah (Shahnaz Haque), pedagang kue keturunan Pakistan di Pasar Senen dengan mulut yang susah untuk dikontrol, kala melayani para pelanggannya dan seorang broker pemesanan kue yang mengajaknya berbicara soal cinta. Mengambil latar Pasar Senen di suatu pagi, Salman Aristo mencoba untuk memotret sebuah tempat yang memertemukan berbagai macam etnis. Keberagaman suku bangsa dan budaya menjadi salah satu bagian dari ibukota. Ini cukup tergambarkan melalui perbincangan antara Fatimah dan Ayun (Framly Nainggolan) yang sempat nyerempet ke dalam kehidupan pribadi Fatimah yang seorang janda. Kegetiran hidup tetap menjadi pokok permasalahan disini, namun Salman Aristo menghindari air mata dan lebih memilih jalan komedi untuk menghantarkan kisah. Sebuah keputusan yang tepat. Akting dari Shahnaz Haque yang sangat menghibur membuat segmen ini terasa hidup dan menyegarkan. 

Pada akhirnya, Salman Aristo pun mampu menuntaskan misinya dengan nyaris sempurna. Jakarta Hati tampil lebih baik ketimbang Jakarta Maghrib yang terkadang terlalu puitis dalam bertutur dan kurang menggambarkan sosok Jakarta. Melalui Jakarta Hati, penonton mendapat gambaran bagaimana kehidupan di ibukota yang keras dan seringkali tidak memiliki hati. Salman Aristo berhasil memotret ibukota – meski terkadang saya merasa beliau terlalu baik hati dalam memerlihatkan wajah Jakarta, dengan sudut pandang yang lebih luas dan bervariatif melalui enam kisah yang dikemas secara sederhana, namun memiliki kedalaman emosi dan sangat hangat, khususnya segmen ‘Kabar Baik’ dan ‘Hadiah’. Kecermatan Salman Aristo dalam mengolah naskah sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah jalinan penceritaan yang renyah turut terbantu berkat permainan akting yang cemerlang dari para pemain film ini. Sebut saja Slamet Rahardjo, Dwi Sasono, Roy Marten, Andhika Pratama, Agni Pratistha, Dion Wiyoko, hingga Shahnaz Haque. Mereka dengan senang hati menyumbangkan kemampuan akting terbaik mereka demi film ini. Memang, masih ada satu dua segmen yang dirasa masih terkesan menggampangkan persoalan atau terlalu puitis dalam berkisah, akan tetapi ini sesuatu yang wajar dalam sebuah film omnibus. Pasti ada satu dua yang ‘kurang sedap’. Pun demikian, Jakarta Hati masih tetap mampu tampil gemilang berkat kelihaian bercerita Salman Aristo yang makin mengagumkan serta tentunya dukungan penuh dari para pemain. Tidak berlebihan rasanya jika saya menyebut Jakarta Hati sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.

Exceeds Expectations




REVIEW : LIFE OF PI


"In the end we will lose something. But the worse is not taking a chance to say goodbye." - Pi 

Saya masih duduk terdiam di bangku bioskop saat satu demi satu penonton mulai berdesak-desakan meninggalkan tempat duduk mereka menuju ke pintu keluar. Kacamata 3D yang hitam dan tebal berhasil menutupi air mata yang mengalir membasahi pipi sehingga penonton di sebelah saya tidak terheran-heran seraya menaikkan alis, “kenapa ini anak?”. Selama beberapa menit ke depan, eh bukan, errr... beberapa jam ke depan, saya masih kesulitan untuk melupakan apa yang telah saya saksikan selama 2 jam lebih itu. Bahkan, saya kehilangan kata-kata untuk bisa mendeskripsikan betapa mengagumkannya Life of Pi karya Ang Lee. Sungguh, ini adalah sebuah film yang luar biasa indah. Jika saja ‘gerimis lokal’ tidak turun usai menyaksikan film ini, mungkin saya akan seketika berdiri dan bertepuk tangan sekencang mungkin seperti yang saya lakukan ketika menyimak The Artist awal tahun ini. Anda mungkin akan merasa bahwa tulisan saya ini nantinya akan terkesan hiperbola, namun itulah kenyataan yang ada. Inilah yang saya rasakan. Anda boleh setuju atau tidak, Anda pun boleh percaya atau tidak. Akan tetapi bagi saya, Life of Pi adalah sebuah pencapaian sinematis yang sangat luar biasa. 

Life of Pi beranjak dari novel laris karangan Yann Martel yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 2001. Tokoh utama dari kisah ini adalah bocah India bernama Piscine Molitor Patel. Keanehan namanya membuat dia kerap menjadi bulan-bulanan rekan sebayanya dengan mendapat nama panggilan, “Pissing Patel”. Lelah diperolok, dia pun memproklamirkan Pi sebagai namanya kala duduk di bangku SMP. Di paruh awal film, penonton disuguhi latar belakang Pi dengan melongok bagaimana kehidupan keluarganya yang memiliki sebuah kebun binatang lokal. Dikisahkan pula Pi memulai pencarian spiritual dengan mengaplikasikan ajaran dari ketiga agama sekaligus; Hindu, Kristen, dan Islam. Keputusan yang tidak bisa dimengerti oleh orang di sekelilingnya. Ketika kebun binatang mengalami pailit, Santosh Patel (Adil Hussain) pun memutuskan untuk memboyong keluarganya ke Kanada. Menurut rencana, hewan-hewan yang sekiranya berharga akan dipindahtangankan di Amerika Utara. Keluarga Patel pun menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi samudra yang luas menggunakan kapal barang milik Jepang. 

Malangnya, di tengah perjalanan, badai menghadang dengan lautan yang mengamuk. Dalam waktu singkat, terjangan ombak menenggelamkan kapal beserta penumpangnya. Tidak ada yang selamat, kecuali Pi (Suraj Sharma), seekor zebra yang terluka, seekor hyena, seekor orangutan, serta seekor harimau bernama Richard Parker. Mereka berlima terombang-ambing di atas sekoci memerjuangkan hidup masing-masing. Dengan bergabungnya seekor harimau Bengali dewasa, maka angka harapan hidup bagi setiap ‘survivor’ pun tipis terlebih saat rasa lapar mulai menguasai. Hanya dalam waktu singkat, saat para binatang mulai bertarung sama lain, Richard Parker dan Pi menjadi dua terakhir yang bertahan. Dan demi mencapai daratan dengan selamat sentosa, maka Pi pun harus bisa berdamai dengan Richard Parker. Itu adalah satu-satunya jalan keluar untuk saat ini. Dengan Pi mulai menerima keberadaan Richard Parker di sisinya, maka mulai saat itulah sebuah perjalanan yang menggetarkan hati dimulai. Pertanyaan-pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan secara perlahan didapatkan. Keraguan yang sempat memenuhi hatinya mulai sirna. Inilah titik balik dari kehidupan Pi! 

Saya tidak akan menceritakan kepada Anda apa yang akan terjadi berikutnya. Jika Anda belum pernah membaca versi novelnya, maka bersiaplah untuk dibuat terkejut, takjub, dan kagum. Berulang kali saya mengucap ‘Subhanallah’ melihat apa yang dihidangkan di layar. Sungguh mempesona. Apakah saya sedang bermimpi saat ini? Apakah saya sedang berada di surga? Ini terlihat terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Tanpa bermaksud untuk spoiler, saya terpesona dengan cara Ang Lee menghadirkan pulau meerkat yang mengagumkan, ikan-ikan terbang, atau segerombolan ikan yang membentuk cahaya kala malam hari. Cantik. Bahkan di kala tak ada apapun di sekitar, hanya air di samudra, sekoci, serta langit, keindahan pun tetap berhasil ditonjolkan. Membahas tentang visualisasi maupun sinematografi dari Claudio Miranda, rasanya nyaris semua penonton yang telah menyaksikan Life of Pi sepakat bahwa ini menjadi salah satu kekuatan dari film yang disutradarai oleh penggondol ‘Best Director’ di ajang Oscar melalui Brokeback Mountain ini. Air liur menetes-netes saat melihatnya. Ucapan tasbih tak lagi meluncur dari mulut mungil saya lantaran saya telah mencapai... orgasme. Tuhan. 

Anda mungkin akan bertanya-tanya, bukankah sebelum Life of Pi telah hadir The Tree of Life dan Avatar yang juga sangat menakjubkan ditilik dari segi visual? Oh percayalah, dua film tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah diwujudkan oleh Ang Lee di sini. Segala keindahan yang tergurat di layar ditunjang oleh pemanfaatan 3D yang tepat guna. Inilah 3D terbaik yang pernah saya simak selama hidup saya. Rasanya James Cameron yang mendapat puja puji atas pemakaian 3D-nya di Avatar yang luar biasa pun harus mengakui keunggulan sutradara kelahiran Taiwan ini. Ang Lee mempergunakan 3D tidak sebagai gimmick semata atau sekadar mengikuti tren, namun lebih kepada kebutuhan cerita. Untuk menonjolkan kedalaman gambar. Penonton pun seolah-olah terlibat dengan petualangan Pi bersama Richard Parker. Seolah kita berada di dalam sekoci tersebut. Dengan begini, penonton tidak hanya duduk manis, pasif, dan pada akhirnya berkata ‘3D-nya oke juga ya.’ Selesai cerita. Akan tetapi, yang diharapkan, penonton serasa dilibatkan ke dalam film, seakan memiliki kontribusi meski sebenarnya hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apapun. 

Kekhawatiran para penggemar novelnya yang mendeskripsikan Life of Pi sebagai ‘novel yang sulit dituangkan dalam bahasa gambar’ pun pada akhirnya tidak terbukti. Ang Lee menjalankan tugasnya dengan sempurna. Hands down. Dari segi visual dan pemakaian 3D, sudah tidak perlu dijabarkan lagi. Saya telah berpanjang lebar menjelaskan betapa ajaibnya tampilan gambar film ini di paragraf sebelumnya. Yang terlewatkan dari tulisan memusingkan saya di atas adalah Life of Pi pun mendapat dukungan yang memuaskan dari departemen akting dan naskah. Sebagai pendatang baru yang untuk pertama kalinya berlakon di film bioskop, Suraj Sharma menyuguhkan akting yang nyaris tiada cela. Ini mengingatkan pada Tom Hanks di Cast Away dimana hampir sepanjang film dia menggerakkan film sendiri bersama Wilson yang ya... hanyalah berupa benda mati berbentuk bola voli. Itulah yang dialami oleh Suraj Sharma. Kala terapung di lautan Pasifik, dia adalah satu-satunya aktor di sana secara harfiah. Richard Parker dimainkan beberapa ekor harimau, dan malah seringkali dihidupkan oleh CGI. Emosi yang naik turun dihantarkan dengan ekspresi yang meyakinkan dan menggugah hati tanpa terkesan berlebihan. Empati penonton pun dengan mudah tersemat kepada tokoh Pi. 

Dari departemen naskah, tidak ada keraguan sama sekali bahwa ini adalah salah satu naskah adaptasi terbaik untuk tahun ini. Tulisan David Magee yang bersumber pada karya Yann Martel sangat kuat, menghipnotis, jujur, dan meluluhkan hati. Jujur, saya belum pernah sekalipun menyentuh versi novel meski niatan untuk melahapnya sampai habis pernah terbersit di pikiran. Ketika puluhan ribu kata tersebut bertransformasi menjadi gambar bergerak, saya hanya bisa tertegun. Ya, inilah salah satu alasan kenapa saya tak bica mengucap satu kata pun usai menyaksikan Life of Pi. Sebuah kisah religi yang menyinggung tentang keyakinan, harapan, dan keberanian disampaikan secara halus tanpa ada kesan menceramahi. Setelah menit demi menit berlalu, dan kemudian credit title merayap, saya pun merasa tertampar. Seandainya saya berada dalam posisi Pi, akankah saya masih memercayai bahwa Tuhan memiliki sifat Maha Penyayang? Atau dalam tingkatan ekstrem, benarkah Tuhan itu memang nyata adanya? Ini pun saya jadikan bahan untuk berkontemplasi dan introspeksi diri. Merasa berdosa, egois, dan manja mengingat betapa mudahnya saya menyalahkan Tuhan hanya karena sebuah peristiwa yang bahkan tidak lebih besar dari semut jika disandingkan dengan apa yang telah dialami oleh Pi. Perspektif saya terhadap kehidupan pun sedikit banyak mengalami perubahan. 

Pada akhirnya, keputusan untuk menyaksikan atau melewatkan Life of Pi berpulang kepada pribadi Anda masing-masing. Yang pasti, saya telah menyaksikan sebuah tontonan yang begitu magis dan belum pernah saya rasakan sebelumnya kala bertandang ke bioskop. Everything about this movie was simply beautiful. Selama lebih dari dua jam, Life of Pi membuat saya bersemangat, terlibat, tersentuh, tertawa, terkejut, hingga tertampar keras-keras. Tak sekalipun merasa bosan. Tak sekalipun! Ang Lee membawa saya ke dalam sebuah perjalanan melintasi samudra yang luas dengan menggunakan kapal pesiar yang mewah lengkap bersama teman-teman yang menyenangkan dan hiburan yang tak terlupakan. Kepuasan tiada tara berhasil didapat. Ang Lee at his best! Penampilan apik dari para pemain, penceritaan yang menakjubkan, sinematografi yang memesona, visual efek yang mencengangkan, musik skor yang indah, hingga petualangan berbalut fantasi yang penuh kejutan adalah apa yang akan Anda dapatkan dari Life of Pi. Dan masih ditambah dengan 3D-nya yang merasuk sempurna. Anda tidak perlu menunggu hingga Januari untuk mengetahui apakah Life of Pi akan masuk ke dalam daftar ’20 Film Terbaik 2012 Versi Cinetariz’ atau tidak karena saat ini juga saya akan mengatakan kepada Anda... pasti masuk.

Outstanding




REVIEW : HELLO GOODBYE


"Kamu jangan marah sama perpisahan. Memaki perpisahan sama aja kamu mengutuk pertemuan." - Indah

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Korea Selatan melesak ke posisi atas sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler, setidaknya bagi warga Asia. Popularitas negara ini terbantu oleh produk dari industri hiburan mereka yang tergabung dalam ‘Korean Wave’ yang telah hampir satu dekade menjadi virus yang menginfeksi generasi muda. Tidak hanya Indonesia yang mengakui pesona Negeri Gingseng ini. Sebelumnya, Thailand melalui film bertajuk Hello Stranger telah menyoroti bagaimana fenomena demam Korea merebak di kalangan muda-mudi negara yang dipimpin oleh Raja Rama IX tersebut. Alurnya klasik, dua orang asing yang berasal dari negara yang sama tidak sengaja berjumpa dengan rasa benci atas satu sama lain sebelum akhirnya benih-benih cinta tumbuh. Akan tetapi cara kemasnya yang menarik membuat film menjadi enak untuk disimak. Beberapa tahun berselang setelah Hello Stranger dilempar ke pasaran, Indonesia mengikuti langkah dari negara tetangga. Film perdana Titien Wattimena sebagai sutradara, Hello Goodbye, memboyong setting ke Korea Selatan – atau dalam film ini bertempat di Busan. Konflik yang diangkat pun tak berbeda jauh dengan Hello Stranger hanya saja dituturkan lebih kalem, lebih dewasa, dan lebih manis di sini. 

Hello Goodbye memperkenalkan kita kepada Indah (Atiqah Hasiholan) yang bekerja sebagai staf Konsulat Jenderal RI di Busan. Layaknya para pegawai anyar yang pertama kali ditempatkan jauh dari kampung halaman, Indah pun seringkali dihantui oleh ‘homesick’. Menetap di negeri orang dengan kultur dan bahasa yang sama sekali berbeda, maka bukan sesuatu yang mengherankan jika Indah kerap merasa kesepian sekalipun memiliki teman satu rumah (Kenes Andari) yang senantiasa menebar keceriaan. Rasa jenuhnya sedikit terobati setelah sang atasan mengutus Indah untuk menangani Abi (Rio Dewanto), seorang ABK asal Indonesia yang terkena serangan jantung. Bukanlah persoalan yang mudah berhadapan dengan Abi yang tak bisa mengontrol temperamennya. Pertengkaran menjadi santapan Indah sehari-hari setiap kali menemani Abi di rumah sakit. Apa yang menjadi harapan Indah kala itu adalah menuntaskan pekerjaannya dan kembali kepada kehidupan normalnya (atau kehidupan yang monoton?). Akan tetapi, Anda tentu sudah menduga harapan itu tidak akan terwujud karena saat ini Anda tengah menyaksikan film drama romantis. Wajib hukumnya timbul percikan asmara diantara dua insan yang saling membenci satu sama lain ini. Apakah itu akan terjadi dalam film ini? Oh tentu saja! Tunggu saja setelah Abi dan Indah mulai menyadari tindakan bodoh nan kekanak-kanakan masing-masing. 

Untuk urusan menggoreskan tinta di atas kertas, Titien Wattimena tak perlu diragukan lagi. Dia adalah salah satu yang terbaik. Sangat jarang saya dikecewakan oleh film yang berdasar pada naskah garapan beliau. Sebuah ide cerita yang sederhana mampu disulap oleh Mbak Titien menjadi jalinan cerita yang renyah, cerdas, dan berisi. Dalam Hello Goodbye, bebannya bertambah karena untuk sekali ini dia tidak hanya berceloteh dalam bentuk tulisan semata, namun turut bertanggung jawab mengejewantahkan imajinasinya ke bahasa gambar. Dan usahanya sebagai sutradara – setelah sebelumnya telah berlatih sebagai astradara dalam sejumlah film, patut mendapat acungan dua jempol. Dia mampu mewujudkan ide-idenya dalam bentuk audio visual dengan sangat cantik. Sebagai sebuah drama romantis, Hello Goodbye mempunyai takaran yang pas dan tidak kelewat lebay untuk urusan mengumbar romantisme. Dialog-dialognya yang mengalir lancar, kuat, dan lucu menjadi kekuatan utama film yang gaya tuturnya seperti perpaduan antara serial dan film Korea dengan Hello Stranger serta Before Sunrise ini. Untuk sesaat Anda akan lupa bahwa apa yang tersaji di layar adalah buatan anak bangsa, dalam artian positif tentunya. Tidak ada upaya untuk ‘sok Korea’ atau menjiplak, ‘hiasan’ di sini tak lebih dari sekadar terinspirasi untuk kemudian dihidangkan dengan cara yang berbeda. 

Skrip buatan Mbak Titien yang manis, menyenangkan, dan membuat gregetan akan terasa hambar apabila tidak mendapat dukungan dari departemen lain. Beruntunglah Hello Goodbye memiliki Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto yang mempertontonkan chemistry mereka yang sungguh luar biasa! They are such a loveable couple. Penampilan kuat mereka memberikan energi serta semangat kepada skrip yang memiliki potensi berjalan datar apabila tidak mendapat penangan serta sokongan yang tepat. Berkat dua bintang inilah dialog terasa hidup. Dialog yang berisi percakapan yang terkadang ketus, penuh makna, lucu, dan sedih. Saya pun dibuat betah duduk di dalam bioskop tanpa sekalipun ingin muntah atau menengok jam di ponsel. Apa yang akan terjadi dalam hubungan Abi dan Indah selanjutnya sedap untuk disimak. Berulang kali saya mendengar penonton lain berteriak ‘Awww...’, ‘So sweet...’ dan bentuk ekspresi-ekspresi lainnya. Puncaknya tentu saja pada adegan akhir yang membuat gemas maksimal hingga membuat saya ingin menelan keranjang popcorn bulat-bulat. Segalanya semakin manis dan indah berkat Yunus Pasolang yang pandai dalam mengabadikan pemandangan Busan yang memesona serta menghadirkan sebuah ‘shot’ di penghujung film yang alamak, elok sangat! Jangan lupakan pula duet maut Eru dan Atiqah Hasiholan dalam ‘Black Glasses’ yang pemakaiannya tepat guna dan sungguh meracuni. Hingga keesokan harinya seusai menyaksikan Hello Goodbye di bioskop, tembang ini masih saja berputar-putar di kepala. Saranghaeyo nado eulgoissohyo, oh nan...

Note : Pssstttt... Jangan terburu-buru meninggalkan gedung bioskop saat credit title mulai bergulir. Ada sebuah 'bonus adegan' yang sayang sekali untuk dilewatkan. Bersabarlah. 

Exceeds Expectations




REVIEW : LANGIT KE-7



"Gua tuh mau punya pacar sekali tapi yang berkualitas. Ngapain punya banyak pacar tapi kacangan semua gitu." - Dania 

Jika pada akhirnya Langit Ke-7 tidak memenuhi harapan sejumlah pihak, setidaknya film ini masih bisa berbangga karena memiliki trailer yang menarik, sinopsis resmi yang bebas spoiler, serta desain poster yang rupawan. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh film Indonesia kebanyakan. Ditunjuk untuk mengomandoi Langit Ke-7 adalah Rudi Soedjarwo yang akhir-akhir tengah menikmati menjadi sutradara film untuk konsumsi keluarga terutama setelah memperoleh respon positif dari berbagai kalangan. Dalam film panjangnya yang ke-22 ini, Rudi Soedjarwo kembali ke genre yang melambungkan namanya dalam percaturan perfilman Indonesia. Di sini, sekali lagi, beliau menjadikan lima gadis yang tergabung dalam suatu ‘geng’ sebagai sorotan utama layaknya Ada Apa Dengan Cinta?. Hanya saja, kelima gadis ini telah duduk di bangku kuliah dan persoalan yang mereka hadapi... jauh lebih pelik. Para gadis yang beruntung ketiban peran utama ini pun merupakan wajah-wajah segar yang belum pernah seliweran di layar lebar. Mereka adalah hasil dari penjaringan ‘Clear Hair Model’ yang di perhelatan sebelumnya telah bekerja sama dengan Rudi Soedjarwo dan membuahkan sebuah film televisi. Dan kali ini, memanfaatkan bakat-bakat baru – termasuk penulis naskah debutan, Virra Dewi – hadirlah sebuah film drama romantis dengan balutan fantasi berjudul Langit Ke-7 yang dilempar ke bioskop-bioskop nasional sejak 22 November 2012 silam. 

“Kamu percaya takdir?,” pertanyaan yang diajukan oleh Angel (Maureen Irwinsyah) ini membuat sahabatnya, Dania (Taskya Namya), yang tengah mengalami kebimbangan hati terlonjak untuk kemudian merenunginya. Dia tidak memiliki kuasa untuk mengubah takdir. Satu-satunya jalan adalah berusaha seraya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Kebimbangan yang melanda Dania disebabkan oleh permasalahan klise khas film bergenre drama romantis, cowok. Sang ayah, Sutoro (Pong Hardjatmo), mengidap penyakit yang cukup parah dan khawatir tidak bisa melihat putri semata wayangnya itu melangkahkan kaki di altar sebelum ajal menjemput. Mengingat Dania tidak pernah menggandeng seorang kekasih ke rumahnya, Sutoro pun menjodohkannya dengan putra dari seorang kerabat. Inilah yang menjadi salah satu pemicu ‘kaburnya’ Dania dan keempat sahabatnya ke Pulau Dewata, selain kandasnya hubungan percintaan Visi (Rechelle Lumawas) setelah sang kekasih, Pio (Nikki Frazetta), kepergok tengah bermesraan dengan perempuan lain. Berniat untuk ‘have fun’ dan melepas semua kepenatan dalam hidup, sebuah musibah malah justru menghampiri lima sekawan ini. Dania mengalami koma setelah terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil yang serius. Dan film tentu saja tidak berakhir begitu saja, malahan baru saja dimulai. 

Raga Dania boleh saja terbaring tak berdaya, akan tetapi rohnya berkeliaran kesana kemari. Satu-satunya orang yang beruntung (atau malah justru sial?) bisa melihat roh Dania adalah Denan (Aryadila Yarosairy) yang ternyata oh ternyata adalah pria yang hendak dijodohkan dengan Dania. Nah lho! Sebentar sebentar, apakah Anda merasa familiar dengan plot ini, seorang pria didatangi oleh roh dari seorang wanita yang tengah terbaring koma? Bukankah ini terdengar sangat Just Like Heaven? Tuduhan akan penjiplakan atau kurangnya kreatifitas akan meluncur apabila Anda belum menyaksikan Langit Ke-7 secara utuh. Akan tetapi, dalam kenyataannya, hanya sama dalam ‘template’ semata. Virra Dewi membawanya ke jalan yang sama sekali berbeda. Kesamaan seperti ini bukan lagi sesuatu yang baru dalam dunia sinema. Masih ingatkah Anda dengan film animasi dari Disney yang berjudul The Wild? Bukankah itu memiliki premis yang serupa dengan Madagascar? Dan ini sangat wajar. Film telah berusia lebih dari 100 tahun, maka jika ada kesamaan diantara satu film dengan film lainnya bisa dipahami. Tentu saja selama tidak sama persis atau setidaknya tak mencapai lebih dari 80 %. 

Secara mengejutkan, saya sangat menikmati sajian Rudi Soedjarwo yang terbaru ini. Dengan ekspektasi yang ditekan serendah mungkin, kepuasan berhasil saya dapatkan kala menyaksikan Langit Ke-7. Jangan terlalu menganggap serius apa yang ada di sini. Nikmati saja apa yang tersaji di layar seraya mengunyah berondong jagung dan menyeruput minuman bersoda. Jalinan penceritaan yang digulirkan oleh Virra Dewi mungkin saja terkesan klise dan mudah ditebak, namun masih ada rasa manis di dalamnya. Intensitas emosional cerita pun turut dihadirkan disamping ‘sweetness’ yang menjadi bahan baku utama dari genre ini. Tokoh-tokoh yang dimunculkan pun ‘believable’ dan mengasyikkan, walau tentu saja belum bisa menandingi Cinta dkk. Berkat dukungan iringan musik yang megah dari Andi Rianto beserta lagu ‘Layu Sebelum Berkembang’ yang diaransemen ulang, Rudi Soedjarwo berhasil memunculkan beberapa momen yang menyentuh hati dan membuat mata berkaca-kaca. Perpaduannya dengan ‘sweetness’ dan humor pun melebur sempurna sekalipun terkadang humor dimunculkan terlalu cepat yang membuat ‘touching moment’ sedikit terganggu. 

Selain musik Andi Rianto yang menghanyutkan, bidikan Arief R Pribadi yang memunculkan gambar-gambar indah memanjakan mata turut menjadi salah satu poin yang memperkuat film ini. Para pemain pendatang baru pun sama sekali tak mengecewakan. Saya kagum dengan betapa natural-nya mereka berakting, khususnya Taskya Namya, Maureen Irwinsyah, dan Nikki Frazetta yang menjadi ‘scene stealer’ dari film ini. Dan... Rudi Soedjarwo membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu sutradara terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dia mampu menggubah skrip sederhana buatan Virra Dewi menjadi bahasa gambar yang menarik untuk disimak dan memaksimalkan akting dari para pemain anyar yang terkadang masih sering kagok. Selain itu, product placement – dalam hal ini, Clear – pun patuh kepada jalan cerita dan tidak ditaruh secara serampangan. Di bawah arahan sutradara sekelas Rudi Soedjarwo, Langit Ke-7 pun hadir sebagai film yang manis, ringan, menyenangkan, dan menyentuh dengan tampilan gambar yang menyejukkan mata. Setelah bertahun-tahun tak berurusan dengan kisah romansa, Rudi Soedjarwo masih belum kehilangan sentuhannya. Dia tahu benar bagaimana memerlakukan sebuah film bergenre drama romantis dengan balutan fantasi.

Acceptable 




REVIEW : THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN - PART 2


"I thought we would be safe forever. But "forever" isn't as long as I'd hoped." - Bella

Tidak ada franchise yang beranjak dari novel berseri yang lebih fenomenal ketimbang The Twilight Saga. Bagaimana tidak, dari sejumlah franchise yang mengambil sumber dari karya sastra, hanya kisah percintaan terlarang antara manusia dan vampir ini yang mampu mengumpulkan basis massa dan pembenci dalam jumlah yang sama besarnya. Ketika salah satu seri dilempar ke bioskop, para penggemar dengan segera berbondong-bondong menyesaki bioskop seolah itu adalah satu-satunya hari dimana film tersebut diputar sementara ‘haters’ memenuhi linimasa dengan segala nyinyiran dan cibiran terbaik mereka untuk seri ini. Anda tidak akan menemukan segala kehebohan ini dalam Harry Potter, The Hunger Games, apalagi The Lord of the Rings. Dan, franchise yang fenomenal ini pun telah memasuki edisi terakhirnya dalam The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II. Layaknya seri penutup dari penyihir remaja asal Inggris, seri penutup dari ‘sparkling vampire’ ini pun sejatinya dibuat untuk satu film yang kemudian diputuskan untuk dipecah menjadi dua demi memuaskan hasrat ‘fans’ yang tentunya mengharapkan perlakuan istimewa sebelum berpisah dengan sang idola. Saya sesungguhnya cukup penasaran dengan cara Bill Condon menutup franchise yang jilid terakhirnya ini mengusung tagline yang terbilang berani, ‘the epic finale that will live forever’. Akankah The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II menjadi sebuah penutup yang epik atau malah justru anti-klimaks? 

Melanjutkan dari apa yang berakhir di jilid pertama, Bella Swan (Kristen Stewart) telah bertransformasi menjadi vampir yang memungkinkan dia untuk menjalani kehidupan pernikahan yang ‘happily ever after’ bersama Edward Cullen (Robert Pattinson). Setelah ‘the never ending intercourse’ di film sebelumnya yang sungguh melelahkan, akhirnya penonton mendapatkan sajian konflik yang sesungguhnya di seri pamungkas ini. Putri Bella dan Edward, Renesmee (Mackenzie Foy) mengalami pertumbuhan fisik secara cepat dan tidak wajar. Irina (Maggie Grace), salah satu anggota dari keluarga Denali yang melihat Renesmee kala tengah menikmati udara segar bersama Bella dan Jacob Black (Taylor Lautner), mengira Renesmee adalah ‘anak abadi’. Mengingat ini melanggar hukum vampir yang diciptakan oleh Volturi, maka Irina pun menghadap ke Aro (Michael Sheen) dan melaporkan perbuatan keluarga Cullen. Mengetahui bahwa Volturi segera menyerang Cullen berdasarkan penglihatan dari Alice (Ashley Greene), maka Carlisle (Peter Facinelli) pun mengutus keluarganya mengumpulkan kerabat-kerabat mereka dari seluruh dunia untuk bersaksi di depan Volturi bahwa Renesmee bukanlah ‘anak abadi’. 

Dengan mudah saya bisa mengatakan kepada Anda bahwa Breaking Dawn Part II adalah seri terbaik dari The Twilight Saga. Memang tidak sampai dalam tahapan mengagumkan atau epik seperti yang saya harapkan, akan tetapi Bill Condon mampu menghantarkan franchise ini ke sebuah penutup yang layak. Dengan garis konflik yang tidak lagi bercabang dan cenderung fokus kepada nasib Renesmee, Melissa Rosenberg mampu menata jalinan kisah dengan lebih rapi. Bahkan, untuk sekali ini, berani membelokkan cerita dengan suntikan ‘twist’ pada klimaks yang terbilang cukup mencengangkan. Penonton bersorak sorai antara terkejut, senang, atau bahkan kecewa setelah apa yang sesungguhnya terjadi terungkap. Keberanian dalam menyuguhkan ‘twist’ dan sedikit melenceng dari sumber asli ini menjadi kekuatan utama dari film ini. Baik Condon maupun Rosenberg menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menyuguhkan penutup yang sempurna apabila tetap berpegang teguh kepada tulisan Stephenie Meyer dan mempertontonkan kemesraan yang tiada berkesudahan. 

Meski demikian, Breaking Dawn Part II tidak lantas berakhir tanpa meninggalkan kekurangan. Produk ini masih tetap jauh dari kata sempurna. Untuk mencapai sebuah klimaks yang menggetarkan, penonton kudu melalui paruh awal yang... ya, Anda tahu sendiri, sangat The Twilight Saga. Romantisme berlebihan digeber sedemikian rupa di menit-menit awal. Beruntung dosisnya tidak setinggi empat film pertama. Alur pun melaju dengan sangat perlahan, demi memastikan tidak ada bagian penting yang terlewatkan untuk fans. Di paruh ini Anda akan menyaksikan bagaimana Bella berusaha untuk menyesuaikan diri dengan wujud barunya, Charlie Swan (Billy Burke) yang kebingungan melihat Bella, serta sedikit letupan konflik seusai Bella mengetahui bahwa Jacob meng-‘imprint’ Renesmee. Untuk mengurangi rasa bosan, maka humor dan sinematografi indah – walau tak sekuat bagian pertama, dijadikan sebagai penawar. Sayangnya, hal itu tidak membantu banyak. Kesalahan bisa dialamatkan kepada trio Kristen Stewart, Robert Pattinson, dan Taylor Lautner yang hingga film kelima ini masih saja tidak berkembang. Tanpa ekspresi dan tanpa chemistry. Hambar. Untungnya dukungan dari supporting cast – khususnya Michael Sheen yang tampil brilian sebagai Aro – sedikit banyak membantu film dari keterpurukan. 

Setelah awal yang melelahkan dan berpanjang-panjang, secara perlahan eskalasi tensi yang diharapkan oleh penonton sejak menit pertama pun dimunculkan. Bill Condon turut mendengarkan permintaan dari ‘non-fans’. Volturi yang belum sempat unjuk gigi akhirnya memeroleh kesempatan untuk ‘show off’. Breaking Dawn Part II hadir lebih gelap dari jilid sebelumnya dengan adanya kematian, mayat-mayat bergelimpangan, kepala yang terlepas dari tubuh, dan tentunya darah. Sebagian besar adalah hasil ‘kerja keras’ dari Volturi. Ketegangan mencapai puncaknya setelah pertempuran akbar antara pasukan Volturi dan pasukan Cullen dimulai. Seperti yang telah saya sebutkan di dua paragraf sebelum ini, kehadiran ‘twist’ turut menyelamatkan film secara keseluruhan walau efek khusus yang memprihatinkan – terutama penggambaran ‘werewolf’ yang masih saja tidak meyakinkan walau telah diberi suntikan dana berlimpah – cukup mengganggu kenikmatan menonton selain chemistry hambar antara tiga pemain utama dan romantisme yang menggelikan. 

Well, pada akhirnya, apakah saya akan mengatakan bahwa The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II adalah sebuah penutup yang epik? Hmmm... Terlalu berlebihan jika saya menyebutnya epik, saya cukup mengatakan bahwa ini adalah seri terbaik dari franchise ini. Tentu saja tidak sempurna, namun yang jelas, dapat dinikmati dan tidak membuat saya ingin menggantung diri di dalam gedung bioskop atau mencakar muka Bella yang biasanya saya alami kala menyaksikan The Twilight Saga. Bill Condon memang belum mampu memerbaiki kesalahan utama franchise ini yang berkisar pada efek khusus maupun chemistry antar pemain, akan tetapi dia telah berhasil menyuguhkan sebuah perpisahan yang tidak memalukan dengan jalinan penceritaan yang lebih baik, sinematografi yang cantik, dan adegan pertarungan berbalut twist yang cukup mencengangkan. Dan jika Anda bertanya bagaimana dengan deretan lagu yang mengisi album soundtrack-nya? Seperti biasa, jauh mengungguli filmnya. Fans akan keluar dari gedung bioskop dengan senyum terlebar yang pernah mereka tunjukkan kepada dunia, pecinta film akan berdiskusi soal film ini dengan teman atau meng-update status ‘not bad lah’, sementara haters... will always hate.

Note : Kala credit title mulai bergulir, semua tokoh dari Twilight hingga Breaking Dawn Part II dimunculkan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah bersedia menjadi bagian dari keluarga franchise ini. 

Acceptable 




REVIEW : END OF WATCH


"We're cops, everyone wants to kill us." - Taylor 

Apakah Anda pernah menyaksikan Cops yang ditayangkan oleh kanal berbayar, Fox Crime, saban hari? Acara realita tersebut mengikuti beberapa petugas polisi yang tengah berpatroli dan memerlihatkan sepak terjang mereka kala berjibaku dengan sejumlah pelaku tindak kriminal. Film ketiga dari David Ayer setelah Harsh Times dan Street Kings yang diberi titel End of Watch ini mempunyai gaya tutur yang nyaris senada dengan acara realita peraih empat nominasi Emmy tersebut. Selama kurang lebih 109 menit, Anda akan diajak oleh Brian Taylor (Jake Gyllenhaal) dan Mike Zavala (Michael Pena), rekanan di Los Angeles Police Department, menyusuri jalanan di Los Angeles bagian selatan dimana kriminalitas merajalela sehingga memaksa para petugas yang diterjunkan ke wilayah ini untuk senantiasa waspada setiap saat. Ayer menyampaikan kisah dua sahabat ini dengan menerapkan teknik kamera handheld yang membuat film menyerupai sebuah tayangan reality show. Ya, seperti yang saya tulis di awal paragraf, End of Watch mengingatkan pada Cops. Apabila Anda menggemari Cops, maka tentu sulit bagi Anda untuk menampik pesona dari End of Watch

Tidak seperti film bergaya mockumentary kebanyakan, film garapan Ayer ini menghindari sebuah pola penceritaan yang runtut dengan tata waktu simetris. End of Watch diperlakukan selayaknya sebuah acara realita. Seolah-olah ada seorang produser dengan kewenangan penuh dalam menentukan potongan-potongan peristiwa mana saja yang sekiranya mampu mengundang perhatian penonton yang akan dimasukkan ke dalam film. Itulah mengapa film loncat kesana kemari. End of Watch mengawali kisah dengan sebuah ‘car chase scene’ yang cukup seru dimana aktivitas tersebut direkam oleh Brian untuk proyek filmnya. Pengejaran tersebut berakhir petaka setelah Brian dan Mike memberondong para tersangka dengan tembakan. Aksi kedua polisi ini mendapat teguran, terlebih keputusan Brian untuk memfilmkan setiap hela nafas kehidupannya mengganggu para rekan kerjanya terutama Van Hauser (David Harbour). Menit demi menit berikutnya, penonton digiring untuk menyaksikan rangkaian tindakan heroik – dan tidak jarang, tolol, iseng, dan menjengkelkan – dari kedua tokoh utama film ini. 

Di sela-sela rutinitas pekerjaan yang beresiko tinggi, Ayer tidak lupa untuk memperkenalkan latar belakang dari Brian dan Mike walau hanya sebatas pada kehidupan asmara mereka. Mike telah memiliki seorang istri, Gabby (Natalie Martinez). Keduanya tengah menanti momongan pertama mereka. Sementara Brian yang terbiasa gonta-ganti pasangan akhirnya bertekuk lutut saat bertemu dengan Janet (Anna Kendrick). Dikemas dalam bentuk percakapan santai penuh humor, subplot ini menjadi pencair ketegangan seusai mengikuti duo sahabat ini berpatroli di kawasan yang penuh dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Dengan adanya persaingan panas antara kartel dari Mexico dengan kartel kulit hitam untuk menguasai wilayah, maka sudah jelas nyaris tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bersantai. Berhenti di pinggir jalan sambil menyeruput kopi dan melahap donat? Bisa saja dilakukan jika Brian dan Mike memutuskan untuk menjadi polisi malas atau polisi korup. Untungnya, Ayer tidak menggambarkan mereka seperti itu. Brian dan Mike dikisahkan sebagai sosok yang gemar menantang maut dan mengambil resiko saat tengah bertugas. Inilah yang kemudian menuntun mereka kepada ‘villain’ utama dari film ini yang.... harus Anda cari tahu sendiri. 

Sungguh menyenangkan menyaksikan sebuah film dimana Anda merasa seolah-olah ikut terlibat di dalamnya. Tidak ada satupun momen dalam End of Watch yang membuat saya terkulai lemas kebosanan atau menguap lebar-lebar di dalam bioskop. Kerjasama yang solid antara pemain dan kru membuat Ayer mampu mengarahkan film ketiganya ini secara maksimal. Kekuatan utama dari film ini terletak pada naskahnya yang patut mendapat acungan jempol dimana dialog-dialognya yang mengalir lancar mampu menggambarkan keintiman dari setiap tokoh di film ini; baik Brian, Mike, Gabby, maupun Janet. Dari sinilah Ayer membangun ikatan antara penonton dengan setiap tokoh di film ini. Menyaksikan mereka berinteraksi dengan dialog-dialog yang seru, menggelikan, sekaligus menyentuh. Dengan hadirnya ikatan, maka rasa empati penonton pun secara otomatis tumbuh. Apapun yang dilakukan oleh keempat tokoh utama film ini, saya peduli. Saya merasa kenal dekat dengan mereka. Saya merasa menjadi bagian dari lingkaran kehidupan mereka. Dan ini membuat film terasa menyenangkan. 

Chemistry yang terjalin antara Jake Gyllenhaal dan Michael Pena luar biasa padu, intim dan believable. Dengan sokongan naskah dan pengarahan yang mumpuni dari Ayer, mereka kian bersinar. Kala menyaksikannya, saya benar-benar dibuat percaya bahwa mereka adalah rekanan yang telah bekerjasama selama bertahun-tahun. Dinilai dari cara mereka beraksi di lapangan, berkomunikasi maupun bersenda gurau. Dua aktris, Natalie Martinez dan Anna Kendrick, dengan porsi tampil tidak terlalu banyak dan mengiaskan bahwa mereka dimaksudkan untuk menjadi pemanis mata, sanggup mengimbangi Gyllenhaal dan Pena. Anna Kendrick sekali lagi berteriak lantang, “berikan aku peran apapun, meski kecil sekalipun, aku akan melahapnya dengan habis!.” Di luar skrip yang matang dan dalam serta para pemain yang bermain apik, keunggulan lain dapat ditilik dari pengambilan gambar serta editing cekatan dari Dody Dorn. 

Memang, dengan mengaplikasikan teknik kamera handheld yang senantiasa bergerak dan penuh goncangan, konsekuensi yang kudu dihadapi adalah tidak semua penonton bisa menerimanya. Cukup memusingkan. Jika Anda mudah mual, bukan tidak mungkin akan muntah. Selain itu, sudut pandang yang terkadang kurang tepat – dimana seharusnya tidak ada kamera bertengger di beberapa sudut mengingat film ini mengusung gaya mockumentary – terasa mengganggu di beberapa kesempatan dan sedikit banyak menodai konsep realistis yang ingin diusung Ayer. Akan tetapi, dengan teknik inilah penonton justru lebih terkoneksi dengan apa yang tersaji di hadapannya. Seolah apa yang tengah disaksikan adalah peristiwa nyata, bukan sebuah film. Tentu saja hal ini sia-sia belaka jika tidak mendapat sokongan dari departemen lain, khususnya akting dan skrip. Maka sesuatu yang wajar jika Ayer melayangkan ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada para aktor yang telah berakting natural dan membangun chemistry yang meyakinkan serta intim. Pada akhirnya, End of Watch bukanlah ‘another buddy cop movie’ dengan konsep yang usang dan mudah ditebak. Memilih pendekatan baru untuk genre ini dengan mencampurkan found footage dan mockumentary, menyuntikkan hati, dan menyeimbangkan antara aksi, drama serta sedikit ‘teror’, End of Watch pun berakhir sebagai sebuah hidangan yang sederhana namun lezat. It’s gripping, intense, and fun. It brought every single one of my emotions out. I highly recommend it.

Exceeds Expectations