Tampilkan postingan dengan label Acceptable. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Acceptable. Tampilkan semua postingan

REVIEW : 5 CM


"Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang mau kamu kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu."

Seusai Air Terjun Pengantin yang mencetak kesuksesan luar biasa di tangga box office meski kudu menerima cercaan dari sejumlah penikmat film, Rizal Mantovani ‘anteng-anteng saja’ dan malah membesut beberapa film yang nyaris tak tercium keberadaannya. Diprediksi karirnya akan kian memburam, tak dinyana-nyana di penghujung tahun 2012 Rizal Mantovani mencetak sebuah rekor raihan penonton melalui garapan teranyarnya, 5 cm, yang diangkat dari novel laris hasil buah karya Donny Dhirgantoro. Di tengah musim paceklik penonton yang melanda perfilman nasional, 5 cm berhasil menggiring 500 ribu penonton ke bioskop hanya dalam tempo 5 hari pertama penayangan! Sungguh sebuah prestasi yang menakjubkan. Jika ditelusuri lebih lanjut, hal ini bukan sesuatu yang mengherankan. 5 cm adalah sebuah ‘popcorn movie’ dimana para penonton dimanjakan dengan sinematografi yang cantik, asupan komedi yang tinggi, serta mengusung jalinan kisah yang dekat dengan kehidupan anak muda zaman sekarang. Bisa jadi, saat ini Rizal Mantovani sedang tersenyum seraya berkata, “saya tahu apa yang kalian semua inginkan!.” 

Apabila yang diulik dari film ini tak lebih dari sekadar persahabatan antara lima orang komplit dengan bumbu-bumbu konflik yang menyertainya, maka mungkin hanya segelintir penonton yang meliriknya. “Apa yang baru dari ini? Kita sudah menyaksikannya berulang kali.” Mungkin seperti itulah teriakan dari penonton. Maka, Donny Dhirgantoro yang harus diakui cermat melihat pangsa pasar pun memboyong kisah persahabatan yang maha klise ini ke Puncak Mahameru. Mengingat masyarakat dewasa ini, khususnya remaja, banyak yang menggilai pendakian gunung serta ‘travelling’, keputusan untuk memasukkan kisah melangkahkan kaki melalui jalan setapak menuju puncak tertinggi di Jawa yang berpasir, penuh batu, dan ilalang dengan jurang menganga menjadi pemandangan di sekeliling tak bisa lebih tepat lagi. Ini menjadi semacam penyegaran setelah pantai dan objek wisata di negeri orang telah berulang kali dibidik oleh sineas nasional. Pemandangan Mahameru yang ‘Subhanallah indah sekali’ tentu menjadi daya tarik utama dari 5 cm. Saya berani menjamin, siapapun yang gemar berwisata akan segera merencakan jadwal perjalanan ke gunung berapi aktif ini seusai menyimak 5 cm di layar lebar. 

Perjalanan mendaki Puncak Mahameru dimulai setelah lima sahabat; Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah), dan Ian (Igor Saykoji), bereuni seusai tiga bulan lamanya saling menjauh dan tak bertegur sapa. Keputusan untuk berpisah sejenak dibuat demi menghilangkan rasa jenuh dalam hubungan persahabatan mereka yang tengah hinggap setelah sepuluh tahun lamanya senantiasa bersama tak pernah terpisahkan. Mereka berkumpul di Stasiun Senen pada tanggal dan jam sesuai dengan kesepakatan. Bergabung bersama kelompok adalah adik Arial, Dinda (Pevita Pearce), yang sudah lama menjadi incaran Zafran. Kecuali Genta, tak satupun dari para petualang ini yang mengetahui ke arah mana kereta ekonomi yang mereka tumpangi akan berhenti. Genta tidak sedikit pun membeberkan petunjuk mengenai liburan ini kepada sahabat-sahabatnya dan hanya berkata, “yang jelas perjalanan ini nggak akan kalian lupakan!”. Meski tidak dibekali petunjuk apapun dalam film, penonton tahu bahwa keenam sahabat ini hendak menuju Puncak Mahameru. Yah, trailer, poster, dan sinopsis telah berbicara banyak. 

Saya tidak bisa memungkiri bahwa 5 cm adalah sebuah sajian hiburan yang menghibur. Ini adalah jenis film yang cocok ditonton untuk melepas penat. Seperti yang telah saya utarakan di paragraf pembuka dan kedua, kekuatan utama dari film ini bertumpu pada sinematografinya yang memanjakan mata. Kecantikan Mahameru benar-benar terpancarkan di sini berkat kelihaian Yudi Datau dalam mengabadikan gambar. Mereka yang telah menjejakkan kaki di sana akan membusungkan dada dan memamerkannya kepada teman yang duduk di sebelahnya, sementara mereka yang belum berkesempatan untuk menghirup segarnya udara pegunungan di Mahameru hanya bisa menatap ke layar dengan air liur yang menetes-netes sembari mendengar ocehan penonton sebelah yang tiada berkesudahan. Pendakian yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini pun menjadi semakin terasa menyenangkan dan tidak sekalipun terasa berat berkat ocehan-ocehan dan tingkah laku Ian, Zafran, dan Arial yang senantiasa mengundang tawa. Jangan lupakan pula sumbangsih dari Nidji beserta The Future Conspiracy untuk film yang mana musik gubahan mereka sedikit banyak membuat sejumlah adegan menjadi terasa lebih greget. Berkat visual yang maha cantik, suntikan humor segar, serta musik yang menghanyutkan inilah, 5 cm terselamatkan. 

Terselamatkan? Ya, Anda tidak salah baca. Penyelamat dari film ini adalah keagungan Tuhan yang diperlihatkan dalam pesona alam Mahameru yang sulit untuk dilupakan, segala canda tawa yang dituturkan dan dilakonkan oleh trio lawak tersebut serta musik skor hasil kreasi Nidji dan The Future Conspiracy karena sejatinya dari segi penceritaan, 5 cm seolah kehilangan arah. Paruh pertama yang terbangun dengan apik mendadak menukik turun secara drastis tatkala mencapai bagian dimana mereka tiba di lokasi yang dirahasiakan oleh Genta. Dengan secepat kilat, Rizal Mantovani membanting setir dari sebuah film persahabatan menjadi sebuah film nasionalisme dengan dialog yang sepertinya dicomot dari buku ajar PPKN. Seolah belum cukup, dihadirkan twist yang mengungkap jalinan asmara segi rumit diantara para tokoh. Kebahagiaan saya pun roboh seketika dan rasanya ingin mencari pohon pisang terdekat untuk kemudian terjun. Tidak ada yang salah dengan segala tetek bengek yang disebut nasionalisme atau romansa yang memelintir ini apabila Donny Dhirgantoro dan Rizal Mantovani meluangkan waktu sejenak untuk membangun pondasi atau latar belakang selama kisah berjalan. Masalahnya... ini semua dimunculkan secara tiba-tiba tanpa terlebih dahulu diberi aba-aba. Jika apa-yang-kita-sebut nasionalisme ini hadir dengan sebegitu mudahnya hanya dengan mendaki gunung, mengapa kita tidak bawa saja para koruptor ke Mahameru? Dan apa maksud dari taburan kisah romansa di penghujung film? Sangat tidak perlu, mubazir, dan tentunya mencederai filmnya itu sendiri. 

Sungguh disayangkan sekali trio Donny Dhirgantoro, Sunil Soraya, dan Hilman Mutasi tidak memilih untuk menggali lebih dalam kisah persahabatan diantara enam orang ini di kala mendaki. Benih-benih asmara yang timbul pun akan menjadi lebih menggigit apabila diberi porsi secukupnya saja, dan bukannya malah justru mengambil alih kemudi cerita di paruh akhir. Keputusan untuk mengubah salah satu tokoh menjadi pribadi yang nasionalis hingga mengorbankan mimpi besarnya terlalu dipaksakan dan rasa-rasanya tidak akan Anda jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Like, seriously? Dan ini masih diperparah dengan detil-detil tak tepat macam pakaian yang dikenakan untuk mendaki, kecelakaan dalam perjalanan menuju puncak, atau rambut yang senantiasa tergerai indah. Sesaat setelah membaca tulisan ini mungkin Anda gatal untuk berkomentar, “nyudutin 5 cm mulu, emangnya kamu bisa bikin film?”. Tidak ada maksud untuk menyudutkan film ini, sama sekali tidak ada. Justru sebaliknya, saya sangat peduli dengan 5 cm. Sungguh sangat disayangkan film yang memiliki potensi untuk menjadi sebuah film yang sangat baik ditilik dari segi kualitas harus berakhir mengecewakan hanya karena tim penulis dan Rizal Mantovani yang terlalu ambisius untuk menjadikan 5 cm sebagai sebuah paket yang komplit. Akibatnya, 5 cm tidak lebih dari sekadar sebuah produk untuk ‘senang-senang belaka.’ Sebagai sebuah hiburan, film ini memang nyaris memenuhi segalanya, tapi tidak sebagai film yang baik. Beruntung masih ada kecantikan Mahameru, guyonan-guyonan segar, serta iringan musik dari Nidji dan The Future Conspiracy yang berjasa menyelamatkan 5 cm dari keterpurukan. Dan pada akhirnya saya pun membatin, "kau belum sepenuhnya tahu apa yang kita inginkan, Rizal."

Acceptable



REVIEW : MOUSEHUNT


"He's Hitler with a tail. He's "The Omen" with whiskers. Even Nostradamus didn't see him coming!" - Ernie 

Beberapa hari terakhir ini saya terhinggapi virus ‘susah move-on’ yang tengah mewabah di berbagai penjuru dunia dan menyerang manusia tanpa mengenal batasan usia, agama, suku, status sosial, maupun jenis kelamin. Sebuah ‘virus’ yang sangat berbahaya. Hanya saja, bukanlah persoalan asmara yang saya hadapi, melainkan... ya Anda tahu sendiri, berkaitan dengan hobi, yang ya Anda tahu sendiri... film. Di tengah pikiran yang sumpek lantaran tak kunjung menemukan gairah membara untuk menyelesaikan omong kosong bernama skripshit, mendadak saya ingin menyaksikan ulang film-film penuh kenangan manis. Maksudnya disini, film-film yang saya tonton di tiga tahun pertama tatkala rasa cinta kepada film mulai bersemayam di hati mungil ini. Maka Anda jangan terheran-heran jika dalam beberapa minggu ke depan Cinetariz akan dihiasi film-film yang disorotkan pertama kali ke layar putih lebar pada tahun 1996 hingga 1998. Dalam perjalanan melongok ke masa lampau, pilihan pertama jatuh kepada MouseHunt yang memasuki bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 1998. Ketertarikan saya kepada film ini lebih disebabkan oleh rasa ingin tahu dan kepolosan anak SD. Bagaimana mungkin sebuah film yang nampaknya aman dan ditargetkan untuk konsumsi keluarga – dinilai dari tampilan poster utama dan poster ‘movie stills’ – mendapat cap ‘Dewasa’ dari LSF? Hmmm... Dan saat saya menyaksikannya, pertanyaan itu masih belum terjawab. Jawaban baru saya dapatkan, 14 tahun kemudian! Ouch. 

MouseHunt adalah film perdana dari Gore Verbinski yang belakangan Anda kenal sebagai nahkoda kapal dari trilogi Pirates of the Caribbean serta menukangi versi Amerika dari film yang melambungkan nama Mbak Sadako, The Ring. Film yang diproduksi oleh DreamWorks Pictures dengan suntikan dana sebesar $38 juta ini adalah jenis film yang murni dibuat dengan tujuan sebagai hiburan. Tak usah berpusing-pusing memikirkan logika cerita karena Anda hanya akan sakit hati dibuatnya. Just enjoy the movie! Apa yang disajikan oleh Verbinski di sini bak tengah menyaksikan sebuah tampilan ‘live action’ dari animasi tak lekang zaman, Tom & Jerry. Tak ada yang benar-benar menjadi tokoh antagonis dalam film ini, semuanya dikembalikan ke perspektif masing-masing penonton. Apakah Anda akan menilai si tikus sebagai ‘villain’ atau malah justru dua bersaudara yang senantiasa tertimpa kesialan, Ernie Smuntz (Nathan Lane) dan Lars Smuntz (Lee Evans)? Bisa juga para tokoh pendukung yang mana mendapat porsi tampil minor di sini. Anda bebas memutuskan. 

Kesialan yang dialami oleh Ernie dan Lars bermula ketika ayah mereka, Rudolf Smuntz (William Hickey), berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Warisan yang ditinggalkannya hanyalah pabrik benang yang kondisinya hidup segan mati tak mau, benda-benda koleksi yang murahan, serta sebuah rumah kuno yang hanya dengan satu tiupan angin saja porak poranda. Tak satupun yang mampu membuat mereka berdua berenang-renang di kolam Dollar layaknya Paman Gober. Namun setelah Lars dicampakkan oleh istrinya yang mata duitan serta Ernie kehilangan restoran yang dikelolanya karena sebuah insiden yang menyebabkan kematian seorang walikota, maka mereka berdua pun mau tak mau menerima peninggalan sang ayah... termasuk mengurus hutang-hutang yang ditinggalkan. Keberuntungan untuk sesaat sepertinya berpihak kepada mereka saat terungkap fakta bahwa rumah warisan sang ayah adalah bangunan bersejarah yang disebut ‘The Missing LaRue’. Lelang pun digelar. Dua bersaudara ini memberikan sentuhan disana sini demi memerbaiki rumah yang telah bobrok. Hanya saja segalanya tidak serta merta berjalan sesuai rencana. Rumah ini ternyata telah dihuni oleh seekor tikus yang enggan begitu saja ditendang ke luar dan berusaha keras untuk tetap bertahan apapun resiko yang dihadapi. Selama film berlangsung yang akan Anda simak adalah bagaimana Smuntz bersaudara kewalahan dalam menaklukkan si tikus ajaib yang dengan lincah berlari kesana kemari seolah-olah mengejek ketidakbecusan para pewaris resmi ini hingga kemudian memanggil pembasmi profesional, Mr. Caesar (Christopher Walken), yang ternyata bertekuk lutut saat berhadapan dengan binatang pengerat yang tak kalah ajaib dengan Jerry itu. Sungguh luar biasa... menjengkelkan. 

Terakhir kali saya menyaksikan MouseHunt adalah belasan tahun yang lalu. Apa yang saya rasakan saat ini saat menontonnya kembali pun tak jauh berbeda dengan apa yang saya rasakan dulu kecuali tertangkapnya detil-detil kecil sekaligus terjawabnya pertanyaan yang sempat menghantui pikiran itu. MouseHunt tetaplah sebuah sajian yang sangat menyenangkan untuk ditonton, lucu, dan tentu saja menghibur. MouseHunt bagaikan perpaduan antara Home Alone dan Tom & Jerry. Asalkan Anda bisa menikmati kedua hidangan tersebut, maka Anda tak akan kesulitan menerima film yang naskahnya dikelola oleh Adam Rifkin ini. Memang ini bukan film yang dicari oleh para pemburu komedi cerdas karena ledakan tawa penonton dipancing oleh lawak slapstik, namun jika apa yang Anda harapkan adalah sebuah tontonan yang mampu membuat Anda tergelak di kala senggang – atau malah stres – tanpa perlu memutar otak demi memahami maksud dan tujuan film dibuat, maka ini film yang tepat. Duduk, rebahkan punggung ke sandaran kursi, selonjorkan kaki, sisihkan sejenak segala macam persoalan yang membebani pikiran dan nikmati apa yang tersaji di layar. Kalau perlu, siapkan pula cemilan dan minuman ringan untuk menikmati Anda bersantai. Uh, nikmat sekali.

Acceptable




REVIEW : LANGIT KE-7



"Gua tuh mau punya pacar sekali tapi yang berkualitas. Ngapain punya banyak pacar tapi kacangan semua gitu." - Dania 

Jika pada akhirnya Langit Ke-7 tidak memenuhi harapan sejumlah pihak, setidaknya film ini masih bisa berbangga karena memiliki trailer yang menarik, sinopsis resmi yang bebas spoiler, serta desain poster yang rupawan. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh film Indonesia kebanyakan. Ditunjuk untuk mengomandoi Langit Ke-7 adalah Rudi Soedjarwo yang akhir-akhir tengah menikmati menjadi sutradara film untuk konsumsi keluarga terutama setelah memperoleh respon positif dari berbagai kalangan. Dalam film panjangnya yang ke-22 ini, Rudi Soedjarwo kembali ke genre yang melambungkan namanya dalam percaturan perfilman Indonesia. Di sini, sekali lagi, beliau menjadikan lima gadis yang tergabung dalam suatu ‘geng’ sebagai sorotan utama layaknya Ada Apa Dengan Cinta?. Hanya saja, kelima gadis ini telah duduk di bangku kuliah dan persoalan yang mereka hadapi... jauh lebih pelik. Para gadis yang beruntung ketiban peran utama ini pun merupakan wajah-wajah segar yang belum pernah seliweran di layar lebar. Mereka adalah hasil dari penjaringan ‘Clear Hair Model’ yang di perhelatan sebelumnya telah bekerja sama dengan Rudi Soedjarwo dan membuahkan sebuah film televisi. Dan kali ini, memanfaatkan bakat-bakat baru – termasuk penulis naskah debutan, Virra Dewi – hadirlah sebuah film drama romantis dengan balutan fantasi berjudul Langit Ke-7 yang dilempar ke bioskop-bioskop nasional sejak 22 November 2012 silam. 

“Kamu percaya takdir?,” pertanyaan yang diajukan oleh Angel (Maureen Irwinsyah) ini membuat sahabatnya, Dania (Taskya Namya), yang tengah mengalami kebimbangan hati terlonjak untuk kemudian merenunginya. Dia tidak memiliki kuasa untuk mengubah takdir. Satu-satunya jalan adalah berusaha seraya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Kebimbangan yang melanda Dania disebabkan oleh permasalahan klise khas film bergenre drama romantis, cowok. Sang ayah, Sutoro (Pong Hardjatmo), mengidap penyakit yang cukup parah dan khawatir tidak bisa melihat putri semata wayangnya itu melangkahkan kaki di altar sebelum ajal menjemput. Mengingat Dania tidak pernah menggandeng seorang kekasih ke rumahnya, Sutoro pun menjodohkannya dengan putra dari seorang kerabat. Inilah yang menjadi salah satu pemicu ‘kaburnya’ Dania dan keempat sahabatnya ke Pulau Dewata, selain kandasnya hubungan percintaan Visi (Rechelle Lumawas) setelah sang kekasih, Pio (Nikki Frazetta), kepergok tengah bermesraan dengan perempuan lain. Berniat untuk ‘have fun’ dan melepas semua kepenatan dalam hidup, sebuah musibah malah justru menghampiri lima sekawan ini. Dania mengalami koma setelah terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil yang serius. Dan film tentu saja tidak berakhir begitu saja, malahan baru saja dimulai. 

Raga Dania boleh saja terbaring tak berdaya, akan tetapi rohnya berkeliaran kesana kemari. Satu-satunya orang yang beruntung (atau malah justru sial?) bisa melihat roh Dania adalah Denan (Aryadila Yarosairy) yang ternyata oh ternyata adalah pria yang hendak dijodohkan dengan Dania. Nah lho! Sebentar sebentar, apakah Anda merasa familiar dengan plot ini, seorang pria didatangi oleh roh dari seorang wanita yang tengah terbaring koma? Bukankah ini terdengar sangat Just Like Heaven? Tuduhan akan penjiplakan atau kurangnya kreatifitas akan meluncur apabila Anda belum menyaksikan Langit Ke-7 secara utuh. Akan tetapi, dalam kenyataannya, hanya sama dalam ‘template’ semata. Virra Dewi membawanya ke jalan yang sama sekali berbeda. Kesamaan seperti ini bukan lagi sesuatu yang baru dalam dunia sinema. Masih ingatkah Anda dengan film animasi dari Disney yang berjudul The Wild? Bukankah itu memiliki premis yang serupa dengan Madagascar? Dan ini sangat wajar. Film telah berusia lebih dari 100 tahun, maka jika ada kesamaan diantara satu film dengan film lainnya bisa dipahami. Tentu saja selama tidak sama persis atau setidaknya tak mencapai lebih dari 80 %. 

Secara mengejutkan, saya sangat menikmati sajian Rudi Soedjarwo yang terbaru ini. Dengan ekspektasi yang ditekan serendah mungkin, kepuasan berhasil saya dapatkan kala menyaksikan Langit Ke-7. Jangan terlalu menganggap serius apa yang ada di sini. Nikmati saja apa yang tersaji di layar seraya mengunyah berondong jagung dan menyeruput minuman bersoda. Jalinan penceritaan yang digulirkan oleh Virra Dewi mungkin saja terkesan klise dan mudah ditebak, namun masih ada rasa manis di dalamnya. Intensitas emosional cerita pun turut dihadirkan disamping ‘sweetness’ yang menjadi bahan baku utama dari genre ini. Tokoh-tokoh yang dimunculkan pun ‘believable’ dan mengasyikkan, walau tentu saja belum bisa menandingi Cinta dkk. Berkat dukungan iringan musik yang megah dari Andi Rianto beserta lagu ‘Layu Sebelum Berkembang’ yang diaransemen ulang, Rudi Soedjarwo berhasil memunculkan beberapa momen yang menyentuh hati dan membuat mata berkaca-kaca. Perpaduannya dengan ‘sweetness’ dan humor pun melebur sempurna sekalipun terkadang humor dimunculkan terlalu cepat yang membuat ‘touching moment’ sedikit terganggu. 

Selain musik Andi Rianto yang menghanyutkan, bidikan Arief R Pribadi yang memunculkan gambar-gambar indah memanjakan mata turut menjadi salah satu poin yang memperkuat film ini. Para pemain pendatang baru pun sama sekali tak mengecewakan. Saya kagum dengan betapa natural-nya mereka berakting, khususnya Taskya Namya, Maureen Irwinsyah, dan Nikki Frazetta yang menjadi ‘scene stealer’ dari film ini. Dan... Rudi Soedjarwo membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu sutradara terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dia mampu menggubah skrip sederhana buatan Virra Dewi menjadi bahasa gambar yang menarik untuk disimak dan memaksimalkan akting dari para pemain anyar yang terkadang masih sering kagok. Selain itu, product placement – dalam hal ini, Clear – pun patuh kepada jalan cerita dan tidak ditaruh secara serampangan. Di bawah arahan sutradara sekelas Rudi Soedjarwo, Langit Ke-7 pun hadir sebagai film yang manis, ringan, menyenangkan, dan menyentuh dengan tampilan gambar yang menyejukkan mata. Setelah bertahun-tahun tak berurusan dengan kisah romansa, Rudi Soedjarwo masih belum kehilangan sentuhannya. Dia tahu benar bagaimana memerlakukan sebuah film bergenre drama romantis dengan balutan fantasi.

Acceptable 




REVIEW : THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN - PART 2


"I thought we would be safe forever. But "forever" isn't as long as I'd hoped." - Bella

Tidak ada franchise yang beranjak dari novel berseri yang lebih fenomenal ketimbang The Twilight Saga. Bagaimana tidak, dari sejumlah franchise yang mengambil sumber dari karya sastra, hanya kisah percintaan terlarang antara manusia dan vampir ini yang mampu mengumpulkan basis massa dan pembenci dalam jumlah yang sama besarnya. Ketika salah satu seri dilempar ke bioskop, para penggemar dengan segera berbondong-bondong menyesaki bioskop seolah itu adalah satu-satunya hari dimana film tersebut diputar sementara ‘haters’ memenuhi linimasa dengan segala nyinyiran dan cibiran terbaik mereka untuk seri ini. Anda tidak akan menemukan segala kehebohan ini dalam Harry Potter, The Hunger Games, apalagi The Lord of the Rings. Dan, franchise yang fenomenal ini pun telah memasuki edisi terakhirnya dalam The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II. Layaknya seri penutup dari penyihir remaja asal Inggris, seri penutup dari ‘sparkling vampire’ ini pun sejatinya dibuat untuk satu film yang kemudian diputuskan untuk dipecah menjadi dua demi memuaskan hasrat ‘fans’ yang tentunya mengharapkan perlakuan istimewa sebelum berpisah dengan sang idola. Saya sesungguhnya cukup penasaran dengan cara Bill Condon menutup franchise yang jilid terakhirnya ini mengusung tagline yang terbilang berani, ‘the epic finale that will live forever’. Akankah The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II menjadi sebuah penutup yang epik atau malah justru anti-klimaks? 

Melanjutkan dari apa yang berakhir di jilid pertama, Bella Swan (Kristen Stewart) telah bertransformasi menjadi vampir yang memungkinkan dia untuk menjalani kehidupan pernikahan yang ‘happily ever after’ bersama Edward Cullen (Robert Pattinson). Setelah ‘the never ending intercourse’ di film sebelumnya yang sungguh melelahkan, akhirnya penonton mendapatkan sajian konflik yang sesungguhnya di seri pamungkas ini. Putri Bella dan Edward, Renesmee (Mackenzie Foy) mengalami pertumbuhan fisik secara cepat dan tidak wajar. Irina (Maggie Grace), salah satu anggota dari keluarga Denali yang melihat Renesmee kala tengah menikmati udara segar bersama Bella dan Jacob Black (Taylor Lautner), mengira Renesmee adalah ‘anak abadi’. Mengingat ini melanggar hukum vampir yang diciptakan oleh Volturi, maka Irina pun menghadap ke Aro (Michael Sheen) dan melaporkan perbuatan keluarga Cullen. Mengetahui bahwa Volturi segera menyerang Cullen berdasarkan penglihatan dari Alice (Ashley Greene), maka Carlisle (Peter Facinelli) pun mengutus keluarganya mengumpulkan kerabat-kerabat mereka dari seluruh dunia untuk bersaksi di depan Volturi bahwa Renesmee bukanlah ‘anak abadi’. 

Dengan mudah saya bisa mengatakan kepada Anda bahwa Breaking Dawn Part II adalah seri terbaik dari The Twilight Saga. Memang tidak sampai dalam tahapan mengagumkan atau epik seperti yang saya harapkan, akan tetapi Bill Condon mampu menghantarkan franchise ini ke sebuah penutup yang layak. Dengan garis konflik yang tidak lagi bercabang dan cenderung fokus kepada nasib Renesmee, Melissa Rosenberg mampu menata jalinan kisah dengan lebih rapi. Bahkan, untuk sekali ini, berani membelokkan cerita dengan suntikan ‘twist’ pada klimaks yang terbilang cukup mencengangkan. Penonton bersorak sorai antara terkejut, senang, atau bahkan kecewa setelah apa yang sesungguhnya terjadi terungkap. Keberanian dalam menyuguhkan ‘twist’ dan sedikit melenceng dari sumber asli ini menjadi kekuatan utama dari film ini. Baik Condon maupun Rosenberg menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menyuguhkan penutup yang sempurna apabila tetap berpegang teguh kepada tulisan Stephenie Meyer dan mempertontonkan kemesraan yang tiada berkesudahan. 

Meski demikian, Breaking Dawn Part II tidak lantas berakhir tanpa meninggalkan kekurangan. Produk ini masih tetap jauh dari kata sempurna. Untuk mencapai sebuah klimaks yang menggetarkan, penonton kudu melalui paruh awal yang... ya, Anda tahu sendiri, sangat The Twilight Saga. Romantisme berlebihan digeber sedemikian rupa di menit-menit awal. Beruntung dosisnya tidak setinggi empat film pertama. Alur pun melaju dengan sangat perlahan, demi memastikan tidak ada bagian penting yang terlewatkan untuk fans. Di paruh ini Anda akan menyaksikan bagaimana Bella berusaha untuk menyesuaikan diri dengan wujud barunya, Charlie Swan (Billy Burke) yang kebingungan melihat Bella, serta sedikit letupan konflik seusai Bella mengetahui bahwa Jacob meng-‘imprint’ Renesmee. Untuk mengurangi rasa bosan, maka humor dan sinematografi indah – walau tak sekuat bagian pertama, dijadikan sebagai penawar. Sayangnya, hal itu tidak membantu banyak. Kesalahan bisa dialamatkan kepada trio Kristen Stewart, Robert Pattinson, dan Taylor Lautner yang hingga film kelima ini masih saja tidak berkembang. Tanpa ekspresi dan tanpa chemistry. Hambar. Untungnya dukungan dari supporting cast – khususnya Michael Sheen yang tampil brilian sebagai Aro – sedikit banyak membantu film dari keterpurukan. 

Setelah awal yang melelahkan dan berpanjang-panjang, secara perlahan eskalasi tensi yang diharapkan oleh penonton sejak menit pertama pun dimunculkan. Bill Condon turut mendengarkan permintaan dari ‘non-fans’. Volturi yang belum sempat unjuk gigi akhirnya memeroleh kesempatan untuk ‘show off’. Breaking Dawn Part II hadir lebih gelap dari jilid sebelumnya dengan adanya kematian, mayat-mayat bergelimpangan, kepala yang terlepas dari tubuh, dan tentunya darah. Sebagian besar adalah hasil ‘kerja keras’ dari Volturi. Ketegangan mencapai puncaknya setelah pertempuran akbar antara pasukan Volturi dan pasukan Cullen dimulai. Seperti yang telah saya sebutkan di dua paragraf sebelum ini, kehadiran ‘twist’ turut menyelamatkan film secara keseluruhan walau efek khusus yang memprihatinkan – terutama penggambaran ‘werewolf’ yang masih saja tidak meyakinkan walau telah diberi suntikan dana berlimpah – cukup mengganggu kenikmatan menonton selain chemistry hambar antara tiga pemain utama dan romantisme yang menggelikan. 

Well, pada akhirnya, apakah saya akan mengatakan bahwa The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II adalah sebuah penutup yang epik? Hmmm... Terlalu berlebihan jika saya menyebutnya epik, saya cukup mengatakan bahwa ini adalah seri terbaik dari franchise ini. Tentu saja tidak sempurna, namun yang jelas, dapat dinikmati dan tidak membuat saya ingin menggantung diri di dalam gedung bioskop atau mencakar muka Bella yang biasanya saya alami kala menyaksikan The Twilight Saga. Bill Condon memang belum mampu memerbaiki kesalahan utama franchise ini yang berkisar pada efek khusus maupun chemistry antar pemain, akan tetapi dia telah berhasil menyuguhkan sebuah perpisahan yang tidak memalukan dengan jalinan penceritaan yang lebih baik, sinematografi yang cantik, dan adegan pertarungan berbalut twist yang cukup mencengangkan. Dan jika Anda bertanya bagaimana dengan deretan lagu yang mengisi album soundtrack-nya? Seperti biasa, jauh mengungguli filmnya. Fans akan keluar dari gedung bioskop dengan senyum terlebar yang pernah mereka tunjukkan kepada dunia, pecinta film akan berdiskusi soal film ini dengan teman atau meng-update status ‘not bad lah’, sementara haters... will always hate.

Note : Kala credit title mulai bergulir, semua tokoh dari Twilight hingga Breaking Dawn Part II dimunculkan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah bersedia menjadi bagian dari keluarga franchise ini. 

Acceptable