Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

REVIEW : DEMI UCOK


"Keberhasilan perempuan Batak itu dinilai dari anaknya. Kalau anak kau lebih hebat dari anak mami, baru kau boleh sombong." - Mak Gondut 

Salah satu lagu anak nasional mempunyai penggalan lirik seperti ini, “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali...”. Hmmmm... tunggu sebentar, hanya memberi tak harap kembali, apakah lirik lagu ini dapat dibuktikan kebenarannya? Seorang ibu tulus memberi apapun kepada anaknya tanpa mengharapkan imbalan apapun? Jika meminjam istilah anak gahoel zaman sekarang, ‘ciyus, macacih, enelan’? Tidak juga. Seorang ibu pun tetaplah manusia, harapan mendapat balasan dari sang anak tentu bersemayam dalam hati. Beberapa mengungkapkan secara langsung, beberapa lainnya dipendam untuk mengetes kepekaan si buah hati. Mak Gondut (Lina Marpaung) terpaksa menyampaikannya secara terang-terangan lantaran gemas melihat putri semata wayangnya, Gloria (Geraldine Sianturi), masih betah untuk melajang meski usianya hendak melangkah ke kepala tiga. Glo, begitu sapaan akrab Gloria selain Gorilla, emoh untuk menikah dengan berdalih, “Glo tak mau seperti Emak. Kawin, lupa mimpi, and live boringly ever after.” Demi membujuk Glo untuk menikah, Mak Gondut mengiming-imingi suntikan dana sebesar Rp. 1 Milyar untuk proyek film kedua Glo yang jalan di tempat. 

Dalam kamus kehidupan Mak Gondut, ada tiga tujuan hidup perempuan Batak; menikah dengan pria Batak, mempunyai anak Batak, dan mencari menantu Batak. Mak Gondut kian cerewet dan pantang menyerah untuk menjodohkan Glo dengan pria Batak usai dirinya divonis oleh dokter bahwa usianya hanya tersisa satu tahun. Maka, dalam sisa film yang hanya memakan durasi sekitar 79 menit ini, penonton akan menyaksikan perang idealisme antara seorang anak perempuan yang memerjuangkan mimpinya dengan sang ibu yang sesungguhnya hanya ingin melihat putrinya hidup bahagia. Sammaria Simanjuntak yang mengawali karir film panjangnya melalui Cin(t)a yang indah dan terbilang berani mengapungkan permasalahan yang sensitif untuk sebagian kalangan, membawakan Demi Ucok secara ringan dan santai namun dihiasi dengan dialog-dialog cerdas, segar, jenaka, dan menohok. Sebagai pekerja film, maka sentilan tentang kondisi perfilman Indonesia saat ini yang kacau pun kudu dimasukkan. Salah satu conton, simak saja percakapan yang terjadi antara Glo dengan produser film horror Indonesia yang diperankan oleh Joko Anwar saat Glo mencoba untuk menawarkan naskah buatannya: 

“Ini sudah halaman 14, hantunya mana ini?” 
“Kalau terlalu sering muncul, nanti suspense-nya hilang.” 
“Itu kalau kau bikin film di barat. Film orang Indonesia itu tak ada yang mau mikir. Hantu itu muncul harus setiap dua menit sekali.” 

Atau salah satu dialog Gloria, “film Indonesia itu cuma butuh tiga hal; banci, hantu, dan susu.” Sammaria pun menghadirkan tokoh bernama Nikki (Saira Jihan) sebagai sahabat Glo yang menopang kebutuhan hidup dengan menjual dvd bajakan. Pada titik ini kita melihat posisi dilematis dvd bajakan; di satu sisi merugikan para pembuat film, namun di sisi lain menguntungkan sebagai lahan untuk memperoleh banyak referensi film dengan harga murah khususnya bagi sineas berkantong cekak. Tak hanya menyenggol kelamnya dunia perfilman, Sammaria pun asyik ‘curcol’ mengenai adat dan budayanya sendiri, Batak. Malahan, inilah yang menjadi kupasan utama dalam Demi Ucok. Pun begitu, Anda tak perlu khawatir tidak bisa menikmati joke-joke yang dilontarkan karena bagaimanapun, it’s everybody story. Tapi tentunya kelucuannya akan berlipat ganda apabila Anda memahami betul adat dan budaya Batak. 

Mengingat ini adalah film yang (katanya sih...) personal bagi Sammaria, maka dia tidak terlalu kesulitan dalam menuturkan kisah dan sanggup berbicara jujur apa adanya. Penonton pun digiring untuk memasuki ‘dunia Sammaria’ dengan bantuan tokoh bernama Gloria. Beruntung apa yang dialami dan dirasakan oleh sang sutradara yang juga merangkap sebagai produser dan penulis skrip ini tidak berbeda jauh dengan pengalaman saya dan Anda. Seperti yang telah saya sebutkan di paragraf sebelumnya, ini adalah kisah semua orang. Persoalan kita bersama. Diakui atau tidak, mirip sekali atau hanya sekadar nyerempet, rasa-rasanya kita pun pernah berada dalam posisi Glo, terutama bagi yang telah merasakan usia 20-an, rampung kuliah atau memasuki dunia kerja. Pertanyaan akan diawali dengan, “sudah punya pacar belum?”. Semakin lama, akan semakin merembet kemana-mana. Ketika di usia mapan tak juga menggandeng calon pendamping hidup, orang tua akan gusar dan mulai mencari info mengenai pria/wanita yang masih menjomblo di arisan RT, PKK, pengajian, gereja, atau komunitas untuk dijodohkan dengan putra/putri mereka. Ini tak hanya dilakukan oleh emak-emak Batak, tetapi juga emak-emak dari suku lain, karena ini masalah nasional. 

Sungguh membahagiakan di awal tahun 2013 kita sudah disambut oleh sebuah film Indonesia yang sangat layak untuk ditonton, Demi Ucok. Sammaria Simanjuntak mengapungkan sentilan untuk adat dan budaya Batak yang tergolong sensitif untuk dijamah serta kekacauan industri perfilman nasional dengan cara yang segar dan menyenangkan. Tidak ada kesempatan bagi Anda untuk mengerutkan dahi, hanya ada ledakan tawa tiada henti. Setidaknya, itulah yang saya alami. Sejak menit pertama hingga credit title mulai merayap, Sammaria membuat perut dan pipi saya terasa kencang menyaksikan tingkah polah Mak Gondut dan Gloria yang dimainkan secara natural nan apik oleh pendatang baru, Lina Marpaung dan Geraldine Sianturi. Chemistry yang terjalin diantara keduanya berpadu dengan manis, seolah-olah keduanya memang ibu dan anak betulan di luar layar. Kehadiran Saira Jihan, Sunny Soon (sebagai Acun, sahabat Glo yang bermimpi menjadi penyanyi), serta Nora Samosir semakin memarakkan suasana. Bagusnya lagi, Demi Ucok pun tak pernah jatuh ke dalam lubang kekonyolan dan slapstick yang berlebihan. Bahkan momen ber-drama ria yang seharusnya penuh dengan deraian air mata ditampilkan secukupnya saja tanpa didramatisasi berlebihan seperti kebanyakan film Indonesia. 

Apakah Anda adalah seorang Batak atau bukan, tidak menjadi soal. Demi Ucok sekalipun kerap bermain-main dalam humor yang cakupannya terbilang ‘segmented’, tetap bisa dinikmati oleh kalangan luas. Naskah bernas buatan Sammaria Simanjuntak tersampaikan dengan apik berkat pengarahannya yang lincah, akting serta chemistry manis dari para pemain, serta departemen teknis (mulai dari tata artistik, musik, hingga sinematografi) dimanfaatkan secara tepat guna. Jarang sekali saya bisa tertawa puas menyaksikan sebuah film Indonesia di layar lebar. Saya bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali mengalaminya. Ini benar-benar sebuah pengalaman yang menggembirakan. Bahkan, tidak cukup hanya sampai di sana, Demi Ucok pun membuat saya merindukan ibu yang telah berpulang setahun lalu. Apabila Anda memiliki rencana untuk menyimak Demi Ucok di bioskop tapi tak ada teman, jangan ragu-ragu untuk mengajak ibunda. Pengalaman yang dihasilkan tentunya akan jauh berbeda. Siapa tahu seusai menonton akan saling berpelukan atau berupaya untuk memahami dunia masing-masing.

Outstanding




REVIEW : 5 CM


"Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang mau kamu kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu."

Seusai Air Terjun Pengantin yang mencetak kesuksesan luar biasa di tangga box office meski kudu menerima cercaan dari sejumlah penikmat film, Rizal Mantovani ‘anteng-anteng saja’ dan malah membesut beberapa film yang nyaris tak tercium keberadaannya. Diprediksi karirnya akan kian memburam, tak dinyana-nyana di penghujung tahun 2012 Rizal Mantovani mencetak sebuah rekor raihan penonton melalui garapan teranyarnya, 5 cm, yang diangkat dari novel laris hasil buah karya Donny Dhirgantoro. Di tengah musim paceklik penonton yang melanda perfilman nasional, 5 cm berhasil menggiring 500 ribu penonton ke bioskop hanya dalam tempo 5 hari pertama penayangan! Sungguh sebuah prestasi yang menakjubkan. Jika ditelusuri lebih lanjut, hal ini bukan sesuatu yang mengherankan. 5 cm adalah sebuah ‘popcorn movie’ dimana para penonton dimanjakan dengan sinematografi yang cantik, asupan komedi yang tinggi, serta mengusung jalinan kisah yang dekat dengan kehidupan anak muda zaman sekarang. Bisa jadi, saat ini Rizal Mantovani sedang tersenyum seraya berkata, “saya tahu apa yang kalian semua inginkan!.” 

Apabila yang diulik dari film ini tak lebih dari sekadar persahabatan antara lima orang komplit dengan bumbu-bumbu konflik yang menyertainya, maka mungkin hanya segelintir penonton yang meliriknya. “Apa yang baru dari ini? Kita sudah menyaksikannya berulang kali.” Mungkin seperti itulah teriakan dari penonton. Maka, Donny Dhirgantoro yang harus diakui cermat melihat pangsa pasar pun memboyong kisah persahabatan yang maha klise ini ke Puncak Mahameru. Mengingat masyarakat dewasa ini, khususnya remaja, banyak yang menggilai pendakian gunung serta ‘travelling’, keputusan untuk memasukkan kisah melangkahkan kaki melalui jalan setapak menuju puncak tertinggi di Jawa yang berpasir, penuh batu, dan ilalang dengan jurang menganga menjadi pemandangan di sekeliling tak bisa lebih tepat lagi. Ini menjadi semacam penyegaran setelah pantai dan objek wisata di negeri orang telah berulang kali dibidik oleh sineas nasional. Pemandangan Mahameru yang ‘Subhanallah indah sekali’ tentu menjadi daya tarik utama dari 5 cm. Saya berani menjamin, siapapun yang gemar berwisata akan segera merencakan jadwal perjalanan ke gunung berapi aktif ini seusai menyimak 5 cm di layar lebar. 

Perjalanan mendaki Puncak Mahameru dimulai setelah lima sahabat; Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah), dan Ian (Igor Saykoji), bereuni seusai tiga bulan lamanya saling menjauh dan tak bertegur sapa. Keputusan untuk berpisah sejenak dibuat demi menghilangkan rasa jenuh dalam hubungan persahabatan mereka yang tengah hinggap setelah sepuluh tahun lamanya senantiasa bersama tak pernah terpisahkan. Mereka berkumpul di Stasiun Senen pada tanggal dan jam sesuai dengan kesepakatan. Bergabung bersama kelompok adalah adik Arial, Dinda (Pevita Pearce), yang sudah lama menjadi incaran Zafran. Kecuali Genta, tak satupun dari para petualang ini yang mengetahui ke arah mana kereta ekonomi yang mereka tumpangi akan berhenti. Genta tidak sedikit pun membeberkan petunjuk mengenai liburan ini kepada sahabat-sahabatnya dan hanya berkata, “yang jelas perjalanan ini nggak akan kalian lupakan!”. Meski tidak dibekali petunjuk apapun dalam film, penonton tahu bahwa keenam sahabat ini hendak menuju Puncak Mahameru. Yah, trailer, poster, dan sinopsis telah berbicara banyak. 

Saya tidak bisa memungkiri bahwa 5 cm adalah sebuah sajian hiburan yang menghibur. Ini adalah jenis film yang cocok ditonton untuk melepas penat. Seperti yang telah saya utarakan di paragraf pembuka dan kedua, kekuatan utama dari film ini bertumpu pada sinematografinya yang memanjakan mata. Kecantikan Mahameru benar-benar terpancarkan di sini berkat kelihaian Yudi Datau dalam mengabadikan gambar. Mereka yang telah menjejakkan kaki di sana akan membusungkan dada dan memamerkannya kepada teman yang duduk di sebelahnya, sementara mereka yang belum berkesempatan untuk menghirup segarnya udara pegunungan di Mahameru hanya bisa menatap ke layar dengan air liur yang menetes-netes sembari mendengar ocehan penonton sebelah yang tiada berkesudahan. Pendakian yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini pun menjadi semakin terasa menyenangkan dan tidak sekalipun terasa berat berkat ocehan-ocehan dan tingkah laku Ian, Zafran, dan Arial yang senantiasa mengundang tawa. Jangan lupakan pula sumbangsih dari Nidji beserta The Future Conspiracy untuk film yang mana musik gubahan mereka sedikit banyak membuat sejumlah adegan menjadi terasa lebih greget. Berkat visual yang maha cantik, suntikan humor segar, serta musik yang menghanyutkan inilah, 5 cm terselamatkan. 

Terselamatkan? Ya, Anda tidak salah baca. Penyelamat dari film ini adalah keagungan Tuhan yang diperlihatkan dalam pesona alam Mahameru yang sulit untuk dilupakan, segala canda tawa yang dituturkan dan dilakonkan oleh trio lawak tersebut serta musik skor hasil kreasi Nidji dan The Future Conspiracy karena sejatinya dari segi penceritaan, 5 cm seolah kehilangan arah. Paruh pertama yang terbangun dengan apik mendadak menukik turun secara drastis tatkala mencapai bagian dimana mereka tiba di lokasi yang dirahasiakan oleh Genta. Dengan secepat kilat, Rizal Mantovani membanting setir dari sebuah film persahabatan menjadi sebuah film nasionalisme dengan dialog yang sepertinya dicomot dari buku ajar PPKN. Seolah belum cukup, dihadirkan twist yang mengungkap jalinan asmara segi rumit diantara para tokoh. Kebahagiaan saya pun roboh seketika dan rasanya ingin mencari pohon pisang terdekat untuk kemudian terjun. Tidak ada yang salah dengan segala tetek bengek yang disebut nasionalisme atau romansa yang memelintir ini apabila Donny Dhirgantoro dan Rizal Mantovani meluangkan waktu sejenak untuk membangun pondasi atau latar belakang selama kisah berjalan. Masalahnya... ini semua dimunculkan secara tiba-tiba tanpa terlebih dahulu diberi aba-aba. Jika apa-yang-kita-sebut nasionalisme ini hadir dengan sebegitu mudahnya hanya dengan mendaki gunung, mengapa kita tidak bawa saja para koruptor ke Mahameru? Dan apa maksud dari taburan kisah romansa di penghujung film? Sangat tidak perlu, mubazir, dan tentunya mencederai filmnya itu sendiri. 

Sungguh disayangkan sekali trio Donny Dhirgantoro, Sunil Soraya, dan Hilman Mutasi tidak memilih untuk menggali lebih dalam kisah persahabatan diantara enam orang ini di kala mendaki. Benih-benih asmara yang timbul pun akan menjadi lebih menggigit apabila diberi porsi secukupnya saja, dan bukannya malah justru mengambil alih kemudi cerita di paruh akhir. Keputusan untuk mengubah salah satu tokoh menjadi pribadi yang nasionalis hingga mengorbankan mimpi besarnya terlalu dipaksakan dan rasa-rasanya tidak akan Anda jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Like, seriously? Dan ini masih diperparah dengan detil-detil tak tepat macam pakaian yang dikenakan untuk mendaki, kecelakaan dalam perjalanan menuju puncak, atau rambut yang senantiasa tergerai indah. Sesaat setelah membaca tulisan ini mungkin Anda gatal untuk berkomentar, “nyudutin 5 cm mulu, emangnya kamu bisa bikin film?”. Tidak ada maksud untuk menyudutkan film ini, sama sekali tidak ada. Justru sebaliknya, saya sangat peduli dengan 5 cm. Sungguh sangat disayangkan film yang memiliki potensi untuk menjadi sebuah film yang sangat baik ditilik dari segi kualitas harus berakhir mengecewakan hanya karena tim penulis dan Rizal Mantovani yang terlalu ambisius untuk menjadikan 5 cm sebagai sebuah paket yang komplit. Akibatnya, 5 cm tidak lebih dari sekadar sebuah produk untuk ‘senang-senang belaka.’ Sebagai sebuah hiburan, film ini memang nyaris memenuhi segalanya, tapi tidak sebagai film yang baik. Beruntung masih ada kecantikan Mahameru, guyonan-guyonan segar, serta iringan musik dari Nidji dan The Future Conspiracy yang berjasa menyelamatkan 5 cm dari keterpurukan. Dan pada akhirnya saya pun membatin, "kau belum sepenuhnya tahu apa yang kita inginkan, Rizal."

Acceptable



REVIEW : MOUSEHUNT


"He's Hitler with a tail. He's "The Omen" with whiskers. Even Nostradamus didn't see him coming!" - Ernie 

Beberapa hari terakhir ini saya terhinggapi virus ‘susah move-on’ yang tengah mewabah di berbagai penjuru dunia dan menyerang manusia tanpa mengenal batasan usia, agama, suku, status sosial, maupun jenis kelamin. Sebuah ‘virus’ yang sangat berbahaya. Hanya saja, bukanlah persoalan asmara yang saya hadapi, melainkan... ya Anda tahu sendiri, berkaitan dengan hobi, yang ya Anda tahu sendiri... film. Di tengah pikiran yang sumpek lantaran tak kunjung menemukan gairah membara untuk menyelesaikan omong kosong bernama skripshit, mendadak saya ingin menyaksikan ulang film-film penuh kenangan manis. Maksudnya disini, film-film yang saya tonton di tiga tahun pertama tatkala rasa cinta kepada film mulai bersemayam di hati mungil ini. Maka Anda jangan terheran-heran jika dalam beberapa minggu ke depan Cinetariz akan dihiasi film-film yang disorotkan pertama kali ke layar putih lebar pada tahun 1996 hingga 1998. Dalam perjalanan melongok ke masa lampau, pilihan pertama jatuh kepada MouseHunt yang memasuki bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 1998. Ketertarikan saya kepada film ini lebih disebabkan oleh rasa ingin tahu dan kepolosan anak SD. Bagaimana mungkin sebuah film yang nampaknya aman dan ditargetkan untuk konsumsi keluarga – dinilai dari tampilan poster utama dan poster ‘movie stills’ – mendapat cap ‘Dewasa’ dari LSF? Hmmm... Dan saat saya menyaksikannya, pertanyaan itu masih belum terjawab. Jawaban baru saya dapatkan, 14 tahun kemudian! Ouch. 

MouseHunt adalah film perdana dari Gore Verbinski yang belakangan Anda kenal sebagai nahkoda kapal dari trilogi Pirates of the Caribbean serta menukangi versi Amerika dari film yang melambungkan nama Mbak Sadako, The Ring. Film yang diproduksi oleh DreamWorks Pictures dengan suntikan dana sebesar $38 juta ini adalah jenis film yang murni dibuat dengan tujuan sebagai hiburan. Tak usah berpusing-pusing memikirkan logika cerita karena Anda hanya akan sakit hati dibuatnya. Just enjoy the movie! Apa yang disajikan oleh Verbinski di sini bak tengah menyaksikan sebuah tampilan ‘live action’ dari animasi tak lekang zaman, Tom & Jerry. Tak ada yang benar-benar menjadi tokoh antagonis dalam film ini, semuanya dikembalikan ke perspektif masing-masing penonton. Apakah Anda akan menilai si tikus sebagai ‘villain’ atau malah justru dua bersaudara yang senantiasa tertimpa kesialan, Ernie Smuntz (Nathan Lane) dan Lars Smuntz (Lee Evans)? Bisa juga para tokoh pendukung yang mana mendapat porsi tampil minor di sini. Anda bebas memutuskan. 

Kesialan yang dialami oleh Ernie dan Lars bermula ketika ayah mereka, Rudolf Smuntz (William Hickey), berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Warisan yang ditinggalkannya hanyalah pabrik benang yang kondisinya hidup segan mati tak mau, benda-benda koleksi yang murahan, serta sebuah rumah kuno yang hanya dengan satu tiupan angin saja porak poranda. Tak satupun yang mampu membuat mereka berdua berenang-renang di kolam Dollar layaknya Paman Gober. Namun setelah Lars dicampakkan oleh istrinya yang mata duitan serta Ernie kehilangan restoran yang dikelolanya karena sebuah insiden yang menyebabkan kematian seorang walikota, maka mereka berdua pun mau tak mau menerima peninggalan sang ayah... termasuk mengurus hutang-hutang yang ditinggalkan. Keberuntungan untuk sesaat sepertinya berpihak kepada mereka saat terungkap fakta bahwa rumah warisan sang ayah adalah bangunan bersejarah yang disebut ‘The Missing LaRue’. Lelang pun digelar. Dua bersaudara ini memberikan sentuhan disana sini demi memerbaiki rumah yang telah bobrok. Hanya saja segalanya tidak serta merta berjalan sesuai rencana. Rumah ini ternyata telah dihuni oleh seekor tikus yang enggan begitu saja ditendang ke luar dan berusaha keras untuk tetap bertahan apapun resiko yang dihadapi. Selama film berlangsung yang akan Anda simak adalah bagaimana Smuntz bersaudara kewalahan dalam menaklukkan si tikus ajaib yang dengan lincah berlari kesana kemari seolah-olah mengejek ketidakbecusan para pewaris resmi ini hingga kemudian memanggil pembasmi profesional, Mr. Caesar (Christopher Walken), yang ternyata bertekuk lutut saat berhadapan dengan binatang pengerat yang tak kalah ajaib dengan Jerry itu. Sungguh luar biasa... menjengkelkan. 

Terakhir kali saya menyaksikan MouseHunt adalah belasan tahun yang lalu. Apa yang saya rasakan saat ini saat menontonnya kembali pun tak jauh berbeda dengan apa yang saya rasakan dulu kecuali tertangkapnya detil-detil kecil sekaligus terjawabnya pertanyaan yang sempat menghantui pikiran itu. MouseHunt tetaplah sebuah sajian yang sangat menyenangkan untuk ditonton, lucu, dan tentu saja menghibur. MouseHunt bagaikan perpaduan antara Home Alone dan Tom & Jerry. Asalkan Anda bisa menikmati kedua hidangan tersebut, maka Anda tak akan kesulitan menerima film yang naskahnya dikelola oleh Adam Rifkin ini. Memang ini bukan film yang dicari oleh para pemburu komedi cerdas karena ledakan tawa penonton dipancing oleh lawak slapstik, namun jika apa yang Anda harapkan adalah sebuah tontonan yang mampu membuat Anda tergelak di kala senggang – atau malah stres – tanpa perlu memutar otak demi memahami maksud dan tujuan film dibuat, maka ini film yang tepat. Duduk, rebahkan punggung ke sandaran kursi, selonjorkan kaki, sisihkan sejenak segala macam persoalan yang membebani pikiran dan nikmati apa yang tersaji di layar. Kalau perlu, siapkan pula cemilan dan minuman ringan untuk menikmati Anda bersantai. Uh, nikmat sekali.

Acceptable




REVIEW : WRECK-IT RALPH


"I'm bad, and that's good. I will never be good, and that's not bad. There's no one I'd rather be then me." - Ralph 

Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya kerap mencuri-curi waktu untuk bermain ding dong di bioskop usai jam sekolah. Saya tidak bisa mengingat secara pasti judul game yang kerap saya mainkan – hanya bisa mengingat bahwa kebanyakan berjenis ‘fighting games’, namun satu yang jelas adalah Street Fighter. Oh tentu saja, ini permainan semua orang, bukan? Ketika akhirnya ‘rahasia kotor’ saya ini terbongkar, orang tua membelikan Nintendo sehingga saya tidak lagi keluyuran dan membuang-buang recehan. Dan, Nintendo ini berjasa merekatkan hubungan antar anggota keluarga. Kami memiliki hari dan jam tertentu untuk bertanding melawan satu sama lain memainkan game mengenai tank yang sialnya lagi-lagi saya lupa judulnya. Tahun demi tahun berlalu, teknologi berkembang sedemikian pesat, Nintendo perlahan mulai ditinggalkan dan digantikan oleh PlayStation dimana pada tahun-tahun awal saya berhasil diracuni oleh unyu-unyu ‘racing games’ macam Chocobo Racing dan Crash Team Racing. Setelah sempat menjadi maniak game selama beberapa tahun, saya akhirnya meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan demi game demi fokus kepada pendidikan *uhuk!*, dan tentunya hobi saya yang utama, film. Sekian lama tidak menyentuh konsol permainan, hati ini mendadak rindu kala beberapa hari lalu menyimak Wreck-It Ralph di layar bioskop. Tidak menyangka sama sekali jika film yang awalnya sempat saya remehkan ini ternyata mampu merebut hati saya dengan mudahnya dan seketika bertengger di posisi puncak ‘Film Animasi Terfavorit 2012’ bersanding bersama Frankenweenie

Pernahkah Anda di waktu luang secara iseng memikirkan bagaimana jika para tokoh yang posisinya ditempatkan dalam kubu hitam ternyata melakukan kebiadaban secara terpaksa dan menentang hati nuraninya? Bagaimana jika, secara diam-diam, ternyata mereka sesungguhnya mendambakan cinta, puja-puji, dan penghormatan dari masyarakat? Itulah yang Rich Moore coba untuk kulik dalam Wreck-It Ralph, film animasi ke-52 dari Walt Disney yang sebelumnya meraih kesuksesan melalui Rapunzel. Penonton diperkenalkan kepada Ralph Sang Penghancur (John C. Reilly), ‘villain’ dari sebuah arcade game bertajuk Fix-It Felix, Jr. Tidak seperti para tokoh jahat lain yang ‘legowo’ dan ‘nerimo’ nasib mereka apa adanya, Ralph justru memberontak. Dia ingin berhenti menjadi ‘villain’ dan menginginkan perlakuan seperti yang diterima oleh Felix (Jack McBrayer). Kekecewaan memenuhi dirinya tatkala mengetahui dirinya menjadi satu-satunya tokoh dalam game yang tidak diundang ke dalam peringatan ulang tahun game ke-30. Berakar dari permasalahan ini, Ralph pun berpetualang ke game lain demi memeroleh medali agar diterima oleh karakter lain di Fix-It Felix, Jr. Ralph berkelana di Hero’s Duty, sebuah arcade game modern dengan tampilan grafis 3D-nya yang sangat halus dan detil, dimana medali dijanjikan bagi para tokoh yang mampu menaklukkan serbuan serangga buas. Memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya, Ralph mampu menggenggam medali tersebut dengan mudah. Akan tetapi, apakah dengan medali di tangan, film berakhir begitu saja? Oh, tentu saja tidak, Kawan. 

Kecerobohan Ralph membuat salah satu serangga buas dari Hero’s Duty lepas dan bersembunyi di ‘kart-racing game’ bernama Sugar Rush yang membuat saya mendadak rindu kepada Chocobo Racing. Bertolak belakang dengan Hero’s Duty yang memiliki nuansa mencekam, Sugar Rush dihiasi berbagai macam ‘refreshments’ dari mulai kue, permen gulali, cokelat, hingga minuman bersoda dengan tampilan penuh warna yang memanjakan mata. Visualnya sedikit banyak mengingatkan kepada Cloudy with a Chance of Meatballs dan Charlie and the Chocolate Factory dimana warna-warni cantik berasal dari sejumlah makanan yang terhampar di berbagai sudut. Seketika perut saya pun merengek-rengek meminta pasokan cemilan beserta pengairannya. Duh. Di Sugar Rush, Ralph berkenalan dengan bocah bengal bernama Vanellope von Schweetz (Sarah Silverman) setelah medali yang digondolnya dihilangkan oleh Vanellope. Dimulai dari rasa saling membenci dimana keributan-keributan kecil menjadi bumbu penyedap, secara perlahan Ralph dan Vanellope menjadi dekat setelah keduanya mengenal pribadi masing-masing. Sementara itu, para karakter di Fix-It Felix, Jr. kelimpungan dengan menghilangnya Ralph. Arcade game mereka terancam digusur apabila hingga esok hari Ralph tidak kunjung kembali. Felix pun turun tangan mencari keberadaan Ralph dibantu oleh Sergeant Calhoun (Jane Lynch) dari Hero’s Duty yang memiliki misi menghancurkan serangga buas yang secara diam-diam ternyata beranak pinak di sebuah tempat di Sugar Rush. 

Wreck-It Ralph secara mengejutkan hadir sebagai sebuah tontonan animasi yang menghibur, menyenangkan, dan menghangatkan. Pada awalnya, saya tidak terlalu menaruh minat kepada film ini terlebih tampilan trailernya kurang mengundang. Tapi, saya berpikir lagi, bukankah film-film dari Walt Disney memang kebanyakan memiliki trailer yang cenderung tidak menggugah selera? Beruntung saya berhasil menepis rasa pesimistis yang sempat menguasai dan nekat melangkahkan kaki ke bioskop pada hari Minggu sore. Pengorbanan yang saya lakukan – hujan deras mengguyur ibukota dan harga tiket yang (naudzubillah) mahal – ternyata membawa hasil. Wreck-It Ralph is really worth to watch! Bahkan saya benar-benar terpesona dibuatnya. Ini adalah tipe film yang saya rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menontonnya lagi dan lagi. Di film panjang untuk bioskop pertamanya ini, Rich Moore telah berhasil membuat saya terpana. Tak seperti Rapunzel yang masih menjunjung tinggi gaya penceritaan khas Disney klasik, Wreck-It Ralph telah berkembang menyesuaikan zaman. Dari segi tampilan, film ini telah menyerupai apa yang dicapai oleh Pixar. Bahkan ‘lebih Pixar’ ketimbang Brave yang notabene produk Pixar. Akan tetapi, jalan cerita sederhana nan hangat ala Disney tetap dikedepankan. Dengan perpaduan dua unsur inilah yang menjadikan film terasa sedap untuk disantap. 

Ditilik dari segi penceritaan, Wreck-It Ralph tidak memberikan sesuatu yang benar-benar baru. Naskah olahan Phil Johnston dan Jennifer Lee cenderung sederhana dalam menyampaikan kisah. Yang menjadi kunci sukses dari film ini adalah kecermatan tim penulis dalam bertutur ditingkahi penanganan yang cekatan, sumbangan suara yang merasuk ke dalam jiwa setiap tokoh, tim animasi dengan daya imajinasi yang tinggi, serta pemilihan soundtrack yang tepat guna. Selain keceriaan dan keseruan yang mutlak dimiliki film animasi untuk keluarga, film yang didukung oleh AKB48 di departemen soundtrack ini pun tidak luput disuntik ‘serum’ kehangatan layaknya film-film produk Disney lainnya. Sulit rasanya untuk tidak tersentuh – atau jika Anda adalah pribadi yang sensitif, meneteskan air mata – kala menyaksikan persahabatan Ralph dan Vanellope. Siapa yang menduga dibalik sampulnya yang buruk, Ralph adalah pribadi yang hangat. Pesan moral yang masih berkisar tidak jauh-jauh dari kekeluargaan dan persahabatan disampaikan secara halus tanpa ada kesan menggurui. Wreck-It Ralph mengombinasikan sebuah petualangan yang seru dengan komedi cerdas dan drama menyentuh secara padu. Baik penonton cilik maupun penonton dewasa akan mudah jatuh cinta kepada film ini. Ketika penonton cilik bergembira menyaksikan visual yang penuh warna dan petualangannya yang menghibur, maka penonton dewasa bersorak sorai karena humornya yang cerdas, banyaknya referensi terhadap budaya pop serta nostalgia yang diusungnya. Sebagai sebuah penghormatan terhadap arcade game tahun 1980-1990’an, dihadirkan cameo tokoh-tokoh dari Super Mario Bros, Pac-Man, Street Fighter, Altered Beast, Q*bert, hingga Sonic the Hedgehog. Apabila ada mendengar suara tawa penonton yang membahana kala menyaksikan tokoh-tokoh ini muncul, Anda bisa menebak dengan mudah berapa usia penonton tersebut. Hahaha.

Note : Sebaiknya Anda tidak datang terlambat karena ada sebuah film pembuka berdurasi 7 menit berjudul Paperman yang sederhana, jenaka, manis, dan romantis. Sangat bagus. 

Outstanding




REVIEW : CITA-CITAKU SETINGGI TANAH


 "Rezeki itu nggak pernah pergi. Dia cuma menunggu waktu yang tepat untuk kembali."

Ada perasaan miris ketika saya bertandang ke salah satu bioskop di Semarang siang kemarin untuk menyaksikan Cita-Citaku Setinggi Tanah. Bagaimana tidak, hanya ada empat penonton yang menemani saya di dalam gedung bioskop menyaksikan film sepanjang 75 menit ini. Padahal saat itu adalah hari pertama film ini dilempar ke pasaran. Apakah promosi kurang gencar sehingga publik belum menyadari keberadaannya atau publik telah benar-benar masa bodoh dengan film Indonesia? Kemana perginya kalian yang selama ini berkoar-koar membutuhkan film buatan anak bangsa yang berkualitas? Seriously, It’s a good movie. Ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan kepedulian kalian. Bahkan, penjualan tiket untuk film ini seluruhnya akan didonasikan untuk anak-anak penderita kanker. Niatan tulus yang seharusnya mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Terlepas dari apakah donasi ini hanya dipergunakan sebagai alat untuk menarik perhatian penonton atau tidak, Cita-Citaku Setinggi Tanah tetaplah sebuah sajian yang sebaiknya tidak Anda lewatkan begitu saja. 

Film perdana buatan Eugene Panji ini tidak mencoba untuk menjadi sebuah film yang ambisius dengan mengapungkan permasalahan-permasalahan pelik nan memusingkan yang pada akhirnya hanya membuat sang pembuat kebingungan dalam mengurai benang yang telah mengusut. Apa yang disoroti di sini sangatlah sederhana, ini adalah ‘everybody’s story’. Saya yakin, Anda pun pernah mengalaminya. Masih ingatkah Anda ketika duduk di bangku sekolah dasar pernah ditanya oleh guru Bahasa Indonesia, “apa cita-citamu?”. Saat mendapat pertanyaan seperti demikian, bagaimana Anda menjawabnya? Jawaban yang umum diterima dari bocah-bocah SD, seperti halnya yang diperlihatkan dalam segmen singkat mengenai “cita-citaku adalah...” di awal dan penutup film ini, tidak jauh-jauh dari profesi seperti dokter, pilot, penegak hukum, artis, pramugari hingga presiden. Semuanya tinggi-tinggi. Saat ada yang memberikan jawaban yang agak nyeleneh, konsekuensi yang diterima adalah cenderung ditertawakan. Lihat saja apa yang terjadi pada Agus (M Syihab Imam Muttaqin). Setelah dia mengemukakan cita-citanya untuk bisa makan di restoran Padang, ledakan tawa dengan nada mengejek pun membahana. Bagi teman-temannya, mimpi Agus dianggap terlalu dangkal. 

Cita-cita yang dikemukakan secara lisan oleh para siswa di dalam kelas diminta oleh sang Guru Bahasa Indonesia untuk dituangkan ke dalam bentuk karangan pada akhir semester. Tugas yang sekilas terlihat remeh temeh ini nyatanya membuat Agus dan ketiga sahabatnya, Jono (Rizqullah Maulana), Puji (Iqbal Zuhda), dan Mey (Dewi Wulandari), kelimpungan. Mereka menanggapinya dengan serius, seolah-olah sedikit kesalahan dalam tulisan dapat memengaruhi kesempatan mereka dalam menggapai cita-cita. Ketika ketiga sahabat Agus asyik menggores kata-kata di atas kertas dengan melayangkan angan-angan, Agus memilih pendekatan lain setelah mendengar nasihat dari seorang tetangga, “cita-cita bukan cuma untuk ditulis saja, tetapi diwujudkan.” Tanpa sepengetahuan keluarga dan teman-temannya, Agus banting tulang kesana kemari untuk menumpuk receh dalam celengan bambunya demi merasakan nikmatnya makanan Padang. Menuntaskan tugas sekolah bukan lagi menjadi tujuan akhirnya, melainkan berubah haluan menjadi bagaimana cara mewujudkan cita-citanya yang hanya setinggi tanah itu. 

Naskah hasil kreasi pemikiran Satriono yang beranjak dari sebuah premise yang sangat sederhana tidak berbelit-belit dalam menyampaikan kisah. Lancar dan mengalir apa adanya. Satriono dan Eugene Panji memasukkan banyak sekali kesederhanaan, kejujuran, dan cinta kasih untuk film ini yang membuat Cita-Citaku Setinggi Tanah menjadi sebuah film yang sangat hangat dan membumi. Pesan moral dan sindiran-sindiran sosial disampaikan secara halus tanpa perlu dijabarkan dalam bentuk dialog beratus-ratus kata namun tetap mengena di hati penonton. Kesederhanaan memang menjadi kunci utama dari film produksi Humanplus Production ini. Tidak hanya dari segi naskah, ditilik dari sisi teknis pun film ini sangatlah sederhana. Bisa jadi, karena keterbatasan biaya. Bagusnya, menyadari bahwa sokongan dari sisi teknis tidaklah memadai, Eugene Panji dan tim memaksimalkan kinerja dari departemen lain yang hasilnya sama sekali tidak mengecewakan. Naskah buatan Satriono yang berbicara lantang berpadu manis dengan akting dari para pemainnya, khususnya para aktor cilik pendatang baru, yang natural serta soundtrack yang ‘easy listening’ dan ditempatkan secara pas. Namun yang benar-benar membuat saya jatuh hati dengan film ini adalah alur cerita dan para tokohnya yang merakyat yang dapat saya jumpai dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin ini adalah kisah tetangga, keponakan, anak, cucu, sepupu, atau malah justru Anda sendiri. Ini bukan sebuah fantasi kehidupan, bukan juga sebuah halusinasi kehidupan, tapi ini sebuah realita kehidupan. Dekat sekali di hati. Maka saya sungguh menyayangkan jika film sebagus, sejujur, dan sehangat Cita-Citaku Setinggi Tanah ditanggapi dingin oleh masyarakat.

Exceeds Expectations




REVIEW : TED


"Ted, you mean everything to me, and so does Lori. I mean, I'm just trying to find a way to keep you both in my life." - John 

Apakah Anda pernah melewati sebuah masa dimana Anda berharap mainan atau boneka milik Anda bisa hidup dan mengajak bermain bersama? Mengucap doa, atau malah justru merapal mantra, tapi keajaiban yang dinanti-nantikan tidak kunjung menghampiri. Saat usia semakin bertambah dan pikiran semakin matang, kita pun menyadari bahwa harapan masa lalu ini adalah sebuah kekonyolan yang hanya mungkin terjadi di alam mimpi atau sebuah film. Pun begitu, jauh di dalam lubuk hati, saya masih menyimpan secercah pengharapan walau akal sehat menolaknya. Seth MacFarlane yang namanya melejit berkat serial animasi kurang ajar, Family Guy, mengulik permasalahan ini dalam film panjang perdananya, Ted. Dia menciptakan sebuah karakter berbentuk boneka beruang yang dapat berbicara. Ini bukan pertama kalinya bagi MacFarlane melahirkan sebuah karakter yang absurd atau berwujud binatang yang dapat berbicara karena sebelumnya dia telah memunculkannya dalam Family Guy, American Dad! maupun The Cleveland Show. Tidak berbeda dengan para pendahulunya, Ted (disuarakan oleh Seth MacFarlane) pun mempunyai bentuk fisik yang bikin gemes namun senantiasa nyinyir, berperilaku kasar, cabul, dan kurang ajar. 

Sejatinya, Ted tak lebih dari sekadar ‘buddy movie’ yang menyoroti dua sahabat yang enggan untuk tumbuh dewasa dan segala bentuk konsekuensi yang mau tak mau kudu diterima sebagai sebuah jawaban atas pilihan yang telah mereka buat. Yang membuatnya sedikit berbeda adalah pilihan MacFarlane untuk menempatkan sesosok boneka beruang yang bisa berbicara sebagai si ‘antagonis’ dalam kerumitan mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup. Dengan begini, film pun memasukkan unsur fantasi ke dalamnya. Si ‘protagonis’ adalah John Bennett (Mark Wahlberg), pria berusia 35 tahun dengan pekerjaan mentok di tempat persewaan mobil. Sang kekasih, Lori (Mila Kunis), gerah melihat John tidak kunjung belajar untuk bertanggung jawab atau membuat keputusan sementara sebentar lagi usia memasuki kepala empat. Lori melihat Ted sebagai virus yang harus disingkirkan dari kehidupan John. Akan tetapi, tentu saja tidak mudah untuk meminta Ted pergi begitu saja meninggalkan John terlebih mereka telah bersahabat sejak John masih berusia 8 tahun. Kala itu, John cilik (Bretton Manley) yang kesepian, melayangkan harapan ke bintang jatuh untuk menghidupkan boneka beruang miliknya. Tak dinyana, Tuhan menjawab permintaan John cilik. Ted hidup, dan dengan segera menjelma menjadi bintang cilik kesayangan publik. 

Tanpa dibekali bakat yang mumpuni, popularitas Ted dengan cepat meredup. Penonton tidak dibiarkan untuk melihat proses jatuhnya seorang bintang tanpa bakat karena itu bukanlah yang menjadi inti cerita dari Ted. Setting waktu dimajukan hingga 27 tahun ke depan, dan kita langsung menyaksikan kehidupan dua sahabat yang berantakan ini. Si Teddy Bear telah menjelma menjadi boneka yang pemalas, gemar berpesta, dan main perempuan. Hidupnya dihabiskan sebagian besar di atas sofa seraya menghirup ganja dan menonton ‘Flash Gordon’. Tidak ada masa depan cerah yang membayangi, maka sungguh wajar jika Lori terpaksa memberi ultimatum kepada John untuk memilih dia atau sang sahabat. Perkara seperti ini telah Anda saksikan berulang kali dalam film yang berbeda-beda, dan mayoritas memberikan konklusi yang kurang lebih sama. Dalam Ted, MacFarlane dan kedua rekan di departemen penulisan naskah, Alec Sulkin dan Wellesley Wild, pun tak berusaha untuk menyajikan alur konflik yang berbeda. Justru keklisean inilah yang membuat penonton mudah terkoneksi dengan film. Penonton merasa iba kepada Lori, dan jengkel kepada Ted maupun John. Terberkatilah para penulis yang dianugerahi para bintang yang bermain di atas rata-rata disini. Selain Mark Wahlberg dan Seth MacFarlane yang tidak perlu diragukan lagi pesonanya, film juga mendapat sokongan akting mumpuni dari Mila Kunis, Giovanni Ribisi sebagai penggemar berat yang menyeramkan, serta Joel McHale yang memainkan peran sebagai bos Lori. Semenjak bertransformasi menjadi angsa hitam, Kunis kian matang saja dari film ke film. Disini pun dia mampu mengimbangi performa Wahlberg dan MacFarlane yang kuat mendominasi. 

Apabila Anda sudah terbiasa menyaksikan komedi dengan rating R (17 tahun ke atas) khas Amerika maupun serial-serial ciptaan MacFarlane, khususnya Family Guy yang mempunyai tone yang sangat mirip dengan film ini, maka Anda tidak akan lagi terkejut dan mampu melahap film ini dengan hati riang gembira. Layaknya tingkah laku si boneka beruang, Ted pun luar biasa kasar. Ledakan tawa penonton di dalam gedung bioskop diciptakan melalui komedi fisik, jokes yang bersinggungan dengan kentut, serta mulut kotor Ted yang sepertinya sangat perlu dicuci dengan sabun. Tidak terhitung berapa jumlah selebriti, ‘pop culture’ serta isu sensitif yang diserang dengan sangat kejam dan tanpa ampun di sepanjang film. Yang membekas di ingatan saya, beberapa diantara ‘korban’ meliputi Katy Perry, Pink Floyd, Superman versi Brandon Routh, Bridget Jones' Diary, Octopussy, Airplane!, Sinead O’Connor, Taylor Lautner, Susan Boyle, kepercayaan tertentu hingga serangan 9/11. Walaupun terkadang keterlaluan, khususnya bagi masyarakat Timur yang masih menjunjung tinggi unggah-ungguh, namun saya berhasil tertawa terbahak-bahak nyaris sepanjang film. It’s hilariously funny, dude! Trio MacFarlane, Sulkin, dan Wild, telah menciptakan sebuah film komedi fantasi yang bagi saya nampak sebagai ‘Christmas movie’ yang penuh dengan kegilaan, sentilan, lucu, menyenangkan, namun tetap punya hati. Penonton memang tak henti-hentinya dibawa dari satu pesta ke pesta lain, hanya mengikuti Ted dan John untuk menyia-nyiakan waktu berharga mereka, namun pada akhirnya penonton diajak untuk merenungi makna dari kedewasaan, tanggung jawab, komitmen serta belajar membuat keputusan.

Outstanding 




REVIEW : RADIO GALAU FM


"Kenapa ya cewek itu terlihat lebih cantik ketika dia udah bukan milik kita lagi ?" - Bara 

Ada apa dengan galau? Mengapa kata yang satu ini bisa sedemikian populernya di kalangan generasi nunduk? Apa yang membuatnya spesial hingga nyaris di setiap ucapan, terselip kata yang satu ini? dan yang lebih penting, apa sebenarnya definisi yang tepat dari galau? Baiklah, saya akan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan mengubek-ubek berbagai laman di dunia maya untuk mencari tahu definisi dari galau, kata terpopuler di tahun 2010’an. Tik tok, tik tok *satu jam kemudian...* Baiklah, setelah saya membaca kamus secara intensif dan berselancar di dunia maya selama kurang lebih satu jam, akhirnya saya menemukan pengertian galau. Galau mempunyai arti sibuk beramai-ramai, sangat ramai, dan berkacau tidak karuan. Jadi, dapat disimpulkan berdasarkan kamus, seseorang yang sedang galau adalah seseorang yang dalam keadaan atau pikiran yang tidak karuan. Kacau. Sumpek. Dilema. Jika dikaitkan dengan film Radio Galau FM, maka galau yang dimaksud berkaitan erat dengan problematika asmara. 

G-word ini sejatinya bukanlah sesuatu yang baru di industri hiburan. Sejumlah lagu telah mempergunakannya. Namun galau baru menemukan ketenarannya ketika laman jejaring sosial yang memungkinkan penggunanya untuk terus berkicau digemari oleh masyarakat. Selebritis dunia maya mengapungkannya kembali. Segera saja, publik mengikuti. Memanfaatkan momentum, lahirlah sebuah akun bernama Radio Galau FM yang mengkhususkan untuk berkicau perihal kegalauan dalam hal asmara, sebuah topik yang mudah menggaet perhatian remaja. Setelah berhasil mengumpulkan pengikut hingga mencapai ratusan ribu, versi buku pun segera diluncurkan, dan tidak perlu menunggu lama untuk melihatnya diterjemahkan ke dalam bentuk visual. Yang beruntung mendapat kesempatan untuk mengolah naskah versi film dari radio yang senantiasa galau ini adalah Haqi Ahmad, penulis skenario muda berbakat yang juga menggarap naskah versi film dari fenomena Twitter lainnya, Poconggg Juga Pocong. Kali ini dia bekerja sama dengan Iqbal Rais. Mengumpulkan barisan pemain berwajah segar, Radio Galau FM, secara mengejutkan, lebih sedap untuk disantap ketimbang si Poconggg. 

Jalan ceritanya klise. Anda bisa menemukannya dengan mudah di FTV yang tayang saban hari, seputar kisah cinta segibanyak di kalangan pelajar yang mengenakan seragam putih abu-abu. Bara Mahesa (Dimas Anggara) yang bermimpi menjadi penulis, tengah galau. Hingga tahun keduanya di SMA, belum ada gadis yang nemplok padanya (Kayak nyamuk aja, nemplok...). Sang kakak dengan tingkah lakunya yang luar biasa ajaib, kerap meledeknya. Meski diberkahi wajah yang rupawan, Bara tetap menghabiskan malam Minggunya di dalam kamar, duduk menghadap layar laptop, dan mengejar mimpinya menjadi penulis. Tak sekalipun berkencan. Segalanya berubah saat seorang adik kelas bernama Velin (Natasha Rizki) mengajaknya berkenalan. Dari yang awalnya malu-malu meong, secara perlahan Bara dan Velin menjadi semakin lengket. Muncullah percikan asmara. Bara memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Velin setelah beberapa hari hubungan mereka tiada kejelasan. Velin menerima. Bersama Velin, Bara memasuki hidup baru yang penuh warna, indah dan menyenangkan. Kegalauan Bara berakhir... hanya untuk sementara. Setelah memasuki bulan kedua, mulai terlihat peringai asli masing-masing. Velin tidak lagi gadis manis yang polos dan ceria. Bara gerah. Di saat hubungan mereka memburuk, hadir Diandra (Alisia Rininta). Bara menjadikan Diandra sebagai pelarian, padahal dia dan Velin masih belum putus. Nah lho! 

Di bawah penanganan Iqbal Rais, kisah klise tentang sejumlah ABG yang galau karena cinta tidak terkesan murahan. Sekalipun jalan cerita semacam ini sudah berulang kali ditampilkan, namun dia sanggup mengemasnya dengan menggoda sehingga penonton betah untuk duduk di kursi bioskop hingga film berakhir. Konfliknya mengalir wajar tidak berlebihan, dan humor serta situasi kocak yang disajikan pun mampu mengundang tawa renyah tanpa perlu mengambil jalur slapstick. Yang menjadikan Radio Galau FM lebih bersinar ketimbang kisah Poconggg yang absurd adalah para pemainnya yang mampu bermain apik, tak hanya menjual tampang belaka. Dimas Anggara, Alisia Rininta, dan Indri Giana boleh saja berusaha keras untuk menarik perhatian penonton, akan tetapi Natasha Rizki yang ekspresif, senantiasa mencuri perhatian setiap kali dia tampil. Jengkel melihat kelakuannya yang manja dan penuntut, namun iba ketika Bara meminta putus kepada Velin. Sulit untuk menyangkal bahwa gadis ini memiliki bakat. Saya pun penasaran dengan kiprah Natasha Rizki berikutnya di dunia akting. Yang cukup saya sayangkan, sepanjang film, penonton tidak diberi tahu latar belakang Velin dan Diandra, semuanya tentang Bara. Andaikan para karakter pendukung ini diberi porsi lebih, film akan menjadi lebih menarik. Radio Galau FM memang bukanlah film romansa dari Indonesia yang termanis tahun ini, namun yang jelas, merupakan salah satu yang menghibur. Setidaknya isi filmnya tidak seburuk desain posternya.

Acceptable




REVIEW : MAMA CAKE


"Everything happens for a reason."

Mama Cake mencoba memberikan suguhan yang berbeda di tengah-tengah iklim perfilman Indonesia yang telah mencapai titik jenuh. Sutradara debutan, Anggy Umbara, tidak terjebak dalam kisah percintaan yang melankolis atau horor dengan bumbu komedi yang sama sekali tidak lucu yang kerap dibidik oleh para sineas saat ini yang enggan untuk mengambil resiko. Sebagai sutradara anyar, Anggy Umbara malah justru nekat keluar dari ‘comfort zone’ dengan melahirkan sebuah film yang (maunya) eksentrik dan segar. Mama Cake mengambil jalur road movie yang tergolong jarang dilalui oleh para sineas lokal lantaran dianggap tak mampu menambah pundi-pundi Rupiah secara cepat. Untuk visualisasinya, film ini sedikit banyak terinspirasi dari style Scott Pilgrim vs the World yang ala komik dengan panel, grafis penuh warna, serta dialog atau dentuman suara yang diperlihatkan dalam bentuk kata-kata yang memenuhi layar dalam berbagai bentuk font. Jika saya berhenti menulis sampai disini, maka Mama Cake nampak sebagai sebuah film yang menjanjikan. Sayangnya, tulisan ini masih belum berakhir, kawan-kawan. 

Tiga sahabat, Raka (Ananda Omesh), Willy (Boy William), dan Rio (Arie Dagienkz), kudu menempuh perjalanan Jakarta-Bandung yang digambarkan Willy dengan Pamer Paha - Padat Merayap Tanpa Harapan – di Sabtu pagi demi memenuhi permintaan terakhir Nenek Raka (Nani Widjaja) yang menginginkan brownies kukus Mama Cake yang dibeli langsung dari pusatnya di Bandung. Mereka hanya diberi waktu sekitar lima jam, dan pukul satu siang harus sudah berada di Jakarta. Sesuatu yang mustahil, tentu saja. Kecuali, mobil yang mereka tumpangi mendadak bisa terbang dan melenggang di udara dengan mulus (Tenang, ini tidak benar-benar terjadi dalam film, hanya imajinasi saya belaka). Layaknya sebuah road movie, perjalanan yang dilalui oleh para tokoh utama ini tidaklah semulus yang dibayangkan. Mereka menabrak seorang penyebrang jalan (Fajar Umbara) yang anehnya tidak terluka sedikitpun meski tertabrak dengan cukup keras. Dan, itulah awal mula dari serangkaian musibah aneh yang datang silih berganti seakan tiada akhir yang menimpa ketiga sahabat ini. 

Baiklah, setelah saya memberikan kesempatan kepada Anda untuk mengetahui jalan cerita dari film ini secara ringkas tanpa membocorkan beberapa adegan penting seperti yang dilakukan oleh sinopsis resminya, maka saya akan melanjutkan kalimat yang menggantung di akhir paragraf pertama. Harus diakui, Mama Cake mempunyai jalinan penceritaan yang menarik yang mampu membuat penonton untuk tetap menyimak film ini hingga credit title bergulir. Perjuangan Raka untuk mendapatkan sekotak Mama Cake ditampilkan dengan sangat mengasyikkan. Barisan pemainnya pun bermain dengan sangat baik. Trio penulis naskah, Anggy Umbara, Hilman Mutasi, dan Sofyan Jambul, tidak hanya berhasil menyuguhkan tontonan yang seru, tetapi juga menghibur dan sarat akan pesan moral. Akan tetapi, akan tetapi.... yang sungguh sangat disayangkan, mereka mengambil jalur yang salah untuk mengemas pesan moral yang hendak disampaikan. Alih-alih diterjemahkan ke dalam bahasa gambar yang menuntut penonton untuk memaknai sendiri setiap gambar yang disorotkan ke layar, Anggy Umbara dan kawan-kawan malah justru merangkainya dalam bentuk kata-kata. Dijelaskan. Alhasil, film pun menjadi luar biasa cerewet dan menggurui. 

Saya pun bertanya-tanya, apakah benar saya sedang berada di bioskop menonton film? Ini lebih seperti sedang menghadiri sebuah pengajian, mendengarkan ceramah agama. Bukannya tercerahkan, hati malah jengkel. Kuping pun panas. Dahsyatnya, film super ceriwis ini membentang panjang. Durasinya mencapai 143 menit! Ya, Anda tidak salah baca, 143 menit. Banyak adegan dan dialog yang terasa mubazir. Dipangkas menjadi 100 menit pun tidak akan berpengaruh banyak. Anggy Umbara terlalu asyik ceramah dalam film perdananya ini sehingga lupa bahwa film bukanlah media yang tepat untuk menyalurkan minatnya ini. Andaikan saja Mama Cake tidak memiliki durasi yang kelewat panjang, tidak kelewat cerewet seperti nenek-nenek, dan tidak menganggap film mempunyai peranan yang sama dengan mimbar Masjid, maka Mama Cake bisa berkali-kali lipat lebih menarik dan menyenangkan dari sekarang. Sungguh sangat disayangkan.

Acceptable